Oleh: Udin Msu
A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani
Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Socrates, Plato, dan Aristoteles yang melihat kelompok sophis memperjual-belikan ilmu dengan murah meriah. Menukar ilmu dengan kepentingan, jabatan, uang, dan tidak jarang dari hasil didikan mereka, lahirlah politisi yang hanya pandai bersilat lidah di Yunani.
Siapa yang tak kenal Pyhro di jagad filsafat, salah satu kelompok shopis masyhur. Pyrho terkenal dengan pernyataan ketidakmungkinan manusia memiliki “pengetahuan dan mencapai kebenaran.” Mula-mula Pyrho melemparkan pertanyaan “Apa alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan ? alat pengetahuan manusia menurutnya terdiri dari indra dan rasio. Indra hanya menipu manusia, menyebabkan banyak kesalahan seperti indra penglihat, perasa, peraba, pencium. Misalnya, ketika seseorang melihat pena di dalam gelas cembung berisi air seolah-olah bengkok, namun nyatanya lurus. Sedangkan rasio tidak jauh dengan indra yang banyak menimbulkan kesalahan. Karena ada banyak argumentasi, teori para ilmuwan yang salah.” Apabila alat untuk mendapat pengetahuan saja salah. Dapat dipastikan manusia tidak akan mampu memiliki pengetahuan, apalagi mencapai kebenaran.
Dari pernyataan Pyrho, terlihat ciri-ciri
kelompok shopis. Yang meyakini bahwa manusia tidak mampu memiliki pengetahuan,
apalagi mencapai kebenaran. Ciri lain
dari kelompok sophis ini, mereka pintar melakukan akrobat pemikiran dengan
berbagai cara. Lihai bermain kata, menebar ragu, menabur kebimbangan, dan
menyulap pikiran siapapun yang mendengarkan, agar percaya Bagi kelompok shopis,
tidak ada kebenaran mutlak. Dan semua hanyalah gugusan kebenaran relatifitas-subjektifitas.
Tidak ada ukuran objektif yang dapat menjadi standar umum. Semua tergantung
pada cara pandang masing-masing. Ilmu kelompok sophis, njelala (nnyatanya) bukan malah membawa kebahagiaan, malah berujung
pada kerusuhan, kekacauan. Salah satu sebabnya ialah definisi yang digunakan
kelompok shopis tidak pasti dan makna
yang tidak jelas ketika berdiskusi.
Alias mendefinsikan semau-maunya sendiri.
Usut punya usut, kaum sophis terus hidup dari zaman ke zaman. Walau jasad kaum sophis pergi. Sifatnya tetap ada pada diri siapa saja yang mencirikan kaum sophis seperti penjelasan sebelumnya. Lebih-lebih sekarang eranya pemuja gawai, generasi modern-khayali, dan budaya mie instan. Sedikit banyak mengidap kegandrungan kepada para kelompok sophis. Suburnya asongan intelektual, dekat dengan kekuasaan agar mesra bersama para politisi. Untuk mendapat apa yang diingini. Tidak percaya lihat saja cetakan pendidikan hasil dunia kampus. walaupun tidak sepenuhnya, selalu ada penerus sang sayid Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Saat masyarakat Yunani mengandrungi profesi hakim dan cendekia, rating kelompok sophis semakin meningkat pesat. Namun tak lama kemudian, sang syahid Socrates yang melihat kejadian aneh bin nyeleh (tidak benar), itu mengajak kelompok sophis sparing (tanding) diskusi. Socrates menyodorkan kalimat pamungkas “Define your terms” dalam bahasa arab”Haddiddu Alfazhakum ! (aritnya perjelaslah kata-yang kalian gunakan). Kelompok shopis diam, gemetar mendengarkan kalimat pamugnkas Socrates. Rasanya kaum shopis telah dipukul telak. Karena mereka telah mendapati kelemahannya. Tidak ada ukuran definisi pasti yang mereka gunakan dalam diskusi. Parahnya motif kelompok shopis mulai terendus mereka menggunakan ilmu hanya untuk menjatuhkan lawan.
Perjuangan Sang Syahid Socrates diteruskan oleh Plato, dan berlanjut kepada Aristoteles. Arisoteles adalah tokoh yang merumuskan dengan runtut jurus yang digunakan oleh leluhurnya tadi, Socrates. Dan dikenal dengan ilmu logika. Tidak sedikitpun ada keraguan akan kecendekiawanan Aristoteles, Jumhur (kebanyakan) sarjana telah mengakuinya.
Kelahiran ilmu logika dari Yunani, dari runtutan peristiwa; rangkaian sanad ilmu. Beberapa sumber lain memberikan informasi berbeda. Sebelum Logika dikenal di Yunani ilmu tersebut sudah ada di peradaban timur seperti Mesir, Cina, India, dan Persia. Artikel yang ditulis Mas Zaim Ahya, mengutip kitab berjudul “Nadzam as Sulamul Munauroq fil Mantiq Terjemah-ipun al-Faqir Kiai Bisri Mustofa Rembang” dengan huruf Arab dan Arab pegon.” karya Kyai Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Gus Mus, berpendapat bahwa dasar-dasar Ilmu Mantiq sudah ada sejak Luqman Hakim atau Nabi Dawud as, kemudian turun temurun sampai ke para filusuf Yunani.
B. Sebab Musabab Kehadiran Ilmu Logika dalam Islam
Ilmu Logika atau mantiq ini banyak diingini para pembesar, salah satunya khalifah Al-Ma’mun. Khalifah Abasiyah yang mencintai ilmu. Berawal dari mimpi, Al-Ma’mun bertemu dengan Aristoteles, kemudian berdialog :
“Siapakah anda?” Dia menjawab : “Aku Aristo (Aristoteles). Aku senang. Lalu aku berkata:”Wahai sang bijak bestari; “Apakah aku boleh bertanya? Dia menjawab : “Silakan”. Apakah baik itu?”.Dia menjawab : “Apa yang dipandang baik oleh akal”. Lalu? “Apa yang dipandang baik oleh aturan agama.”
Semenjak mimpi itu Al-Makmun sebagai khalifah Abasiyah. Menyuruh para ahli ilmu untuk menerjemahkan karya-karya Yunani. Al-Ma’mun juga membangun “Bait Al-Hikmah” perpustakaan umum. Berfungsi sebagai Laboratoroum dan observatorium intelektual berisikan buku, arsip, dan harta karun pengetahuan lainnya. Memang pada saat kepemimpinan Khlaifah Al-Ma’mun Islam mengalami perkembangan pesat era golden age (massa keemasan). Terlepas dari sejarah politik antara khalifah dan Al-Ma’mun yang memiliki kecendrungan terhadap Mu’tazilah.
Kehadiran ilmu mantiq atau logika dalam kebudayaan Islam begitu ramai disambut ada: yang menerima dan menolak. Penerimaan ilmu mantiq terlihat dari respon para ilmuwan islam yang menyaring, merevisi, mendalami, kemudian mengembangkan. Bentuk asli ilmu mantiq atau logika telah berbeda ditangan para ahli ilmuwan Islam. Diantaranya tokoh yang menerima ilmu mantiq dan berperan besar ialah: Ibn Arabi , Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Menurut Imam Al-Ghazali “Siapa yang tidak memahami ilmu mantiq, ilmunya perlu diragukan.” Ilmu Mantiq dapat dielaborasi dengan ilmu-ilmu lainnya: Kalam, filsafat, balaghah, Ushul Fiqh, Fiqh, dan terlebih sosial-politik. Ilmu mantiq adalah pintu awal menuju ilmu-ilmu lainnya
Pemandangan yang nampak megah dalam dinamika kebudayaan Islam berhubungan dengan Ilmu Mantiq. Terlihat dari penerimaan dari kalangan lintas mazhab besar Islam yakni mazhab Syiah dan Mazhab Sunni seperti Nashirudin Thusi, Mulla Sadra (Syiah), dan Fakrudin Razi, dan Taqiyudin As-subki (Sunni). Ilmu mantiq atau logika juga membuka jalan lintas agama. Ishaq Ibn Hunain (The great translator atau Syekh para penerjemah) adalah seorang Nasrani yang berperan besar memperjuangkan kemajuan ilmu pengetahuan Islam. Abu Bisyr Matta Ibn Yunus seorang filsuf kristen merupakan guru dari Al-Farabi yang berkontirbusi besar membawa karya Aristoteles ke dunia Islam. Adanya lintas hubungan dalam hal keilmuan. Mulai dari lintas mazhab hingga lintas agama. Menegaskan sebagaimana Sabda Rasullullah Saw, ““Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” Islam adalah nilai, ilmu dan tatanan agung peradaban.
Penolakan ilmu mantiq umumnya dikenal beberapa nama, Ibnu Salah, Imam Nawai, Ibn Taimyah, Imam As Sirafi. Menurut Imam Nawai dan Ibnu salah mempelajari ilmu mantiq haram hukumnya. Karena dapat melemahkan aqidah. Ilmu mantiq menurut Imam Nawawi dan Ibn Sholah berhubungan erat dengan Mu’tazilah yang dapat merusak aqidah. Pertimbangan mempelajari ilmu mantiq terbagi tiga:
1. Kelompok Ulama yang menyatakan haram seperti Imam Nawawi
dan Ibnu Salah.
2. Kelompok Ulama yang berpendapat sunnah seperti Imam
Al-Ghazali. Pendapat ini juga sampai mencapai fardu kifayah.
3. Kelompok Ulama yang memperbolehkan asal mempunyai
kemantapan aqidah, mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah.
Pertimbangan penolakan dan penerimaan
mempelajari ilmu mantiq, tidak lepas dari kondisi yang terjadi pada saat itu.
Tiap hukum yang yang ditetapkan para Ulama selalu mengandung sebab-akibat,
keterkaitan ruang-waktu. Dan tidak berlaku secara mutlak
C. Dinamika Ilmu Logika di Eropa
Ilmu logika di eropa pernah berjaya pada masa skolastik. Dan mengalami kemerosotan karena perbedaan dalam memahami logika. Beberapa tokoh pada abad pencerahan Francis Bacon dan Rene Descartes menolak logika aristotelian (logika deduksi) karena tidak memberikan kontribusi guna menghasilkan pengetahuan baru. Sehingga keduanya mengajukan logika induksi dengan pendekatan saintifik yang saat ini banyak digandrungi dalam metode ilmu pengetahuan “sains.”
Penolakan logika aristotelian beralih kepada logika induksi. Menjadi permasalahan baru yang menarik untuk dijelajahi. Karena dalam logika aristotelian mengandung prinsip keniscayaan. Kesimpulan yang bersandar pada ketetapan berdasarkan kaidah rasional. Logika induksi mengacu pada prinsip empiris. Yang terkadang menyalahi prinsip yang dianut dengan isitlah generalisasi. Penyimpulan berdasarkan malu-malu kucing karena menggunakan kaidah rasional.
Selang perkembangan Ilmu Logika di Eropa kemudian, dimodifikasi sebagai logika modern atau logika matematis yang dikembangkan oleh,G. Fregee. Dan dilanjutkan oleh White Head serta Berntrand Russel.
D. Menerima atau Menolak Ilmu Logika
Kilas
potret ringkas kehadiran ilmu mantiq atau logika, mulai dari Yunani, Islam dan
Eropa. Memberikan penjelasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengambil
sikap. Bagaimana menerima atau menolak ilmu mantiq. Dengan
pertimbangan—pertimbangan yang mandiri.
Ilmu mantiq berkaitan erat dengan upaya memperbaiki daya pikir atau nalar. Sebelum melakukan pembacaan, analisis, perenungan. Kualitas daya pikir atau nalar sangat menentukan setiap pengetahuan, informasi yang masuk untuk diolah. Terutama salah satunya kualitas manusia dinilai berdasarkan kedalaman dan keluasan pikiran. Ilmu mantiq membuat manusia memperbaiki tatanan pikiran dan menyempurnakan nalar.
Keunggulan daya pikir atau nalar daripada indra manusia. Meliputi berbagai keutamaan: pertama, daya pikir mampu melihat objek secara utuh sedangkan indra hanya perbagian saja. Indra melihat objek dengan natural. Kedua, daya pikir atau nalar mampu menyimpulkan sesuatu kejadian yang belum terjadi dengan prediksi. Ketiga, daya pikir atau nalar mampu menyimpan, mengingat, merekam, mengkategori objek yang sudah tidak terlihat. Keempat, daya pikir atau nalar mampu menyingkap tanda dibalik objek, kejadian yang kasat. Kelima, daya pikir atau nalar tidak terhalangi oleh jarak pandang terhadap objek yang dekat ataupun jauh. Dan lain sebagainnya. Dengan menerima bahkan mempelajari ilmu mantiq, daya pikir atau nalar manusia mengalami perkembangan yang mampu menghidupkan potensi yang terpendam. Semacam gerak subtanstif yang terjadi pada mental.
Saat
ini masih banyak generasi yang mewarisi sifat-sifat kaum shopis layaknya
asongan intelektual memperjual belikan ilmu. Yang mestinya tidak dilakukan oleh
penuntut ilmu dan ahli ilmu. Asongan intelektual ini menyebar dimana-mana di
pangung akademisi, berdampingan mesra dengan para politisi, dan penganjur agama
yang salah kaprah. Dengan itu, Ilmu mantiq masih dibutuhkan untuk menghadapi
para pewaris kaum sohpis tersebut.
Gelombang
tsunami informasi menyebabkan masyarakat bingung memilah, memilih cenderung
mengakibatkan sikap latah lebih cepat mempercayai dan menghakimi. Tidak ada
jalan lain selain kembali membumikan ilmu mantiq sebagai metodologi yang kokoh
dan salah satu tradisi pendidikan yang hidup di masyarakat. Agar masyarakat
tetap menjaga kewarasan ditengah kepungan (kerumunan) orang-orang yang diet
otak. Dan tidak cepat mempercayai kepada orang-orang yang bukan ahli ilmu jauh
dari tindakan-tindakan yang mencerminkan pertangung jawaban keilmuan. Terlebih
ilmu mantiq murni ilmu alat yang tidak terikat dengan ideologi manapun. Dia
ibarat pisau yang dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan.
Terkhusus
bagi umat Islam Indonesia yang acap kali mendengar teriakan nyaring
traktir-traktir (kata takbir yang disalah pahami dan digunakan) diajak untuk
kembali pada Al-Quran dan hadits. Mau untuk lebih dahulu memikiran;
sering-sering merenungkan dengan pikiran jernih dan hati yang bersih. Agar emosi
tidak mendahului pikirannya (tanpa bermaksud menyingung golongan manapun).
Karena masyarakat yang diajak kembali bingung dengan apa dan jalan yang mana
mereka kembali. sedangkan Al-Quran dan hadits khazanah mulia Islam. Dan
memerlukan kualitas mumpuni pastinya. Sedangkan untuk kembali kepada Al-Quran
dan Hadits, Islam mempunyai warisan
kekayaan khazanah ilmu bermacam-macam: Logika, Ilmu. Filsafat, Tasawuf, Irfan,
Balaghah, Tafsir, Ta’wil, dan lain sebagainya. Yang dapat memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan daya pikir untuk mengakwinkannya dengan khazanah mulia
Islam berupa Al-Quran dan hadits. Agar tidak menafsirkan berdasarkan
kepentingan golongan tertentu.
Menukil dari gudangnya ilmu Sayidina Ali karramallahu wajhah kita dianugrahi ilmu dan musuh kita diberi harta dan kekayaan.
Masihkah
ada ragu; menerima terlebih mau mempelajari ilmu mantiq atau logika. Ataupun lebih memilih menolaknya ? semua itu kembali
kepada sidang pembaca, syukur-syukur kalau mungkin berkenan merenungkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar