Selasa, 20 April 2021

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa


Oleh: Udin Msu

A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani

Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Socrates, Plato, dan Aristoteles yang melihat kelompok sophis memperjual-belikan ilmu dengan murah meriah. Menukar ilmu dengan kepentingan, jabatan, uang, dan tidak jarang dari hasil didikan mereka, lahirlah politisi yang hanya pandai bersilat lidah di Yunani.

Siapa yang tak kenal Pyhro di jagad filsafat, salah satu kelompok shopis masyhur. Pyrho terkenal dengan pernyataan ketidakmungkinan manusia memiliki “pengetahuan dan mencapai kebenaran.” Mula-mula Pyrho melemparkan pertanyaan “Apa alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan ? alat pengetahuan manusia menurutnya terdiri dari indra dan rasio. Indra hanya menipu manusia, menyebabkan banyak kesalahan seperti indra penglihat, perasa, peraba, pencium. Misalnya, ketika seseorang melihat pena di dalam gelas cembung berisi air seolah-olah bengkok, namun nyatanya lurus. Sedangkan rasio tidak jauh dengan indra yang banyak menimbulkan kesalahan. Karena ada banyak argumentasi, teori para ilmuwan yang salah.” Apabila alat untuk mendapat pengetahuan saja salah. Dapat dipastikan manusia tidak akan mampu memiliki pengetahuan, apalagi mencapai kebenaran.

Dari pernyataan Pyrho, terlihat ciri-ciri kelompok shopis. Yang meyakini bahwa manusia tidak mampu memiliki pengetahuan, apalagi mencapai  kebenaran. Ciri lain dari kelompok sophis ini, mereka pintar melakukan akrobat pemikiran dengan berbagai cara. Lihai bermain kata, menebar ragu, menabur kebimbangan, dan menyulap pikiran siapapun yang mendengarkan, agar percaya Bagi kelompok shopis, tidak ada kebenaran mutlak. Dan semua hanyalah gugusan kebenaran relatifitas-subjektifitas. Tidak ada ukuran objektif yang dapat menjadi standar umum. Semua tergantung pada cara pandang masing-masing. Ilmu kelompok sophis, njelala (nnyatanya) bukan malah membawa kebahagiaan, malah berujung pada kerusuhan, kekacauan. Salah satu sebabnya ialah definisi yang digunakan kelompok shopis tidak  pasti dan makna yang tidak jelas ketika  berdiskusi. Alias mendefinsikan semau-maunya sendiri.

Usut punya usut, kaum sophis terus hidup dari zaman ke zaman. Walau jasad kaum sophis pergi. Sifatnya tetap ada pada diri siapa saja yang mencirikan kaum sophis seperti penjelasan sebelumnya. Lebih-lebih sekarang eranya pemuja gawai, generasi modern-khayali, dan budaya mie instan. Sedikit banyak mengidap kegandrungan kepada para kelompok sophis. Suburnya asongan intelektual, dekat dengan kekuasaan agar mesra bersama para politisi. Untuk mendapat apa yang diingini. Tidak percaya lihat saja cetakan pendidikan hasil dunia kampus. walaupun tidak sepenuhnya, selalu ada penerus sang sayid Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Saat masyarakat Yunani mengandrungi profesi hakim dan cendekia, rating kelompok sophis semakin meningkat pesat. Namun tak lama kemudian, sang syahid Socrates yang melihat kejadian aneh bin nyeleh (tidak benar), itu mengajak kelompok sophis sparing (tanding) diskusi. Socrates menyodorkan kalimat pamungkas “Define your terms” dalam bahasa arab”Haddiddu Alfazhakum ! (aritnya perjelaslah kata-yang kalian gunakan). Kelompok shopis diam, gemetar mendengarkan kalimat pamugnkas Socrates. Rasanya kaum shopis telah dipukul telak. Karena mereka telah mendapati kelemahannya. Tidak ada ukuran definisi pasti yang mereka gunakan dalam diskusi. Parahnya motif kelompok shopis mulai terendus mereka menggunakan ilmu hanya untuk menjatuhkan lawan.

Perjuangan Sang Syahid Socrates diteruskan oleh Plato, dan berlanjut kepada Aristoteles. Arisoteles adalah tokoh yang merumuskan dengan runtut jurus yang digunakan oleh leluhurnya tadi, Socrates. Dan dikenal dengan ilmu logika. Tidak sedikitpun ada keraguan akan kecendekiawanan Aristoteles, Jumhur (kebanyakan) sarjana telah mengakuinya.

Kelahiran ilmu logika dari Yunani, dari runtutan peristiwa; rangkaian sanad ilmu. Beberapa sumber lain memberikan informasi berbeda. Sebelum Logika dikenal di Yunani ilmu tersebut sudah ada di peradaban timur seperti Mesir, Cina, India, dan Persia. Artikel yang ditulis Mas Zaim Ahya, mengutip kitab berjudul “Nadzam as Sulamul Munauroq  fil Mantiq Terjemah-ipun al-Faqir Kiai Bisri Mustofa Rembang” dengan huruf Arab dan Arab pegon.” karya Kyai Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil  Gus Mus, berpendapat bahwa dasar-dasar Ilmu Mantiq sudah ada sejak Luqman Hakim atau Nabi Dawud as, kemudian turun temurun sampai ke para filusuf Yunani.

B. Sebab Musabab Kehadiran Ilmu Logika dalam Islam

Ilmu Logika atau mantiq ini banyak diingini para pembesar, salah satunya khalifah Al-Ma’mun. Khalifah Abasiyah yang mencintai ilmu. Berawal dari mimpi, Al-Ma’mun bertemu dengan Aristoteles, kemudian berdialog :

“Siapakah anda?” Dia menjawab : “Aku Aristo (Aristoteles). Aku senang. Lalu aku berkata:”Wahai sang bijak bestari; “Apakah aku boleh bertanya? Dia menjawab : “Silakan”. Apakah baik itu?”.Dia menjawab : “Apa yang dipandang baik oleh akal”. Lalu? “Apa yang dipandang baik oleh aturan agama.”

Semenjak mimpi itu Al-Makmun sebagai khalifah Abasiyah. Menyuruh para ahli ilmu untuk menerjemahkan karya-karya Yunani. Al-Ma’mun juga membangun “Bait Al-Hikmah” perpustakaan umum. Berfungsi sebagai Laboratoroum dan observatorium intelektual berisikan buku, arsip, dan harta karun pengetahuan lainnya. Memang pada saat kepemimpinan Khlaifah Al-Ma’mun Islam mengalami perkembangan pesat era golden age (massa keemasan). Terlepas dari sejarah politik antara khalifah dan Al-Ma’mun yang memiliki kecendrungan terhadap Mu’tazilah.

Kehadiran ilmu mantiq atau logika dalam kebudayaan Islam begitu ramai disambut ada: yang menerima dan menolak. Penerimaan ilmu mantiq terlihat dari respon para ilmuwan islam yang  menyaring, merevisi, mendalami, kemudian mengembangkan. Bentuk asli ilmu mantiq atau logika telah berbeda ditangan para ahli ilmuwan Islam. Diantaranya tokoh yang menerima ilmu mantiq dan berperan besar ialah: Ibn Arabi  , Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Menurut Imam Al-Ghazali “Siapa yang tidak memahami ilmu mantiq, ilmunya perlu diragukan.” Ilmu Mantiq dapat dielaborasi dengan ilmu-ilmu lainnya: Kalam, filsafat, balaghah, Ushul Fiqh, Fiqh, dan terlebih sosial-politik. Ilmu mantiq adalah pintu awal menuju ilmu-ilmu lainnya

Pemandangan yang nampak megah dalam dinamika kebudayaan Islam berhubungan dengan Ilmu Mantiq. Terlihat dari penerimaan dari kalangan lintas mazhab besar Islam yakni mazhab Syiah dan Mazhab Sunni seperti Nashirudin Thusi, Mulla Sadra (Syiah), dan Fakrudin Razi, dan Taqiyudin As-subki (Sunni). Ilmu mantiq atau logika juga membuka jalan lintas agama. Ishaq Ibn Hunain (The great translator atau Syekh para penerjemah) adalah seorang Nasrani yang berperan besar memperjuangkan kemajuan ilmu pengetahuan Islam. Abu Bisyr Matta Ibn Yunus seorang filsuf kristen merupakan guru dari Al-Farabi yang berkontirbusi besar membawa karya Aristoteles ke dunia Islam.   Adanya lintas hubungan dalam hal keilmuan. Mulai dari lintas mazhab hingga lintas agama. Menegaskan sebagaimana Sabda Rasullullah Saw, ““Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” Islam adalah nilai, ilmu dan tatanan agung peradaban.

Penolakan ilmu mantiq umumnya dikenal beberapa nama, Ibnu Salah, Imam Nawai, Ibn Taimyah, Imam As Sirafi. Menurut Imam Nawai dan Ibnu salah mempelajari ilmu mantiq haram hukumnya. Karena dapat melemahkan aqidah. Ilmu mantiq menurut Imam Nawawi dan Ibn Sholah berhubungan erat dengan  Mu’tazilah yang dapat merusak aqidah.  Pertimbangan mempelajari ilmu mantiq terbagi tiga:

1.     Kelompok Ulama yang menyatakan haram seperti Imam Nawawi dan Ibnu Salah.

2.   Kelompok Ulama yang berpendapat sunnah seperti Imam Al-Ghazali. Pendapat ini juga sampai mencapai fardu kifayah.

3.  Kelompok Ulama yang memperbolehkan asal mempunyai kemantapan aqidah, mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah.

Pertimbangan penolakan dan penerimaan mempelajari ilmu mantiq, tidak lepas dari kondisi yang terjadi pada saat itu. Tiap hukum yang yang ditetapkan para Ulama selalu mengandung sebab-akibat, keterkaitan ruang-waktu. Dan tidak berlaku secara mutlak

C. Dinamika Ilmu Logika di Eropa

Ilmu logika di eropa pernah berjaya pada masa skolastik. Dan mengalami kemerosotan karena perbedaan dalam memahami logika. Beberapa tokoh pada abad pencerahan Francis Bacon dan Rene Descartes menolak logika aristotelian (logika deduksi) karena tidak memberikan kontribusi guna menghasilkan pengetahuan baru. Sehingga keduanya mengajukan logika induksi dengan pendekatan saintifik yang saat ini banyak digandrungi dalam metode ilmu pengetahuan “sains.”

Penolakan logika aristotelian beralih kepada logika induksi. Menjadi permasalahan baru yang menarik untuk dijelajahi. Karena dalam logika aristotelian mengandung prinsip keniscayaan. Kesimpulan yang bersandar pada ketetapan berdasarkan kaidah rasional. Logika induksi mengacu pada prinsip empiris. Yang terkadang menyalahi prinsip yang dianut dengan isitlah generalisasi. Penyimpulan berdasarkan malu-malu kucing karena menggunakan kaidah rasional.

Selang perkembangan Ilmu Logika di Eropa kemudian, dimodifikasi sebagai logika modern atau  logika matematis yang dikembangkan oleh,G. Fregee. Dan dilanjutkan oleh White Head serta Berntrand Russel. 

D. Menerima atau Menolak Ilmu Logika

Kilas potret ringkas kehadiran ilmu mantiq atau logika, mulai dari Yunani, Islam dan Eropa. Memberikan penjelasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengambil sikap. Bagaimana menerima atau menolak ilmu mantiq. Dengan pertimbangan—pertimbangan yang mandiri.

Ilmu mantiq  berkaitan erat dengan upaya memperbaiki daya pikir atau nalar. Sebelum melakukan pembacaan, analisis, perenungan. Kualitas daya pikir atau nalar sangat menentukan setiap pengetahuan, informasi yang masuk untuk diolah. Terutama salah satunya kualitas manusia dinilai berdasarkan kedalaman dan keluasan pikiran. Ilmu mantiq membuat manusia memperbaiki tatanan pikiran dan menyempurnakan nalar.

Keunggulan daya pikir atau nalar daripada indra manusia. Meliputi berbagai keutamaan: pertama, daya pikir mampu melihat objek secara utuh sedangkan indra hanya perbagian saja. Indra melihat objek dengan natural. Kedua, daya pikir atau nalar mampu menyimpulkan sesuatu kejadian yang belum terjadi dengan prediksi. Ketiga, daya pikir atau nalar mampu menyimpan, mengingat, merekam, mengkategori objek yang sudah tidak terlihat. Keempat, daya pikir atau nalar mampu menyingkap tanda dibalik objek, kejadian yang kasat. Kelima, daya pikir atau nalar tidak terhalangi oleh jarak pandang terhadap objek yang dekat ataupun jauh. Dan lain sebagainnya. Dengan menerima bahkan mempelajari ilmu mantiq, daya pikir atau nalar manusia mengalami perkembangan yang mampu menghidupkan potensi yang terpendam. Semacam gerak subtanstif yang terjadi pada mental.

Saat ini masih banyak generasi yang mewarisi sifat-sifat kaum shopis layaknya asongan intelektual memperjual belikan ilmu. Yang mestinya tidak dilakukan oleh penuntut ilmu dan ahli ilmu. Asongan intelektual ini menyebar dimana-mana di pangung akademisi, berdampingan mesra dengan para politisi, dan penganjur agama yang salah kaprah. Dengan itu, Ilmu mantiq masih dibutuhkan untuk menghadapi para pewaris kaum sohpis tersebut.

Gelombang tsunami informasi menyebabkan masyarakat bingung memilah, memilih cenderung mengakibatkan sikap latah lebih cepat mempercayai dan menghakimi. Tidak ada jalan lain selain kembali membumikan ilmu mantiq sebagai metodologi yang kokoh dan salah satu tradisi pendidikan yang hidup di masyarakat. Agar masyarakat tetap menjaga kewarasan ditengah kepungan (kerumunan) orang-orang yang diet otak. Dan tidak cepat mempercayai kepada orang-orang yang bukan ahli ilmu jauh dari tindakan-tindakan yang mencerminkan pertangung jawaban keilmuan. Terlebih ilmu mantiq murni ilmu alat yang tidak terikat dengan ideologi manapun. Dia ibarat pisau yang dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan.

Terkhusus bagi umat Islam Indonesia yang acap kali mendengar teriakan nyaring traktir-traktir (kata takbir yang disalah pahami dan digunakan) diajak untuk kembali pada Al-Quran dan hadits. Mau untuk lebih dahulu memikiran; sering-sering merenungkan dengan pikiran jernih dan hati yang bersih. Agar emosi tidak mendahului pikirannya (tanpa bermaksud menyingung golongan manapun). Karena masyarakat yang diajak kembali bingung dengan apa dan jalan yang mana mereka kembali. sedangkan Al-Quran dan hadits khazanah mulia Islam. Dan memerlukan kualitas mumpuni pastinya. Sedangkan untuk kembali kepada Al-Quran dan Hadits,  Islam mempunyai warisan kekayaan khazanah ilmu bermacam-macam: Logika, Ilmu. Filsafat, Tasawuf, Irfan, Balaghah, Tafsir, Ta’wil, dan lain sebagainya. Yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daya pikir untuk mengakwinkannya dengan khazanah mulia Islam berupa Al-Quran dan hadits. Agar tidak menafsirkan berdasarkan kepentingan golongan tertentu.

Menukil dari gudangnya ilmu Sayidina Ali karramallahu wajhah kita dianugrahi ilmu dan musuh kita diberi harta dan kekayaan.

Masihkah ada ragu; menerima terlebih mau mempelajari ilmu mantiq atau logika. Ataupun lebih memilih menolaknya ? semua itu kembali kepada sidang pembaca, syukur-syukur kalau mungkin berkenan merenungkan.

 


Minggu, 18 April 2021

Hubungan Kata dengan Logika

 

Oleh : Udin Msu

Hubungan kata dengan logika begitu erat, berjalan berkelindan beriringan, dan saling mengisi. Logika memberi makna kepada kata. Sedangkan kata membantu logika menyampaikan makna. Logika tanpa kata hanya sebatas makna di dalam kepala. Kata tanpa logika hanya sekedar bualan tanpa makna.

Misalnya, seorang politisi yang mengumbar janji pada saat kampanye, perempuan yang berbicara kepada pasangannya, terkadang kata-kata yang diucapkan tidak punya makna, bahkan sering kali kata-kata yang tanpa makna itu juga mengingkari ucapannya sendiri. Dan membuat pasanganya terluka. Agar mudah memahami hubungan kata dan logika terkait contoh sebelumnya, lirik lagu “Relung Hati,” di bawah ini dapat memberikan kemudahan untuk memahaminya.

            Perlu kita renungkan arti kesetiaan

Mungkinkah kau resapi dengan kejujuran

Karena semestinya kata kata cerminkan jiwa

Jangan coba engkau katakan lagi

Janji janji yang kadang kau ingkari

Sekarang saatnya engkau berhenti

Melukai relung hati

Lirik lagu relung hati “kata-kata semesitnya cerminkan jiwa” adalah salah satu contoh yang mengharuskan adanya makna pada suatu kata. Namun jika tidak, kata-kata itu hanya akan membuat luka pada beberapa orang yang mendengarnya terlebih orang yang pernah berharap dan mendengarkan janji tertentu. Contoh hubungan kata dan logika dapat ditemukan dalam banyak hal di dalam kehidupan personal dan sosial.

Kata mempunyai peranan penting bagi logika. Sebab unsur terkecil dalam logika “proposisi”  yaitu kata.  Logika berupaya mencari pengertian kata. Dan bertujuan menggunakan  kata yang paling tepat untuk menyatakan argumentasi dan membuat definisi. Logika mengkaji kata berdasarkan tujuan dari logika itu sendiri. logika tidak mengulas kata lebih jauh seperti halnya dengan ilmu bahasa mengkaji kata dari segi yang lebih luas dan dalam.  

Permasalahan yang kerap kali terjadi di ranah sosial, disebabkan karena adanya pengunaan kata yang kurang tepat saat seseorang berpendapat. Sehingga terkadang membuat beberapa orang berdebat kusir ataupun bahkan memancing keributan baik di dunia nyata dan dunia maya. Misalnya, di era banjir bandang informasi, ketika semua orang bebas berpendapat. Orang berpendapat tanpa mempertimbangkan kata-kata yang di lontarkan ke media. Terkhusus perkara politik. beberapa orang menolak demokrasi, tapi secara tanpa sadar dan diam-diam, malu-malu kucing menerima demokrasi dan mengikuti sistemnya.

Agar keributan tersebut tidak berumur panjang, dan terus lestari. Diperlukannya pemahaman dasar untuk berkata-kata berdasarkan logika. logika membagi tiga pembahasan yakni, berbagai macam pengertian kata, kata sebagai subjek atau predikat “term”, serta batas konotasi dan denotasi.

A. Berbagai macam kata

Kata mempunyai beragam pengertian. Tujuan adanya berbagai macam pengertian kata, agar kata dapat digunakan secara tepat. Berbagai macam pengertian kata ada 5:

1.    Kata positif, negatif, privatif

Kata positif menunjukkan adanya keberadaan sesuatu atau adanya penegasan eksistensi. Contohnya, kaya artinya adanya harta, gemuk adanya daging, pintar adanya ilmu, pacaran adanya pasangan (bisa juga selingkuhan).

Kata negatif menunjukkan penegasian seperti kata: tidak, non, atau bukan. Contohnya, tidak gemuk, tak kurus, bukan pandai, bukan pacar (bisa juga teman tapi mesara)

Kata privatif menunjukkan tidak adanya sesuatu, bisa juga dipahami sebagai lawan dari kata positif. Contohnya, miskin tidak adanya harta, kurus tidak adanya daging, bodoh tidak adanya ilmu, jomblo tidak adanya pasangan atau pacar.

Namun, terkadang dalam pembicaraan masyarakat ada sebuah kesalahpahaman. Seperti tidak gemuk terkadang dipahami kurus, padahal tidak gemuk belum tentu kurus. Tidak gemuk bisa diartikan punya daging tapi tidak gemuk dan belum tentu kurus, tidak pandai belum tentu bodoh.

Dalam beberapa kata tertentu dapat diartikan kata negatif yang juga tergolong privatif Tidak kaya bukan berarti miskin, melainkan punya harta secukupnya belum pada tahap miskin. Sedangkan yang mutlak ialah jomblo pasti tidak punya pasangan dan mati pasti tidak hidup. 

2.    Universal, partikular, singular, kolektif

Kata yang mempunyai makna universal bersifat mengikat keseluruhan kata yang terkait di bawahnya tanpa terkecuali. Seperti, masjid, mobil, rumah, manusia, dan lain-lain. di maksud masjid adalah keseluruhan masjid tanpa terkecuali: Masjid Akbar, Masjid Ampel, Masjid Cengho, Masjid Serang, termasuk semua jenis masjid.

Kata yang mempunyai makna partikular bersifat mengikat bawahan, namun tidak mencakup keseluruhan bawahan atau anggota yang diikat. kata yang bermakna partikular juga bersifat membatasi. Seperti kata perempuan jika dibatasi dalam makna partikular menjadi: sebagian perempuan, beberapa perempuan, ada perempuan, tidak semua perempuan, sebagian kecil perempuan.

Kata yang mempunyai makna singular adalah lawan dari kata yang mempunyai makna universal. Jika dalam universal semua kata yang di bawahnya bersifat terikat tanpa terkecuali. Maka, kata singular hanya mengikat satu bawahan saja. kata yang mencakup singular dapat dipahami dari nama unik dan nama diri.

nama unik maksudnya nama yang mengacu pada identitas tertentu suatu objek. Misalnya, Presiden Pusat Stigma, Pelatih tim Persebaya, Wali Kota Surabaya, dan lain sejenisnya. Selain itu, kata yang mendapati keterangan ini atau itu. Contohnya, sepeda motor itu dan mobil ini. Walaupun sepeda motor dan mobil termasuk kata universal yang dapat mengikat bawahan yang sama, namun ketika mempunyai keterangan ini dan itu menunjukan satu sepeda motor dan mobil yang diacu.

Nama diri maksudnya nama seseorang atau tempat yang menjadi identitas. seperti, Dina, Erna, Rina, Irfan, Romi, Roni, Surabaya, Jombang dan Yogyakarta.

Kata yang mengandung pengertian kolektif mengacu pada suatu kelompok yang terikat berdasarkan tujuan,fungsi, kesepakatan tertentu. Seperti Pusat Stigma sebuah komunitas pemikiran dan kebudayaan mengikat sebagai suatu kelompok, namun tidak mengikat setiap individunya seperti makna kata universal. 

3.    Konkret dan abstrak

Kata yang mengandung makna konkret menunjukkan suatu benda atau objek yang kasat mata. Misalnya, pacar, mantan, selingkuhan, istri, buku, kitab, masjid, gereja, dan lain sejeninsya.

Kata yang mengandung makna abstrak mengacu pada kata sifat, keadaan, atau kegiatan yang terlepas dari objeknya. Misalnya, cemburu, patah hati, pandai, alim, kesetiaan, kejujuran, dan kebahagiaan.

Namun ada beberapa kata yang dapat dipahami secara konkret dan abstrak pada saat tertentu. Misalnya Jawa mengacu pada wilayah Jawa, namun jika dipahami Jawa sebagai lelaku ilmu, nilai filosofis, maka dapat digolongkan sebagai kata abstrak.

4.    Mutlak dan  relatif

kata yang mengandung makna mutlak apabila ia dapat dipahami dengan sendirinya tanpa membutuhkan bantuan keterangan atau hubungan terhadap kata tertentu untuk menjelaskan. Misalnya, bunga, foto, rumah, dan lain-lain.

kata yang mengandung makna relatif lawan dari kata yang mengandung makna mutlak. Ia baru dapat dipahami apabila membutuhkan kata tertentu untuk menjelaskan, misalnya, pacar, istri, ibu, dan lain sejensinya. 

5.    Univok, equivok, analog, dan ambigu

Kata yang mengandung satu makna disebut univok. kata yang tidak menyebabkan pembaca atau pendengar bingung. Misalnya, baju, celana, bola, kamar, dan sejenisnya.

Kata yang mengandung dua makna atau lebih dari satu makna disebut equivok. Misalnya, bisa, bunga, bulan, buku. Contoh kalimatnya Spongebob bisa mengalahkan Patrick dalam lomba memasak. Ular Kobra mempunyai bisa yang sangat beracun. Bukuku sedang dipinjam temanku. Temanku memberikan aku tebu satu buku. Bisa dan buku dalam dua kalimat tersebut dimaknai secara berbeda.

Kata yang mengandung makna kiasan atau kata yang berbeda dengan makna aslinya disebut makna analogi, namun mempunyai keterkaitan untuk menjelaskan dengan cara mengandaikan. Misalnya, banyak anggota DPR yang tertangkap basah melakukan korupsi, perempuan itu adalah bunga desa pada masanya. Kata basah dan bunga berbeda dengan makna aslinya. Namun mempunyai persamaan dalam pemahaman kata tersebut.

Kata yang mengandung makna lebih dari satu bahkan sering menyebabkan pendendgar atau pembaca mempunyai tafsir beragam untuk memahami kata yang ditujukan disebut ambigu. Sama halnya dengan kata demokrasi menurut Amerika berbeda dengan Indonesia, kata kebebasan bagi orang New York berbeda dengan orang Indonesia. Karena kata yang bermakna ambigu menyebabkan multi tafisr. Sehingga ketika menjelasakan diperlukan pemaparan lebih panjang dan jelas sesuai maksud pembicara ataupun penulis. 

6.    Bermakna dan tak bermakna

Kata dikatakan bermakna apabila mempunyai konotasi dan denotasi. Konotasi adalah  sifat tertentu pada sebuah objek yang sudah dihadirkan jenis dan pembedanya, kemudian mengerti spesia (kelas, nau’). sedangkan denotasi berarti cakupan terhadap suatu objek yang didefinisikan. Misalnya, manusia genusnya (jenis, jins) termasuk hewan, manusia differentialnya (sifat pembeda, fasl) ialah keberpikirannya, maka manusia adalah hewan yang berpikir. Sehingga spesianya (kelas, nau’) termasuk manusia, bukan sapi, monyet, bebek, dan lain sejenisnya. Cakupan dari manusia, misalnya, Andi, Toriq, Yasin, dan lain sebagainya. Setiap kata mesti mempunyai konotasi dan denotasi, sehingg dapat menghasilkan yang bermakna. Kata yang tidak mempunyai salah satunya akan menghmbat kehamilan. Misalnya, kuda lumping walaupun pemahamannya dapat diketahui, namun denotasi atau cakupannya tidak  ada. 

B.B. Term: Kata Sebagai Predikat atau Subyek

Salah satu tujuan dari memplejari logika adalah untuk membuat definisi. Namun Sebelum membuat definisi ada beberapa pemahaman dasar yang mesti dipahami. Yakni, Selain pemahaman berbagai macam pengertian kata seperti yang dijelaskan di atas. Kata yang berfungsi sebagai predikat atau subjek dalam logika disebut term. Term berfungsi mengantarkan pemahaman seseorang pada sebuah cara membuat definisi.

Dalam logika ada lima term yang biasanya juga dikenal dengan sebutan al-Kulliyah al-Khamsah yaitu kelima term universal. Pembahasan term sangat membantu seseorang untuk membuat definisi.

1.     Genus (jenis, jins)

Term Genus (jenis, jins) mempunyai bawahan yang berbeda-beda, namun terikat dalam satu kesamaan jenis atau sifat. Misalnya kambing, sapi, kera, manusia yang termasuk dalam satu jenis binatang karena mempunyai sifat kebinatangan. Jadi kata binatang adalah genus-nya. Jenis hanya memberikan sebagian penjelasan definisi yang belum sempurna.

Para ahli logika kuno membagi kenyataan dalam tiga jenis, yaitu jenis tinggi, jenis menengah, dan jenis rendah. Jenis tinggi adalah jenis yang paling tinggi mencakup segala jenis, tidak mempunyai jenis di atasnya, namun mempunyai tingkatan jenis di bawahnya. Jenis tinggi seperti substansi yang terbagi mahkluk berbentuk dan tidak berbentuk. Sedangkan jenis rendah adalah jenis yang mempunyai jenis di atasnya, namun tidak mempunyai jenis lain di bawahnya. Jenis rendah seperti hewan yang terbagi hewan berakal atau tida berakal, yakni manusia. Dan jenis menengah berada di antara jenis tinggi dan jenis rendah. Jenis yang mempunyai tingkatan jenis di atasnya dan tingkatan jenis di bawahnya. Seperti, benda berbentuk yang hidup dan tidak hidup, benda berbentuk yang hidup berindra dan tidak berindra.                                                   

2.    Differential (sifat pembeda, fasl)

Differential (sifat pembeda, fasl) mempunyai peran penting sebagai term. Term ini, mencari perbedaan satu subjek dengan subjek lainnya. Subjek yang sebenarnya masih terikat pada satu jenis. Perbedaan antara manusia, sapi, kambing, dan kera terletak pada kemampuan berpikir. Sehingga manusia adalah hewan yang berpikir. Sifat berpikir inilah yang kemudian menjadi pembeda dari objek lainnya seperti sapi, kambing, dan kera. 

3.     Spesia (Kelas, Nau’)

Spesia (kelas, Nau’) term yang bertujuan untuk menggolongkan atau memasukkan obyek tertentu pada satu kelas yang berbeda. Spesia adalah akibat jenis yang sudah dihadirkan pembedanya. Maka, ketika kambing, sapi, kera, dan manusia termasuk jenis binatang. Tapi manusia mempunyai perbedaan karena kemampuan berpikirnya. Spesia dari kambing, sapi, kera, dan manusia bergantung perbedaan yang ditarik dari jenisnya.  Contoh lain untuk memudahkan Spongebob, Patrick, Tuan Krab, Sandy sama-sama binatang yang hidup di laut. Jenisnya adalah binatang, dan differential dari spongebob adalah spon, sandy adalah tupai wanita, patrik adalah bintang laut, dan tuan krab adalah kepiting. Maka spesianya adalah spongebob, patrick, sandy, dan tuan krab. 

4.    Propria (sifat khusus, Al-khassah)

Propria (sifat Khusus, Al-Khassah) adalah term yang mengacu pada spesia yang disebabkan oleh jenis yang dihadirkan pembedanya atau bisa dikatakan sebagai sifat dekat. Manusia adalah spesia. Sifat kebinatangan dari manusia adalah jenis. Dan kemampuan berpikir manusia adalah  pembeda. Karena manusia adalah binatang berpikir. ia dapat beragama, berkeluarga, berbudaya. Semua itu termasuk sifat khusus dari manusia.

5.    Accidentia (sifat umum, al-a’rad)

Accidentia (sifat umum, al-a’rad)  merupakan term kebalikan dari Propria yang diartikan sebagai sifat khusus atau dekat. Sedangkan Accidentia merupakan sifat umum atau jauh. Sifat yang tidak bernilai penting bagi subjek tertentu seperti manusia, yakni, makan, belanja, gemuk, tidur, selingkuh, dan nikung.

C.  C. Konotasi dan Denotasi serta batas-batasnya

Agar setiap kata mempunyai makna, maka ia mesti mempunyai konotasi dan denotasi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Konotasi dan Denotasi mempunyai batasan. Batasan tersebut saling terkait. Batasan antara konotasi dan denotasi terletak pada spesia, dan mempunyai hukum tertentu. Lebih jelasnya maksud batasan antara konotasi dan denotasi, berikut penjelasan:

1.     Batas Konotasi

Batas konotasi berada pada spesia atau kelas yang mengacu pada jenis yang dihadirkan pembedanya. Sehingga dengan batas konotasi ada perbedaan antara satu subjek dengan subjek yang lainnya. seperti sapi, kambing, kera, manusia, mantan, pacar, sahabat, saudara.

Konotasi atau yang disebut mahfum hanya mengantarkan seseorang pada pengertian suatu objek tertentu.

2.    Batas Denotasi

Batas denotasi sama halnya dengan batas konotasi, keduanya mengacu pada spesia. Jika batas konotasi mengantarkan pada pemahaman tertentu pada suatu objek. Maka batas denotasi mengantarkan pemahaman pada cakupan objek tertentu. Seperti manusia yang batas konotasinya adalah binatang yang berpikir, pada batas denotasinya manusia yang mencakup atau masodak objek tertentu seperti Dina, Erna, Rina, Irfan, Romy dan Romy.

Batas konotasi dan denotasi mempunyai hukum perbandingan. Jika semakin bertambah konotasi atau pemahaman pada objek tertentu maka semakin sempit batas denotasi yang mencakup suatu objek. Sedangkan jika berkurang batas konotasi pada ojek tertentu maka semakin luas batas denotasi yang mencakup suatu objek.

Hukum perbandingan itu terjadi apabila, term yang mengacu pada batas konotasi, bukan term khusus atau unik atau kata yang mengacu pada identitas tertentu. Seperti Jembatan Merah di Surabaya, Semeru yang meskipun jika konotasinya bertambah Semeru gunung tertinggi di jawa timur tidak akan merubah batas denotasi. Selain itu, tambahan pada term tidak boleh bersifat khusus. Contohnya, manusia sebagai binatang yang berpikir mempunyai kemampuan untuk merekayasa kebudayaan. Hal semacam itu tidak akan dapat mengakibatkan perubahan. Hukuman perbandinga terbalik hanya mengacu pada konotasi saja, bukan pada denotasi. Konotasi sebagai variabel independen, sedangkan denotasi sebagai varibel dependen. Terkahir, perbandingan hanya bisa terjadi jika term universal dibagi secara menurun

 

D.   D. Kesimpulan

Memahami hubungan  kata dengan logika sangat membantu untuk membuat argumentasi dan definisi. Terutama dalam menyusun definisi ada beberapa syarat tertentu yang mesti dijadikan prinsip dasar. Dan ada beberapa pengertian mendasar yang harus dipahami sebelum mendefinisikan. Pengertian dasar itu berupa berbagai macam pengertian kata, yang terdiri dari 5 pengertian kata sesuai pembagian yang dijelaskan di atas. Selain itu prinsip dasar yang diacu untuk mendefiniskan yakni, al-kulliyah al-Khamsah atau kelima term universal dan juga harus mengikuti batas-batas konotasi serta denotasi.

Tanpa ada pemahaman mendasar dan prinsip yang menjadi syarat tertentu. Definisi tidak akan tersusun sesuai dengan kaidah logika yang benar. Sebagaimana halnya tujuan definisi ialah pengertian suatu objek atau subjek tertentu dengan benar, jelas, tepat, dan singkat, yang dapat membedakan suatu objek atau subjek dengan obbjek atau subjek lainnya.

 

Refrensi:

Mundiri. 2011.  Logika. Rajawali Pers: Jakarta.


Sabtu, 17 April 2021

Kesalahan Berpikir dan Pentingnya Mempelajari Ilmu Mantiq

 

Sumber gambar: Smileshealthandfitness.com

Oleh: Udin Msu

Kesalahan berpikir sering dialami manusia tanpa sadar. Hal itu dapat dilihat dari jamaknya fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti: perdebatan di media yang tak ada ujungnya, penilaian mengenai informasi yang lekas dipercayai tanpa tahu dari mana muara sumbernya. Yang membuat riskan, ialah kebiasaan gebyah uyah (generalisasi) dengan cara memberikan klaim definisi terhadap golongan tertentu. Tanpa didahului utuhnya pemahaman dan benarnya penalaran ketika memakai definisi tersebut. Misalnya, menamakan seseorang atau golongan tersebut dengan menggunakan definisi  kafir, liberal, syiah, serta beberapa hal sejenisnya.

Kesalahan berpikir telah menjadi kebiasaan di masyarakat. Kian hari hanya membawa masyarakat pada perseteruan. Dan semakin menjauhkan dari persatuan. Masyarakat pada umumnya kini, gemar sekali “bersilat lidah tanpa kaidah”. Masyarakat sebagai susunan manusia yang saling berhubungan sudah mestinya menyadari keadaan yang jauh dari keharmonisan atau dalam term Islam “Rahmatin Lil Alamin”. Permasalahan ini bukan hal remeh temeh, apabila dibiarkan begitu saja dengan sendirinya.

Lebih jauh lagi, sebenarnya kebiasaan yang disebabkan karena kesalahan berpikir ini, dapat melahirkan pola interaksi, gaya hidup, dan produk kebudayaan masyarakat yang tidak mencerminkan identitas kemanusiaan. Kemanusiaan sebagai makhluk berpengetahuan tentunya. Terlebih jika kesalahan berpikir semacam ini, juga menjadi landasan manusia ketika memilih keyakinan serta hal-hal lain yang bersifat prinsipil dalam hidupnya. Pastinya akan lebih banyak dampak negatif yang terjadi melebihi penjelasan di atas sebelumnya. Dirasakan atau tidak ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dinafikkan dalam kehidupan modern khususnya di era virtualitas dewasa ini. 

Sebenarnya permasalahan yang terjadi di masyarakat sangat disayangkan. Apabila kemampuan alamiah berpikir dari setiap manusia tidak dimaksimalkan untuk menyempurnakan aspek kemanusiaannya.  Tanpa ada proses berpikir yang benar dengan metode yang tepat. Manusia akan terus bergerak mengikuti kesalahan berpikir yang tiap tindakannya kemungkinan menuruti keinginan, hawa nafsu, atau hal lainnya yang jauh dari kemurnian dirinya sebagai makhluk berpengetahuan.

Apabila diamati permasalahan ini disebabkan karena budaya kesalahan berpikir yang terjadi di masyarakat. Budaya berpikir yang tidak memedulikan adanya metode, kaidah atau disiplin ilmu tertentu dalam menjalani kehidupan.  

Untuk itu salah satu tawaran yang dapat digunakan dalam upaya memperbaiki kesalahan berpikir di masyarakat yakni, dengan ilmu mantiq yang umumnya lebih dikenal dengan ilmu logika. Ilmu mantiq merupakan metode berpikir, yang apabila dipahami serta digunakan dengan benar dapat menyelamatkan manusia dari kesalahan-kesalahan berpikir yang kerap kali dialaminya.

Selain itu, Ilmu mantiq dalam hal ini begitu dirasa penting kehadirannya untuk dipelajari. Karena Ilmu mantiq juga  berguna menyusun bangunan pengetahuan melalui proses berpikir dengan konstruksi yang kokoh.

Proses berpikir manusia terdiri dari dua hal; bermula dari majhul (tidak diketahui) menjadi mafhum (tahu), selanjutnya bagaimana pengetahuan itu disusun. Maka ilmu mantiq tidak membahas isi dari pengetahuan secara keseluruhan, melainkan bagaimana pengetahuan disusun dan dibangun dengan kokoh agar tidak terjerumus pada kesalahan berpikir.  

Agar lebih mudah memahami pembahasan ilmu mantiq, amati contoh umum yang dipakai di bawah ini :

                    Sokrates adalah manusia= Premis minor

                    Setiap manusia pasti mati= Premis Mayor

                    Maka, Sokrates pasti mati= Konklusi

Susunan argumentasi di atas banyak sekali dijumpai dalam buku-buku pengantar ilmu mantiq atau logika.  Contoh tersebut bertujuan untuk memudahkan pemahaman. Dari segi premis dan konklusi tidak ada pertentangan kata yang dipakai, dari segi mantiq shuri atau logika forma (bentuk) dan mantiq maadi atau logika materi (isi). Maka argumentasi di atas benar.

Contoh lainnya yang berbeda :

Apel berwarna merah = Premis minor

Setiap yang berwarna merah itu berani = Premis mayor

Maka, apel itu berani= Konklusi

Sedangkan susunan argumentasi contoh selanjutnya mengenai apel merah dan merah itu berani, salah. Karena ada kontradiksi makna yang dipakai antara apel merah dan merah berani. Dari sisi mantiq shuri atau logika forma (bentuk) benar. Namun dari segi mantiq maadi atau logika materi (isi) salah. Penjelasannya, tidak setiap apel itu merah dan juga tidak setiap yang merah itu berani. Apel juga ada yang tidak berwarna merah seperti apel malang berwarna hijau. Kemudian warna merah juga tidak mesti berani melainkan juga berarti berhenti.

Beberapa contoh argumentasi tadi, menjelaskan esensi Ilmu mantiq ialah memeriksa definisi atau argumentasi, melalui metode berpikir yang benar sehingga mengetahui letak kesalahanya.  

Ilmu mantiq mempunyai tiga tahapan. Pertama, ilmu mantiq mesti dipahami secara keseluruhan mulai dari pokok pembahasan ta’rif (definisi) dan istidal (argumentasi), aturan, rumus, dan istilah-istilah terkait. Kedua, mematuhi aturan, metode atau kaidah yang berlaku dalam ilmu mantiq secara disiplin. Ketiga, mengaplikasikan ilmu ini dengan benar. Semua tahapan mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Karena apabila salah satu dari tiga tahapan ini tidak diikuti akan tetap melahirkan kesalahan berpikir. Bahkan bagi orang yang mempelajari ilmu mantiq ataupun ahli mantiq. Namun sebaliknya, jika tiap tahapannya dipahami dengan utuh dan digunakan dengan teliti dan jelih dapat membuat orang yang mempelajarinya seperti berada di jalan yang lurus atau benar sesuai kaidah ilmu mantiq itu sendiri sebagai metode berpikir yang benar.

Kembali pada permasalahan kesalahan berpikir yang terjadi di masyarakat, maka sudah semestinya hal ini perlu diperhatikan lalu dibenahi. Dengan upaya mempelajari dan mengajarkan ilmu mantiq kepada masyarakat. Masyarakat dapat kembali menjadi kumpulan manusia yang pada hakikatnya mencari kebenaran. Sekaligus terselamatkan dari budaya kesalahan berpikir. 

Jumat, 16 April 2021

Prinsip Pengistilahan dan Problematikanya

Sumber gambar: Cinta Pekalongan

Oleh: Irfan Al Ayat

Dunia dalam pikiran manusia adalah dunia yang kompleks dengan istilah. Sudah bermilyar-milyar istilah diciptakan manusia sesuai dengan perkembangan cara hidupnya. Dahulu, ketika masih primitif, tidak ada yang perlu beribet-ribet menghafalkan apa itu bilik-kiri dan kanan pada jantung, fungsi maningen di otak, apalagi mengetahui struktur yang menyusun glans yang dimiliki pria. Jangankan menghafalkan, bahkan untuk menyebutnya saja mereka bingung. Mereka hanya tahu bagian yang nampak saja dari tubuh beserta fungsi sederhananya. Barangkali volume otak mereka masih kecil. Atau mungkin, menurut Yuval, mereka belum mencapai satu bentuk evolusi kognisi. Sehingga otak mereka tidak cukup kompeten menciptakan istilah-istilah rumit seperti banyak hari ini.

Meskipun jumlah istilah hari ini sangat banyak (akan semakin banyak dari waktu ke waktu), terdapat perbedaan prinsip pengistilahan antara manusia primitif (zaman dahulu) dan sekarang (modern). Prinsip ini terletak pada objek yang diistilahkan. Jika objek yang diistilahkan bisa dilihat dengan panca indra (materi), sebanyak apapun jumlah istilah yang dihasilkan, prinsip pengistilahan ini tetaplah prinsip kuno yang sudah ada sejak awal mula manusia “bisa berpikir”.Yang lebih baru adalah ketika manusia sudah mulai menciptakan banyak istilah namun objek yang diistilahkan tidak bisa diakses dengan panca indera, hanya realitas ideal semata (rasionalitas/logika/imaji). Prinsip pengistilah baru inilah yang hanya dimiliki kita (manusia modern). Kalaupun manusia primitif sudah memilikinya, barangkali itu masih bersifat sangat sederhana.

Inilah rumitnya manusia hari ini. Selain harus mengetahui istilah-istilah dari prinsip pengistilahan lama, mereka juga harus berusaha keras memahami istilah-istilah dari prinsip pengistilahan yang baru. Disebut “rumit” bukan karena tanpa alasan. Bayangkan saja, jutaan modul pembelajaran dicetak dan disebarkan mulai dari pendidikan SD sampai perguruan tinggi. Isinya tak lain adalah istilah-istilah tentang matematika, moralitas, budaya, ilmu sosial, sejarah, ekonomi, dan istilah-istilah teknis sains lainnya. Kebanyakan adalah istilah yang tidak ada wujud materilnya. Acuh bahkan menolak untuk mempelajari seluruh istilah ini konsekuensinya sangat berat. Tidak saja sulit makan, bahkan siapa saja yang tak ingin terlibat dalam istilah-istilah itu akan dianggap “bukan manusia”.

Lihatlah manusia modern hari ini. Sudah jarang ada yang bisa menanam, memancing, apalagi berburu. Makan, yang harusnya menjadi aktifitas sesederhana memasukkan benda yang bisa dimakan dalam mulut, hari ini manusia harus mengerti manner-nya. Oleh sebab itu, di jurusan perhotelan ada kuliah table manner. Tidak saja manner, bahan makanan juga memiliki kelasnya berdasarkan tingkat higienisnya. Bahkan kemampuan menanam, memancing dan berburu saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Semuanya kemampuan itu tidak akan bisa dilakukan kalau kamu tidak memiliki lahan yang disertifikasi berdasarkan ilmu hukum (hafal dulu istilah hukum), atau kolam ikan yang legal untuk dipancing, dan mengetahui jenis hewan mana saja yang legal untuk diburu. Hari ini orang cukup menjadi youtuber untuk bisa makan, bahkan gamers. Orang tidak harus tahu berasal darimana ikan yang ia makan. Cukup lentikan tangan di keyboard, boomm segala jenis makanan sudah bisa tersaji di depannya.

Istilah-istilah yang diciptakan manusia, hadir sebagai suatu rekaman capaian manusia. Hal ini juga sekaligus menjadi seperti standar gaya hidupnya.Definisi “belajar” pun tidak pernah jauh dari menghafal istilah-istilah. Dahulu ketika istilah dan kenyataan belum berpisah, semestinya tidak ada manusia yang tidak mengalami sebuah istilah. Tapi akhir-akhir ini, semenjak berpisah dengan kenyataan (abstrak), banyak manusia yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan kenyataan, tapi sudah tahu istilahnya. Bisa dikatakan, orang semacam ini tinggal dalam realitas imajinalnya sendiri. Dampak psikologispun timbul, akhirnya banyak ditemukan penyakit psikologis model baru yang menjangkit. Bahkan penyakit psikologis ini oleh sebagian orang sudah mulai dianggap sebagai kewajaran, lebih parah lagi bahkan dirayakan. Contohnya, mudah sekali kita jumpai berita seorang laki-laki menikahi Jin. Di dunia seksualitas contohnya lebih banyak lagi; ada orang mencintai tokoh kartun, jatuh cinta dengan mayat, bahkan dengan kain jarik.

Sebenarnya bagaimana harusnya kita harus bersikap terhadap sesuatu yang dinamakan “istilah”? Misalnya, tiba-tiba seorang teman bertanya; “Apa pendapatmu tentang istilah kapitalisme?”. Kita tahu bahwa rata-rata teman kita asing dengan kata “kapitalisme”. Yang pertama kali mendengarnya, pasti kebingungan. Apalagi, jika tidak bisa memahaminya diancam tidak lulus mata kuliah “kapitalisme”, bisa-bisa stres berat. Kita juga tidak benar-benar tahu apakah membahas istilah “kapitalisme” bisa mengantarkan kita pada jenis kebahagiaan yang hidup kita inginkan. Belum lagi, jika kita seorang yang tekun beribadah, pastinya kita dituntut secara ideologis mencari hubungan baik dan buruk antara kapitalisme dengan ketuhanan, sesuatu yang bagi sebagian orang sulit dilakukan. Dan lagi, sebenarnya istilah “ibadah” itu sebenarnya merujuk pada aktivitas yang seperti apa? Ah kompleks sekali. Ini baru satu istilah “kapitalisme”, bagaimana dengan berjuta-juta istilah lainnya? Tuhan, dosa, neraka, bahagia, ah kompleks.

Kekomplekan ini akan semakin menjadi-jadi jika kita tahu metamorfosa dari sebuah “istilah” ternyata terdiri atas“kata”, dan “kata” kemudian menjadi “simbol”. Apa itu istilah “kata”? Apa itu konsep “simbol”? Ada berapa banyak kata dalam ilmu tubuh, tipologi pekerjaan, sejarah, dan lain-lain? Ada berapa banyak pula simbol yang tercipta?Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan betapa kompleksnya hal-hal yang harus kita pahami dalam belajar. Sebelum mempelajari segala macam jenis “istilah”, harusnya kita sadari dahulu bahwa sejarah pembentukan istilah adalah sejarah manusia dalam menamai “kenyataan”. Oleh sebab itu, pengistilahan harusnya tidak pernah meninggalkan kenyataan. Pengistilahan harus dimaksudkan agar manusia semakin mendekati realitas dengan segala macam ornamennya, bukan malah semakin meninggalkannya. Untuk segala macam istilah yang belum ia ketahui kedudukannya di kenyataan, harusnya tak sampai diambil pusing. Bagaimana mungkin manusia pusing untuk hal-hal yang belum ia ketahui? faktanya hal ini terjadi hari ini. Hampir semua standar kebaikan, keindahan, kebahagiaan dan kebenaran kita, ditentukan oleh hal-hal yang manusia sendiri belum tahu kadarnya, bahasa lainnya adalah doktrin. Dan inilah pusat seluruh kebingungan, terutama harusnya bagi orang-orang yang serius menyingkap kenyataan pada setiap istilah.

Rabu, 14 April 2021

Hikmah di Balik Padamnya Listrik dan Kalahnya Persebaya

Sumber gambar: Lensa Purbalingga

Oleh: Udin Msu

Padamnya listrik dan gerimis yang tak kunjung reda. Membuat mas berteriak meronta-ronta. Menduga-duga mencari apa yang sebenarnya terjadi.

Ia begitu geram nan amat kesal, apa sebab?

Sebabnya, ia urung menonton pertandingan sepak bola di televisi, yang sudah dinanti-nanti beberapa hari.

Ia sangat menunggu tim sepak bola kesayangan yang juga teramat dicintainya berlaga. Ya, Pertandingan antara Persebaya dan PSS Sleman, dalam Liga Menpora yang sedang berlangsung.

Pertandingan yang sebenarnya, ndak penting-penting amat. Kalau dipikir-pikir. Menang atau pun kalah, Persebaya tetap lolos ke babak selanjutnya. Karena Persebaya berada di puncak klasemen grup c.

Namun pertimbangan semacam itu, ndak berlaku baginya. Seseorang yang sangat meyakini slogan NKRI Persebaya harga mati.

Ia sangat mencintai Persebaya sejak remaja hingga dirinya mulai menua. Tidak sedikitpun terbesit dalam benaknya ada tim lain yang membuatnya kepincut.

Walaupun ia menyadari, dahulu Persebaya pernah memasuki masa kegelapan: merosotnya prestasi Persebaya, dualisme internal, parahnya intrik politik sepak bola Indonesia yang selalu mempermainkan Persebaya.

Semua itu hanya ujian sejarah yang tak sedikitpun mengendurkan dukungannya kepada Persebaya. Kesetiaan yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.

Ia adalah bonek yang sangat setia. Kesetiaan yang tak perlu diragukan lagi. Kesetiaan yang sudah teruji berpuluh-puluh tahun lamanya. Hampir setiap pertandingan Persebaya, ia tak pernah absen. Mulai dari pertandingan di Surabaya bahkan terkadang nekat gembel untuk sekedar melihat pertandingan ke luar kota.

Kini hanya karena, urung menonton pertandingan di televisi saja. Ia sangat kecewa dengan keadaan yang terjadi. Segala ragam umpatan ala Suroboyo-an keluar merdu dari mulutnya dengan nada syahdu: Cok, Gateli, dan sebangsanya, disertai makhorjiul huruf dan tajwid yang benar nan begitu fasih.

Seolah-olah, ia merasa tersiksa, terjajah, tertindas. Lebih dari itu, ia seperti merasakan panasnya api neraka yang sungguh teramat nyata. Karena pertandingan sepak bola yang ditunggu-tunggu, terganggu, urung ia tonton.

Mungkin, ini sebuah gambaran nyata. Yang tak bisa dielakkan, juga tak etis bila diperdebatkan.

Cinta yang teramat dalam terhadap apapun tanpa terkecuali, membuat orang susah mengendalikan diri. Kadang Ia merasa kelewat bahagia. Kadang pula ia merasa Sedih bukan kepalang.

Benar atau salahkah, hal yang demikian? Itu bukan hal penting.

Tapi yang pasti menyadur Panglima Tieng Feng alias Chu Pat Kai, "cinta deritanya tiada akhir." Derita semacam itulah yang kini dirasakan. Derita yang tak mampu ditangguhkan.

Jika hanya, urung  menonton pertandingan saja ia sudah sangat kecewa, banyak mengeluarkan umpatan. Apalagi nanti, jika tahu tim sepak bola kesayangannya itu kalah.

Bisa jadi, bukan hanya umpatan ala Suroboyo-an yang keluar. Melainkan, segala nama hewan di kebun binatang akan diperdendangkan.

Namun, dibalik kekecewaan yang dirasakan. Ia ujug-ujug mendadak menjadi insan kritis . Berupaya melakukan analisis. Mencari hubungan sebab-akibat. Untuk mengetahui sebab musabab yang muskil terjadi.

Tak ubahnya, ia mengamalkan ajaran Francis bacon, filsuf mashyur dari Inggris. Ia memakai metode induksi untuk mengaitkan satu faktor dengan faktor lainnya. Namun ilmu yang belum dipahami secara utuh. Malah membuatnya, berada pada kesimpulan sesat dan cenderung mengatuk-gatukan semata. Lebih parahnya. Ia berasumsi dengan ngawur untuk membentuk suatu hipotesis.  

Listrik padam, gerimis tak kunjung reda,  menyebabkan pertandingan Persebaya urung ditonton. Setelah diusut, ternyata ada penyebab  lain: ada tiang listrik yang sedang diperbaiki petugas PLN.

"Petugas PLN nya iku Arema mungkin, mangkanya lama sekali melakukan perbaikannya," Sembari memasang raut masam penuh curiga dan kecewa.

"Ndak lah mas, ndak ada hubungannya itu."

"Lebih baik smean berdoa, supaya Persebaya menang. Daripada nonton tapi kalah, malah nesu smean nanti," Jawabku berupaya menenangkan kebingungannya.

Namun, ia terus menunggu, sembari ngedumel tiada henti"

Ia berupaya keras menahan pemberontakan batin di dalam dirinya.

Terus berharap agar listrik kembali nyala. Agar sesegera mungkin dapat menonton pertandingan Persebaya melawan PSS Sleman Kembali.

Selang beberapa waktu lisitrik telah kembali menyala. Ndilala, ia bablas dari kamar ke ruang tamu, langsung menyalakan televisi.

Ternyata yang terjadi, sungguh mama sayange. Pertandingan sudah memasuki babak ke 2 dan kurang 10 menit akan selesai. Persebaya kalah 1-0 dengan PSS Sleman.

Ia semakin jatuh dalam jurang kekecewaan, terjerumus sesal teramat dalam.

Mungkin, Inilah hikmah dibalik padamnya listrik.

Selain ujug-ujug menjadi insan kritis. Ia terselamatkan dari gol menyakitkan PSS sleman, yang hanya akan menambah luka hati, rasa sesal nan kecewa jika ditontonnya (sakit hati yang teramat). Slurd

Pertandingan yang menurutnya sangat penting menyangkut harga diri. kini membuatnya, ngedumel sepanjang hari, lalu dihimpit oleh rasa khawatir dengan harapan yang sia-sia.

Dan ternyata, Jian tenan. Segala nama hewan kebun binatang keluar didendangkan.

Mas, kuatno atimu wes ambyar sek amblas pisan. Hahahahaha


Selasa, 06 April 2021

Perjalanan Mojok Sedari Awal dan Seluk Beluknya

 

Sumber Gambar: https://bukumojok.com/product/mojok-tentang-bagaimana-media-kecil-lahir-tumbuh-dan-mencoba-bertahan/

Oleh: Udin Msu

Mojok kini, telah berhasil menjadi salah satu media yang digandrungi banyak kawula muda. Dari Media yang lahir pada 28 Agustus 2014 dengan tujuan senang-senang belaka. Media yang dikira abal-abal. Telah melesat jauh tanpa disangka, bahkan oleh para krunya sendiri. Menjelma menjadi media profesional, mampu sejajar dengan media besar yang lebih bermodal dan beranggotakan banyak. Sesuatu, ujar Syahrini.

Keberhasilan Mojok tidak lain, disebabkan karena Mojok memiliki ciri khas tersendiri. Saban hari, Mojok mampu menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat menyegarkan sidang pembaca. Bukan tanpa sebab tentunya, Mojok dikenal dengan tulisan yang satire, lucu, menohok, dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan media mainstream lainnya.

Buku berjudul “Mojok Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, Dan Mencoba Bertahan,” berisikan ulasan dapur media Mojok dengan seluk beluk dan rekam jejak yang penuh akrobat. Pernah membuat para pembacanya patah hati karena pamit tutup, undur diri 28 Maret 2017, vakum selama 2 bulan. Dan kemudian lahir kembali, berkat sokongan dari Tirto.id karena kekerabatan.

Buku ini, berisikan rampai tulisan dari 12 kru Mojok.co yang tediri dari: Puthut Ea selaku Kepala Suku, Arlian Buana, Edward S. Kennedy (Panjul), Agus Mulyadi (Gus Mul), selaku Mantan Pimred. Ahmad Khadafi, Aprilia Kumalasari sebagai redaktur, Ega Fansuri, Rean Aqila sebagai ilustrator, Doni Isywara sebagai admin medsos, Muhamad Ali Ma’ruf sebagai videografer, Aditya Rizki sebagai web master, dan terakhir Nia Liviana sebagai sekred.

Lahirnya buku ini menyambut usia Mojok.co ke 5 th pada 28 Agustus 2019. Buku setebal XVI+136 halaman dan diterbitkan Buku Mojok sendiri, banyak mengulas tentang Mojok: mulai dari segi kepenulisan, ilustrator, media sosial, web site, dan runtutan kisah Mojok.co sedari awal hingga saat ini.

Pengalaman Kru Mojok

Puthut Ea memulai buku ini dengan kata pengantar yang jujur. Di balik perjalanan Mojok yang terlihat senang-senang semata, sebenarnya para kru mempunyai tantangan melawan kebosanan. “Tulisan ini semoga bisa sampai kepada pembaca bahwa mengelola sebuah media yang sepertinya disukai banyak orang, di baliknya ada para kru yang manusia biasa, yang bisa bosan, bisa letih, dan bisa tak tahu sampai dimana ini semua akan berakhir” (hal xi). Selain itu, Puthut Ea juga mendaku, tujuan media Mojok.co sampai saat ini terus dalam proses pencarian. Bergelut dengan rasa bosan dalam sebuah pencarian panjang di atas kapal kecil bernama Mojok, yang belum tahu tujuanya.

Berlanjut tulisan Bagian I yang berisikan pengalaman para pimpinan redaksi Mojok dengan judul “Kata Pimred Mojok.” Ditulis oleh, Arlian Buana, Edward S.Kennedy (Panjul), dan Agus Mulyadi (Gus Mul).

Arlian Buana menuturkan tulisannya berdasarkan pengalaman dan, ia banyak berterimakasih terutama kepada Puthut Ea dan terkhusus kepada Mojok. sebelum akhirnya harus hijrah ke Jakarta meninggalkan Mojok. Dan bergabung dengan Tirto.Id. Sedangkan, Edward. S. Kennedy (Panjul) sama halnya dengan Arlian Buana yang pada akhirnya juga hijrah ke Jakarta, untuk bergabung dengan Kumparan .

Jika mereka berdua pergi, Agus Mulyadi (Gus Mul) tetap setia singgah di Mojok. Persimpangannya dengan Mojok membuat dunianya beranjak membaik. Ia yang mulanya madesu (masa depan suram), jomblo kadaluarsa, berbalik menjadi lelaki mapan, masa depan cerah, penuh harapan. Ia mendapatkan banyak hal: ketenaran, uang, hingga pasangan. Semuanya di dapatkan dari Mojok. Kurang apa coba? Cuok bejo tenan Gus Mul, ancene.

Pada bagian II “Dapur Redaksi Mojok” berisikan tulisan pengalaman para redaktur: Ahmad Khadafi dan Aprilia Kumala.

Ahmad Khadafi dalam tulisannya menjelaskan, teori kepenulisan Mojok generasi pertama, yang baru saja ia sadari setelah 4 kali tulisannya ditolak. Membuatnya menemukan teori dalam menulis, “Kamu harus menulis ide yang keluar sekali tebas,” (hlm 40). Tulisan yang harus selesai tanpa ditunda-tunda yang dapat menjadi pertimbangan bagi siapa saja yang hendak mengirimkan tulisannya ke Mojok.

Aprilia Kumala beranggapan Mojok bukan sekedar tempat kerja pada lazimnya. Lebih dari itu, Mojok selayaknya keluarga, apalagi saat Aprilia Kumala yang mengisahkan, ia diberi izin satu minggu karena patah hati. Ia merasa, Mojok mampu membuatnya untuk terus berkembang menjadi lebih baik.

Pada bagian III dan IV mempunyai hubungan yang saling mengisi. Jika di bagian III mengulas “Ramuan Visual Mojok, maka di bagian IV membahas “Eksistensi Mojok di Media Sosial.” keterhubungan tertelak di balik kekompakan dan kerja sama antar kru yang mengisi tim medsos.

Ega Fansuri dan Rean Aqila di bagian III menjelaskan Ilustrator dengan karakter gambar yang berbeda satu sama lain, saling melengkapi. Sedangkan di bagian IV membahas eksistensi mojok di medsos. Berkat Doni Iswara yang telaten dan kompeten, Medsos Mojok seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, semakin berkembang pesat. Ditambah Muhammad Ali Ma’ruf sebagai videografer dengan segala keterbatasan fasilitas yang mampu melihat relevansi dan kemungkinan untuk terus menyelesaikan tugasnya di Mojok, menghasilkan banyak video di Youtube.

Dalam Bagian V “Di Balik Keredaksian Mojok dan Redaktur Mojok” yang ditulis Rizky Aditya dan Nia Liviana menuturkan beberapa hal penting yang patut untuk dipahami Jama’ah Mojok’iyah, selain dari beberapa bagian di atas tadi.

Rizky Aditya sebagai web master memberikan penjelasan dibalik pergantian logo yang dulu berwarna-warni menjadi berwarna kuning emas. Warna dengan visi Mojok ke depan agar semakin mengilap, semakin dikenal, dan semakin dicintai, oleh para pembacanya (hlm 119).

Nia Lavinia sebagai garda terdepan yang punya andil besar untuk menerima atau menolak suatu tulisan. Memberikan ulasan kepada para calon kontributor Mojok. Pertama, meskipun berjibun-jibun tulisan di kirim, jika tidak memenuhi standar Mojok atau mengalami perkembangan yang membaik, tulisan tersebut tidak akan diterima. Kedua, tulisan tidak perlu ndakik, terlalu filosofis, bersandarkan pada refrensi berat dengan gaya yang teramat serius, ketiga tulisan yang lahir dari pengalaman sendiri akan sangat dihargai karena nilainya yang otentik. Terakhir agar tidak selalu dipahami, tulisan tidak Mojok tidak harus lucu.

Mojok: Sedikit Kurangnya Banyak Lebihnya

Dari ulasan singkat sebelumnya. Buku ini mempunyai kelebihan, karena di tulis oleh para awak Mojok Sendiri. Dengan pengalaman yang didapatkan, kemudian dituliskan. Kita dapat mengerti perubahan, perkembangan, perjalanan Mojok. Terlebih bagi pembaca setia yang ingin menjadi kontributor, bahkan jika memendam harapan menjadi kru Mojok. Huhuhuhu (ngarep).

Kelemahan buku tersebut, tidak memberikan penjelasan mendalam yang runtut, dari sisi bidang yang diampuh oleh para kru. Terlebih buku ini, hanya memberikan penjelasan berdasarkan pengalaman semata. Bukan berdasarkan keilmuan mendalam yang pasti dimiliki para kru.

Namun, hal itu bukan menjadi permasalahan penting. Karena Puthut Ea sudah menjelaskan pada kata pengantar, buku tipis yang ditulis para kru masih ada ruang kosong dan bolong, selain itu Arlian Buana, juga memberikan tawaran bagi siapapun yang ingin menulis Mojok dalam satu buku utuh. Hematnya, Mojok adalah media yang sedikit kurangnya banyak lebihnya.

Buku ini sangat layak bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang sangat penasaran dan ingin tahu mengenai Mojok. Sama halnya dengan mereka yang tidak mampu menahan rasa penasaran, kepada pasangan tapi juga kepada ilmu pengetahuan. Buku yang memberikan penjelasan tentang Mojok. Sedari awal, berdinamika, terus berkembang, mampu bertahan.

Semoga Mojok, semakin berdaulat, setia menjaga akal sehat jama'ah mojok'iyah.


 

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...