Oleh: Irfan Al Ayat
Dunia dalam pikiran manusia adalah dunia yang kompleks dengan istilah. Sudah bermilyar-milyar istilah diciptakan manusia sesuai dengan perkembangan cara hidupnya. Dahulu, ketika masih primitif, tidak ada yang perlu beribet-ribet menghafalkan apa itu bilik-kiri dan kanan pada jantung, fungsi maningen di otak, apalagi mengetahui struktur yang menyusun glans yang dimiliki pria. Jangankan menghafalkan, bahkan untuk menyebutnya saja mereka bingung. Mereka hanya tahu bagian yang nampak saja dari tubuh beserta fungsi sederhananya. Barangkali volume otak mereka masih kecil. Atau mungkin, menurut Yuval, mereka belum mencapai satu bentuk evolusi kognisi. Sehingga otak mereka tidak cukup kompeten menciptakan istilah-istilah rumit seperti banyak hari ini.
Meskipun jumlah istilah hari ini sangat banyak (akan semakin banyak dari waktu ke waktu), terdapat perbedaan prinsip pengistilahan antara manusia primitif (zaman dahulu) dan sekarang (modern). Prinsip ini terletak pada objek yang diistilahkan. Jika objek yang diistilahkan bisa dilihat dengan panca indra (materi), sebanyak apapun jumlah istilah yang dihasilkan, prinsip pengistilahan ini tetaplah prinsip kuno yang sudah ada sejak awal mula manusia “bisa berpikir”.Yang lebih baru adalah ketika manusia sudah mulai menciptakan banyak istilah namun objek yang diistilahkan tidak bisa diakses dengan panca indera, hanya realitas ideal semata (rasionalitas/logika/imaji). Prinsip pengistilah baru inilah yang hanya dimiliki kita (manusia modern). Kalaupun manusia primitif sudah memilikinya, barangkali itu masih bersifat sangat sederhana.
Inilah rumitnya manusia hari ini. Selain harus mengetahui istilah-istilah dari prinsip pengistilahan lama, mereka juga harus berusaha keras memahami istilah-istilah dari prinsip pengistilahan yang baru. Disebut “rumit” bukan karena tanpa alasan. Bayangkan saja, jutaan modul pembelajaran dicetak dan disebarkan mulai dari pendidikan SD sampai perguruan tinggi. Isinya tak lain adalah istilah-istilah tentang matematika, moralitas, budaya, ilmu sosial, sejarah, ekonomi, dan istilah-istilah teknis sains lainnya. Kebanyakan adalah istilah yang tidak ada wujud materilnya. Acuh bahkan menolak untuk mempelajari seluruh istilah ini konsekuensinya sangat berat. Tidak saja sulit makan, bahkan siapa saja yang tak ingin terlibat dalam istilah-istilah itu akan dianggap “bukan manusia”.
Lihatlah manusia modern hari ini. Sudah jarang ada yang bisa menanam, memancing, apalagi berburu. Makan, yang harusnya menjadi aktifitas sesederhana memasukkan benda yang bisa dimakan dalam mulut, hari ini manusia harus mengerti manner-nya. Oleh sebab itu, di jurusan perhotelan ada kuliah table manner. Tidak saja manner, bahan makanan juga memiliki kelasnya berdasarkan tingkat higienisnya. Bahkan kemampuan menanam, memancing dan berburu saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Semuanya kemampuan itu tidak akan bisa dilakukan kalau kamu tidak memiliki lahan yang disertifikasi berdasarkan ilmu hukum (hafal dulu istilah hukum), atau kolam ikan yang legal untuk dipancing, dan mengetahui jenis hewan mana saja yang legal untuk diburu. Hari ini orang cukup menjadi youtuber untuk bisa makan, bahkan gamers. Orang tidak harus tahu berasal darimana ikan yang ia makan. Cukup lentikan tangan di keyboard, boomm segala jenis makanan sudah bisa tersaji di depannya.
Istilah-istilah yang diciptakan manusia, hadir sebagai suatu rekaman capaian manusia. Hal ini juga sekaligus menjadi seperti standar gaya hidupnya.Definisi “belajar” pun tidak pernah jauh dari menghafal istilah-istilah. Dahulu ketika istilah dan kenyataan belum berpisah, semestinya tidak ada manusia yang tidak mengalami sebuah istilah. Tapi akhir-akhir ini, semenjak berpisah dengan kenyataan (abstrak), banyak manusia yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan kenyataan, tapi sudah tahu istilahnya. Bisa dikatakan, orang semacam ini tinggal dalam realitas imajinalnya sendiri. Dampak psikologispun timbul, akhirnya banyak ditemukan penyakit psikologis model baru yang menjangkit. Bahkan penyakit psikologis ini oleh sebagian orang sudah mulai dianggap sebagai kewajaran, lebih parah lagi bahkan dirayakan. Contohnya, mudah sekali kita jumpai berita seorang laki-laki menikahi Jin. Di dunia seksualitas contohnya lebih banyak lagi; ada orang mencintai tokoh kartun, jatuh cinta dengan mayat, bahkan dengan kain jarik.
Sebenarnya bagaimana harusnya kita harus bersikap terhadap sesuatu yang dinamakan “istilah”? Misalnya, tiba-tiba seorang teman bertanya; “Apa pendapatmu tentang istilah kapitalisme?”. Kita tahu bahwa rata-rata teman kita asing dengan kata “kapitalisme”. Yang pertama kali mendengarnya, pasti kebingungan. Apalagi, jika tidak bisa memahaminya diancam tidak lulus mata kuliah “kapitalisme”, bisa-bisa stres berat. Kita juga tidak benar-benar tahu apakah membahas istilah “kapitalisme” bisa mengantarkan kita pada jenis kebahagiaan yang hidup kita inginkan. Belum lagi, jika kita seorang yang tekun beribadah, pastinya kita dituntut secara ideologis mencari hubungan baik dan buruk antara kapitalisme dengan ketuhanan, sesuatu yang bagi sebagian orang sulit dilakukan. Dan lagi, sebenarnya istilah “ibadah” itu sebenarnya merujuk pada aktivitas yang seperti apa? Ah kompleks sekali. Ini baru satu istilah “kapitalisme”, bagaimana dengan berjuta-juta istilah lainnya? Tuhan, dosa, neraka, bahagia, ah kompleks.
Kekomplekan
ini akan semakin menjadi-jadi jika kita tahu metamorfosa dari sebuah “istilah”
ternyata terdiri atas“kata”, dan “kata” kemudian menjadi “simbol”. Apa itu istilah
“kata”? Apa itu konsep “simbol”? Ada berapa banyak kata dalam ilmu tubuh,
tipologi pekerjaan, sejarah, dan lain-lain? Ada berapa banyak pula simbol yang
tercipta?Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan betapa kompleksnya hal-hal yang
harus kita pahami dalam belajar. Sebelum mempelajari segala macam jenis “istilah”,
harusnya kita sadari dahulu bahwa sejarah pembentukan istilah adalah sejarah
manusia dalam menamai “kenyataan”. Oleh sebab itu, pengistilahan harusnya tidak
pernah meninggalkan kenyataan. Pengistilahan harus dimaksudkan agar manusia
semakin mendekati realitas dengan segala macam ornamennya, bukan malah semakin
meninggalkannya. Untuk segala macam istilah yang belum ia ketahui kedudukannya
di kenyataan, harusnya tak sampai diambil pusing. Bagaimana mungkin manusia
pusing untuk hal-hal yang belum ia ketahui? faktanya hal ini terjadi hari ini.
Hampir semua standar kebaikan, keindahan, kebahagiaan dan kebenaran kita,
ditentukan oleh hal-hal yang manusia sendiri belum tahu kadarnya, bahasa
lainnya adalah doktrin. Dan inilah pusat seluruh kebingungan, terutama harusnya
bagi orang-orang yang serius menyingkap kenyataan pada setiap istilah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar