Oleh: Udin Msu
Bagi saya menulis hanyalah salah satu aktivitas kecil, yang dapat
dilakukan dalam kehidupan yang singkat ini. Saya berpikir ada beberapa hal yang
menjadi pertimbangan dasar seseorang untuk berpikir dan bertindak termasuk
menulis. Terserah apapun nilai yang
diyakininya. Pertimbangan mendasar yang bila
perlu dipertanyakan kembali.
Dari segala pertimbangan beberapa orang lebih menekankan hasil,
keuntungan, kenikmatan, dan kenyamanan. Namun dalam aktivitas menulis, hal
semacam itu susah ditemui. Mungkin itu
bukanlah hal yang salah. Sebab saya-pun tidak hendak menuliskan
catatan ini dari kaca mata salah-benar, pro-kontra. Melainkan, menggunakan cara
pandang yang lebih luwas-luwes.
Selain itu, saya mesti sadar. Saya merupakan orang yang serba
kekurangan dari segi wawasan, filsafat, agama, budaya, ideologi, dan teologi.
Banyak hal dalam kehidupan ini yang belum saya ketahui. Terlebih pengetahuan
akan diri saya “sendiri”. Memahami potensi, memahami posisi, memahami kondisi,
memahami orientasi atas segala hal yang sudah mengalir di dalam diri.
Sehingga kesadaran saya akan tulisan ini berangkat dari upaya untuk
meneliti diri. saya menulis bukan karena ingin menjadi penulis. Saya menulis bukan
karena ngeshok intelek. Bukan karena berharap banyak di kenali, agar dapat go
public. Atau pun Bahkan bukan karena
saya punya warisan kebiasaan menulis yang turun menurun di keluarga.
Saya memaknai menulis sebagai proses untuk berusaha jujur pada diri
sendiri. saya menulis karena ada kewajiban yang mesti saya tulis. Agar terus
terjaga dan terikat pada falsafah dan tidak melanggar batas-batas pagar moral.
Dengan menulis saya mengerti ada perubahan yang terus menerus bagi diri saya
setiap waktu. Menulis adalah tradisi
saya menyikapi aneka kenyataan, kepahitan, kepiluan, kelucuan, kekonyolan hidup.
Menulis dapat membuat saya bersilaturahmi dan bertemu dari satu gagasan ke
gagasan lainnya. semacam kepuasan batin yang ngeh rasanya.
Dari beragam tema yang ada seperti budaya, sosial-politik, filsafat
ataupun hal-hal kecil yang ada di depan mata. Saya lebih memilih untuk menulis
segala hal yang bersumber dari dalam diri. memulainya dari yang tersirat. Saya
merasakan ada dialektika yang terus berlangsung dalam diri saya. Diakletika itula yang memacu saya untuk terus
meneliti diri dengan khusyuk.
Tatkala nanti jika saya mulai menulis dengan tema yang lain. Terlebih
politik, sebenarnya politik yang keluar dari dalam diri saya. Bukanlah murni politik
yang marak dipelajari di perguruan tinggi. Bukan juga politik yang banyak
disuguhkan media. Atau seperti politik yang banyak diamini para pejabat dan penguasa.
Saya tidak akan mengatakan bagaimana dan apa politik yang saya maksud. Tiap
orang pasti mengerti sedikit banyak politik tersebut. Dan saya tidak berniatan
untuk membahasnya di sini.
Oleh karenanya, tulisan
politik yang bersumber dari dalam
diri saya merupakan potret batin manusia. Politik yang bernuansa lelaku
prihatin. Politik yang terus berjuang dan bertahan hidup berposes menjadi manusia. Di tengah gempuran budaya pemujaan
materi yang melanda nilai-nilai kemanusiaan.
Apabila ketika tulisan dan tindakan saya menyentuh wilayah politik
praktis. saya tidak akan rela dan mau terikat dengan kekuasaan buatan.
Kekuasaan yang bukan-bukan. Kekuasaan yang menjadikan seseorang malah dikuasai
oleh kediktatoran yang menjelma pada dirinya sendiri. orang yang semacam itu
tidak akan merasakan kedamaian dalam hidupnya. Karena ia digerakaan oleh kekuatan
yang mestinya ia kendalikan.
Mungkin tulisan ini memperlihatkan saya sebagai seorang idealis.
Tapi sejujurnya tidak. Saya hanya berusaha sebisa mungkin melakoni hidup yang
penuh sandirawa ini. Dengan santuy, senda gurau, dan tetap menginsyafi kehidupan yang sederhana “urip mung mampir
ngombe” agar dapat selaras dengan Sang Maha Sutradara.
Dimulai dari sekarang ketika saya kembali menata niat untuk
menulis. Saya akan berupaya untuk terus menulis. Menulis dimanapun. Menulis
kapanpun. Menulis apapun. Menulis dengan ikhtiar untuk melakukan penelitian
diri.
Dengan menulis saya dapat mengerti diri saya. Mengerti apa yang
mestinya saya lakukan. Ketika pikiran saya terus bekerja tanpa libur. Dan hati
saya terus terasah agar tidak tumpul. Melihat,
merasakan, membaca, memahami, mengerti, menjadikannya kreasi gagasan dalam
bentuk tulisan dengan sudut pandang seorang yang terus berjuang menjadi
manusia. Sehingga nilai dasar yang menjadi pertimbangan saya dalam berpikir dan
bertindak untuk menulis. Hanya semata-mata kembali berproses menjadi manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar