Rabu, 17 Maret 2021

Menulis Sebagai Upaya Meneliti Diri


Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/U1tXojg2jrmT28T76

Oleh: Udin Msu

Bagi saya menulis hanyalah salah satu aktivitas kecil, yang dapat dilakukan dalam kehidupan yang singkat ini. Saya berpikir ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dasar seseorang untuk berpikir dan bertindak termasuk menulis. Terserah apapun  nilai yang diyakininya.  Pertimbangan mendasar yang bila perlu dipertanyakan kembali.

Dari segala pertimbangan beberapa orang lebih menekankan hasil, keuntungan, kenikmatan, dan kenyamanan. Namun dalam aktivitas menulis, hal semacam  itu susah ditemui. Mungkin itu bukanlah  hal yang salah.  Sebab saya-pun tidak hendak menuliskan catatan ini dari kaca mata salah-benar, pro-kontra. Melainkan, menggunakan cara pandang yang lebih luwas-luwes.

Selain itu, saya mesti sadar. Saya merupakan orang yang serba kekurangan dari segi wawasan, filsafat, agama, budaya, ideologi, dan teologi. Banyak hal dalam kehidupan ini yang belum saya ketahui. Terlebih pengetahuan akan diri saya “sendiri”. Memahami potensi, memahami posisi, memahami kondisi, memahami orientasi atas segala hal yang sudah mengalir di dalam diri.

Sehingga kesadaran saya akan tulisan ini berangkat dari upaya untuk meneliti diri. saya menulis bukan karena ingin menjadi penulis. Saya menulis bukan karena ngeshok intelek. Bukan karena berharap banyak di kenali, agar dapat go public.  Atau pun Bahkan bukan karena saya punya warisan kebiasaan menulis yang turun menurun di keluarga.

Saya memaknai menulis sebagai proses untuk berusaha jujur pada diri sendiri. saya menulis karena ada kewajiban yang mesti saya tulis. Agar terus terjaga dan terikat pada falsafah dan tidak melanggar batas-batas pagar moral. Dengan menulis saya mengerti ada perubahan yang terus menerus bagi diri saya setiap waktu.  Menulis adalah tradisi saya menyikapi aneka kenyataan, kepahitan, kepiluan, kelucuan, kekonyolan hidup. Menulis dapat membuat saya bersilaturahmi dan bertemu dari satu gagasan ke gagasan lainnya. semacam kepuasan batin yang ngeh rasanya.

Dari beragam tema yang ada seperti budaya, sosial-politik, filsafat ataupun hal-hal kecil yang ada di depan mata. Saya lebih memilih untuk menulis segala hal yang bersumber dari dalam diri. memulainya dari yang tersirat. Saya merasakan ada dialektika yang terus berlangsung dalam diri saya.  Diakletika itula yang memacu saya untuk terus meneliti diri dengan khusyuk.

Tatkala nanti jika saya mulai menulis dengan tema yang lain. Terlebih politik, sebenarnya politik yang keluar dari dalam diri saya. Bukanlah murni politik yang marak dipelajari di perguruan tinggi. Bukan juga politik yang banyak disuguhkan media. Atau seperti politik  yang banyak diamini para pejabat dan penguasa. Saya tidak akan mengatakan bagaimana dan apa politik yang saya maksud. Tiap orang pasti mengerti sedikit banyak politik tersebut. Dan saya tidak berniatan untuk membahasnya di sini.

Oleh karenanya, tulisan  politik yang bersumber  dari dalam diri saya merupakan potret batin manusia. Politik yang bernuansa lelaku prihatin. Politik yang terus berjuang dan bertahan  hidup berposes menjadi manusia.  Di tengah gempuran budaya pemujaan materi  yang melanda nilai-nilai kemanusiaan.

Apabila ketika tulisan dan tindakan saya menyentuh wilayah politik praktis. saya tidak akan rela dan mau terikat dengan kekuasaan buatan. Kekuasaan yang bukan-bukan. Kekuasaan yang menjadikan seseorang malah dikuasai oleh kediktatoran yang menjelma pada dirinya sendiri. orang yang semacam itu tidak akan merasakan kedamaian dalam hidupnya. Karena ia digerakaan oleh kekuatan yang mestinya ia kendalikan.

Mungkin tulisan ini memperlihatkan saya sebagai seorang idealis. Tapi sejujurnya tidak. Saya hanya berusaha sebisa mungkin melakoni hidup yang penuh sandirawa ini. Dengan santuy, senda gurau, dan tetap menginsyafi  kehidupan yang sederhana “urip mung mampir ngombe” agar dapat selaras dengan Sang Maha Sutradara.

Dimulai dari sekarang ketika saya kembali menata niat untuk menulis. Saya akan berupaya untuk terus menulis. Menulis dimanapun. Menulis kapanpun. Menulis apapun. Menulis dengan ikhtiar untuk melakukan penelitian diri.

Dengan menulis saya dapat mengerti diri saya. Mengerti apa yang mestinya saya lakukan. Ketika pikiran saya terus bekerja tanpa libur. Dan hati saya terus terasah agar tidak tumpul.  Melihat, merasakan, membaca, memahami, mengerti, menjadikannya kreasi gagasan dalam bentuk tulisan dengan sudut pandang seorang yang terus berjuang menjadi manusia. Sehingga nilai dasar yang menjadi pertimbangan saya dalam berpikir dan bertindak untuk menulis. Hanya semata-mata kembali berproses menjadi manusia.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...