Oleh: Udin Msu
Pagi ini saya bangun paling awal, dari pada orang seisi rumah. Betapa rajinya saya, seorang lelaki muda di zaman yang penuh kemicin-micinan, masih menjaga tradisi bangun pagi (memuji diri sendiri yang sadar, kalau tradisi bangun pagi itu kebiasaan pak kebon di sekolah, kali).
Ada
rasa stres yang menghampiri, jika saya bangun kelewat siang. Seolah-olah
seharian, saya seperti dikejar-kejar mbak kunti, ndak tenang, galau, pikiran kemana-mana.
Karena banyak kerjaan bertimbun-timbun di rumah.
Pekerjaan
yang belum menghasilkan uang *ngenes banget dah.* Mulai dari mandi, subuh’an,
ngaji, menata jadwal seharian, masak, bersih-bersih, makan, sebat. Kemudian,
menulis, bertemu mentor kepenulisan (alamat, nuntun kalau bensin ndak cukup),
mencuci motor, pulang nyusun jadwal tidur bentar, bangun lagi.
Ketika
membuka laptop, saya mengawalinya dengan membaca catatan masa lalu dan melihat
foto kenangan. Buat bahan intropeksi diri, bahasa umatnya (muhasabah) bahasa ndakiknya
(kontemplasi). Dan secara ndak sengaja, melihat foto mantan-mantan *anjir bikin
nyesek di hidung, kebelet pup jadinya*.
Tapi
sebagai lelaki yang memaksa diri untuk produktif. Semua kenangan, catatan, dan
bahkan foto-foto mantan. Saya abaikan berlagak acuh, tegar, walaupun ada rasa dilema
yang merambat kuat, mengikat melekat di pikiran *berusaha move on*.
Maklum
saya punya kebiasaan untuk mendoakan para mantan agar bahagia di sana (di alam
kubur maksudnya, dendam kesumat tapi cuma bercanda kok). Wokokokokok....
Ya,
mendoakan mantan itu menjadi keharusan. Mendoakan yang baik-baik lah pokoknya. Biar
ndak ada dendam antara saya dan para mantan. Betapa pentingnya silaturahmi,
kata orang-orang saleh bisa “memperluas pintu rezeki.”
Dalam
doa, hati saya bersuara lirih, dan tangan mengadah ke atas (apaan sih, mau
muntah kutu kupret dah). Berharap biar tidak ada kisah suram lagi di antara
saya dan para mantan. Biar masing-masing menemukan cinta sejatinya. Cinta
terakhir untuk melabuhkan hati. Cie, cie, cie... (tapi ndak ngarep balikan lo).
Stop,
sarapan pagi dengan kenangan dan varian mantan!!! (memang mengingat kenangan
dan mantan membuat saya kalap, ling-lung dilahap masa lalu).
Kembali
ke catatan setelah saya bangun.
Pagi
ini saya mesti menulis karena semalamam melakukan intropeksi diri. Pikiran saya
agaknya sudah geser ke kanan dan ke kiri, ndak beres. Beberapa rencana di dalam
catatan saya hanya menjadi sebuah rencana, tanpa tindakan. Membuat saya merasa
bersalah pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Rencana
saya itu terdiri :
1.
Membuat
konten dan bisnis tingwe (linting dewe)
2.
Membuat
konten logika (kewajiban marbot di komunitas “stigma”)
3.
Membuat
blog sendiri dan blog komunitas “stigma”
4.
Rajin
belajar bahasa inggris (metode krebs)
5. Menulis
terus tanpa henti kecuali mau pup, keinget mantan, dan mau sholat (maklum saya
punya segudang dosa yang mesti dibakar dalam diri saya, dijual g laku).
Ada
5 rencana yang sampai saat tulisan ini dibuat belum berjalan lancar.
Pertama
rencana membuat konten dan bisnis tingwe di media sosial. Saya mengalami
hambatan karena belum bisa mengelola waktu. Dan sumber informasi yang mesti
saya kumpulkan terlebih dahulu, untuk saya pelajari dan rangkai. Maklum saya
masih awam dibidang tingwe (linting dewe)[1].
Kedua
membuat konten logika di kanal stigma (komunitas yang saat ini menerima saya
apa adanya yang juga sama seperti saya, komunitas yang ndak ada apa-apanya wokowokow,
maaf slurd). Tantangan membuat logika itu terletak pada upaya pembuatan video. rencana
saya memberikan ulasan logika sederhana tapi agak slengekan. Biar logika
ndak dikenal angker seperti suasana di kuburan malam jum’at. Saya belum
menemukan rumusan itu.
Ketiga,
membuat blog sendiri dan sekarang sudah saya mulai. Tapi dilala asem,
wifi di rumah lagi eror (Jian tenan). Ada-ada saja hambatan yang
terjadi. Untuk blog komunitas bentar gantian y slurd.
Keempat,
rajin belajar bahasa inggris dari metode krebs yang terdiri dari 40 part (buju
buset, kalah serial Tersanjung dan Cinta fitri)[2].
Sudah saya jalani dan baru sampai bagian 3. Terus mesti saya ulangi sampai
benar—benar paham. Jadi ndak boleh grusa grusu. Tapi saya juga dikejar
target belajar bahasa inggris bulanan, *anjritt, sambil nepok jidad*.
Kelima,
nah ini, yang saya lakukan sekarang. Terus menulis, tanpa henti. Di sinilah
perjuangan saya paling banyak. Melepas pekerjaan. Seolah-olah berani terjun
bebas. Padahal hati menangis, berdarah, bernana, lihat ibu yang uang belanjanya
ndak lancar karena kondisi saya saat ini. Tapi dengan itu saya ndak boleh
menyerah untuk terus menulis. Never give up pokoke...
Setelah
saya pikir-pikir lagi. Ternyata pokok masalahnya ada di jalur lintas pikiran
saya yang terlalu ramai. Banyak gagasan muncul lebih dari 6 rencana yang saya
sebutin di atas, seperti berjualan buku, belajar mendalami blog, mengulas ilmu
politik yang pernah saya pelajari, belajar instagram, dan semacanmya,
lah.
Apalagi
kemarin, saya belum bisa mengerjakan saat kondisinya ramai ketika berada di
bascamp. Sebelum masalah ini semakin parah. Menjadi penyakit. Penyakit khayal
semacam penyakit pikiran banyak rencana tapi ndak terlaksana.
Saya
perlu pulang ke rumah untuk memeriksa dan berbenah dahulu. Semoga setelah
proses pembenahan diri, saya semakin produktif, terutama ada progres dalam
bidang kepenulisan. Tentunya harapan saya dapat uang (asoy dah semangat terus)
Sudah
sampai sini dulu ya slurd, hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar