Kamis, 18 Maret 2021

Sarapan Kenangan, Varian Menu Mantan, dan Penyakit Khayal

Sumber gambar: https://gambarkartunlucuterbaru.blogspot.com/1978/04/gambar-kartun-lucu-lagi-makan.html

Oleh: Udin Msu

Pagi ini saya bangun paling awal, dari pada orang seisi rumah. Betapa rajinya saya, seorang lelaki muda di zaman yang penuh kemicin-micinan, masih menjaga tradisi bangun pagi (memuji diri sendiri yang sadar, kalau tradisi bangun pagi itu kebiasaan pak kebon di sekolah, kali).

Ada rasa stres yang menghampiri, jika saya bangun kelewat siang. Seolah-olah seharian, saya seperti dikejar-kejar mbak kunti, ndak tenang, galau, pikiran kemana-mana. Karena banyak kerjaan bertimbun-timbun di rumah.

Pekerjaan yang belum menghasilkan uang *ngenes banget dah.* Mulai dari mandi, subuh’an, ngaji, menata jadwal seharian, masak, bersih-bersih, makan, sebat. Kemudian, menulis, bertemu mentor kepenulisan (alamat, nuntun kalau bensin ndak cukup), mencuci motor, pulang nyusun jadwal tidur bentar, bangun lagi.

Ketika membuka laptop, saya mengawalinya dengan membaca catatan masa lalu dan melihat foto kenangan. Buat bahan intropeksi diri, bahasa umatnya (muhasabah) bahasa ndakiknya (kontemplasi). Dan secara ndak sengaja, melihat foto mantan-mantan *anjir bikin nyesek di hidung, kebelet pup jadinya*.

Tapi sebagai lelaki yang memaksa diri untuk produktif. Semua kenangan, catatan, dan bahkan foto-foto mantan. Saya abaikan berlagak acuh, tegar, walaupun ada rasa dilema yang merambat kuat, mengikat melekat di pikiran *berusaha move on*.

Maklum saya punya kebiasaan untuk mendoakan para mantan agar bahagia di sana (di alam kubur maksudnya, dendam kesumat tapi cuma bercanda kok). Wokokokokok....

Ya, mendoakan mantan itu menjadi keharusan. Mendoakan yang baik-baik lah pokoknya. Biar ndak ada dendam antara saya dan para mantan. Betapa pentingnya silaturahmi, kata orang-orang saleh bisa “memperluas pintu rezeki.”

Dalam doa, hati saya bersuara lirih, dan tangan mengadah ke atas (apaan sih, mau muntah kutu kupret dah). Berharap biar tidak ada kisah suram lagi di antara saya dan para mantan. Biar masing-masing menemukan cinta sejatinya. Cinta terakhir untuk melabuhkan hati. Cie, cie, cie... (tapi ndak ngarep balikan lo).

Stop, sarapan pagi dengan kenangan dan varian mantan!!! (memang mengingat kenangan dan mantan membuat saya kalap, ling-lung dilahap masa lalu).

Kembali ke catatan setelah saya bangun.

Pagi ini saya mesti menulis karena semalamam melakukan intropeksi diri. Pikiran saya agaknya sudah geser ke kanan dan ke kiri, ndak beres. Beberapa rencana di dalam catatan saya hanya menjadi sebuah rencana, tanpa tindakan. Membuat saya merasa bersalah pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Rencana saya itu terdiri :

1.      Membuat konten dan bisnis tingwe (linting dewe)

2.      Membuat konten logika (kewajiban marbot di komunitas “stigma”)

3.      Membuat blog sendiri dan blog komunitas “stigma”

4.      Rajin belajar bahasa inggris (metode krebs)

5.  Menulis terus tanpa henti kecuali mau pup, keinget mantan, dan mau sholat (maklum saya punya segudang dosa yang mesti dibakar dalam diri saya, dijual g laku).

Ada 5 rencana yang sampai saat tulisan ini dibuat belum berjalan lancar.

Pertama rencana membuat konten dan bisnis tingwe di media sosial. Saya mengalami hambatan karena belum bisa mengelola waktu. Dan sumber informasi yang mesti saya kumpulkan terlebih dahulu, untuk saya pelajari dan rangkai. Maklum saya masih awam dibidang tingwe (linting dewe)[1].

Kedua membuat konten logika di kanal stigma (komunitas yang saat ini menerima saya apa adanya yang juga sama seperti saya, komunitas yang ndak ada apa-apanya wokowokow, maaf slurd). Tantangan membuat logika itu terletak pada upaya pembuatan video. rencana saya memberikan ulasan logika sederhana tapi agak slengekan. Biar logika ndak dikenal angker seperti suasana di kuburan malam jum’at. Saya belum menemukan rumusan itu.

Ketiga, membuat blog sendiri dan sekarang sudah saya mulai. Tapi dilala asem, wifi di rumah lagi eror (Jian tenan). Ada-ada saja hambatan yang terjadi. Untuk blog komunitas bentar gantian y slurd.

Keempat, rajin belajar bahasa inggris dari metode krebs yang terdiri dari 40 part (buju buset, kalah serial Tersanjung dan Cinta fitri)[2]. Sudah saya jalani dan baru sampai bagian 3. Terus mesti saya ulangi sampai benar—benar paham. Jadi ndak boleh grusa grusu. Tapi saya juga dikejar target belajar bahasa inggris bulanan, *anjritt, sambil nepok jidad*.

Kelima, nah ini, yang saya lakukan sekarang. Terus menulis, tanpa henti. Di sinilah perjuangan saya paling banyak. Melepas pekerjaan. Seolah-olah berani terjun bebas. Padahal hati menangis, berdarah, bernana, lihat ibu yang uang belanjanya ndak lancar karena kondisi saya saat ini. Tapi dengan itu saya ndak boleh menyerah untuk terus menulis. Never give up pokoke...

Setelah saya pikir-pikir lagi. Ternyata pokok masalahnya ada di jalur lintas pikiran saya yang terlalu ramai. Banyak gagasan muncul lebih dari 6 rencana yang saya sebutin di atas, seperti berjualan buku, belajar mendalami blog, mengulas ilmu politik yang pernah saya pelajari, belajar instagram, dan semacanmya, lah.

Apalagi kemarin, saya belum bisa mengerjakan saat kondisinya ramai ketika berada di bascamp. Sebelum masalah ini semakin parah. Menjadi penyakit. Penyakit khayal semacam penyakit pikiran banyak rencana tapi ndak terlaksana.

Saya perlu pulang ke rumah untuk memeriksa dan berbenah dahulu. Semoga setelah proses pembenahan diri, saya semakin produktif, terutama ada progres dalam bidang kepenulisan. Tentunya harapan saya dapat uang (asoy dah semangat terus)

Sudah sampai sini dulu ya slurd, hari ini.

 

 



[1] Tembakau yang digulung dengan kertas atau alat bantu secara manual.

[2]  Sinetron yang tayang di Indosiar dan Sctv dengan episode panjang berhaun-tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...