Sumber gambar: Devianart
Oleh: Udin MsuDalam
perenungan saya dikala malam tiba. Pikiran saya mengalir dengan lancar. Saya
menulis karena belum punya pekerjaan. Belum ada pasangan alias menjomblokan
diri secara tulen. Saya menulis karena hanya itu yang saya bisa. Tidak kurang
dan lebih.
Beberapa
alasan itu belum lah kuat, untuk mendorong saya lebih giat menulis. Saat saya
bangun tengah malam. Melamun sendu meratapi nasib yang amat miris (Ratapan
jomblo pengangguran tapi harus produktif).
Saya
melihat ibu tertidur pulas. Rambutnya sudah memutih, usianya semakin menua.
Membuat mata saya berkaca-kaca. Sudah banyak kesalahan yang saya perbuat. Sudah
banyak dosa, beban, dan kerepotan hidup yang saya berikan padanya.
Saya
larut dalam lamunan dan terus berpikir. Seperti petasan yang meledak *diarrrr,
duorrr.* Makjleb rasanya. Saya takut akan kematian yang tidak saya tahu kapan
tibanya. Saat saya mati, mungkin saya akan gentayangan, ndak tenang, sebab
merasa sangat bersalah kepada ibu. Karena belum membuatnya bahagia.
Ibu
adalah orang yang paling mendukung segala keputusan hidup saya, sampai saat
ini. Kehidupan yang penuh atraksi. Kehidupan yang jungkel-jungkel. Kehidupan
yang berani mengambil resiko, berjalan di atas ketidakpastian. Mulai dari nekat
kuliah tanpa biaya, terjun ke komunitas, hingga menekuni dunia kepenulisaan
sampai saat ini.
Dari
seluruh anggota keluarga inti, hanya ibu yang paling legowo. Dan itu membuat
saya terus berpikir hingga pagi hari. Rasa
cemas, takut, semakin menjadi jadi tanpa henti.
Saat
saya melihat ibu, bangun pagi. Dengan senyuman yang penuh kesabaran. Dalam hati
saya berbicara.
“Bu sepurane
mawon, saya lagi bingung mau berbuat apa. Dereng saget ngasih uang
belanja.” Hati saya tercabik-cabik dengan raut ekpresi wajah yang menahan
malunya setengah mati.
Sebagaimana
seorang ibu, ia begitu peka dengan keadaan anaknya ini. Yang belum tahu jundrungannya
ke mana.
Ibu paham dengan kondisi saya, tanpa perlu saya
jelaskan terlebih dahulu. Hal ini,
menjadi salah satu kehebatan ibu yang patut saya syukuri sebagai
anaknya.
Dengan
menahan rasa remuk di dada. Sepertinya saya perlu untuk sebat sebentar, agar
pikiran saya top cer, ketika mencari ide menulis lagi.
Sebelum
sebat saya selesai, sambil mencari ide menulis.
Ibu
memanggil dari dapur.
Sebagai
anak yang patuh,nurut, dan berbakti. Saya langsung menghentikan aktivitas
sebat. Dan berjalan menuju ibu.
“Dalem
bu,” ucap saya dengan suara rendah.
“Beras,
LPG, sayur, ikan, habis semua. Ada uang untuk belanja ?” Dengan raut wajah yang
sedikit marah, namun dengan nada rendah.
Saya
tidak berkutik untuk menjawab secara spontan. Suara ibu dengan nada rendahnya
seperti tembakan sniper yang menyasar tepat kepala saya “headshot”.
“Enggeh
bu, tak ambilkan dulu,” berlagak punya uang.
Saya
pergi ke ruang tamu dan berpikir harus menjawab apa. Agar ibu tidak meminta
uang belanja kepada saya saat ini.
Saya
memasang wajah pasrah, polos. Memelas dan menjawab.
“Iya
bu, ternyata uangnya belum ada. pakai uang sisa kemarin aja, ya.” Mulut saya
komat kamit agar ibu tidak marah.
Saya
percaya ibu adalah orang yang punya banyak stok kesabaran untuk tidak marah.
Namun,
hari ini semua telah berubah. Ibu yang
saya percayai, sabarnya kelewat batas. Tidak punya hobi marah, kemudian
menjawab.
“Lah,
terus. Ndak masak, ndak makan. Puasa Ramadhan masih lama. Ini kok mau mbok
percepat. Sana cari uang.” Dengan Ekspresi layaknya wajah“Misae Nohara ibunya
Shin-chan.”
Ternyata,
alamak. Kepercayaan saya sudah raib. Melihat ibu marah karena uang belanja.
Membuat saya semakin takut untuk tidak menulis. Saya harus menulis lebih giat,
dan berpikir bagaimana cara mencari uang dari menulis. Segala pekerjaan yang
berhubungan dengan kepenulisan.
Nampaknya
saya harus cepat mendapatkan uang. Agar tidak berada pada kondisi yang lebih
gawat.
Saya
takut, ibu saya tiba-tiba akan lebih marah, menjadi “Misae Nohara ibu Shin-chan
ditambah versi super saiyan.”
Kamehameha....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar