Senin, 22 Maret 2021

Saya Menulis Karena Misae Nohara Versi Super Saiyan

https://www.deviantart.com/ssjgarfield/art/Super-Saiyan-Mitsy-Nohara-17118814

Sumber gambar: Devianart

Oleh: Udin Msu

Saban malam saya merenung. Apa kiranya yang mendorong saya untuk terus menulis? saya berusaha berpikir berulang kali. Sampai-sampai saya menemukan banyak hal. Yang mungkin membuat saya sedih, senang, marah, cemberut, tertawa sendiri, atau bahkan takut setengah mati.

Dalam perenungan saya dikala malam tiba. Pikiran saya mengalir dengan lancar. Saya menulis karena belum punya pekerjaan. Belum ada pasangan alias menjomblokan diri secara tulen. Saya menulis karena hanya itu yang saya bisa. Tidak kurang dan lebih.

Beberapa alasan itu belum lah kuat, untuk mendorong saya lebih giat menulis. Saat saya bangun tengah malam. Melamun sendu meratapi nasib yang amat miris (Ratapan jomblo pengangguran tapi harus produktif).

Saya melihat ibu tertidur pulas. Rambutnya sudah memutih, usianya semakin menua. Membuat mata saya berkaca-kaca. Sudah banyak kesalahan yang saya perbuat. Sudah banyak dosa, beban, dan kerepotan hidup yang saya berikan padanya.

Saya larut dalam lamunan dan terus berpikir. Seperti petasan yang meledak *diarrrr, duorrr.* Makjleb rasanya. Saya takut akan kematian yang tidak saya tahu kapan tibanya. Saat saya mati, mungkin saya akan gentayangan, ndak tenang, sebab merasa sangat bersalah kepada ibu. Karena belum membuatnya bahagia.

Ibu adalah orang yang paling mendukung segala keputusan hidup saya, sampai saat ini. Kehidupan yang penuh atraksi. Kehidupan yang jungkel-jungkel. Kehidupan yang berani mengambil resiko, berjalan di atas ketidakpastian. Mulai dari nekat kuliah tanpa biaya, terjun ke komunitas, hingga menekuni dunia kepenulisaan sampai saat ini.

Dari seluruh anggota keluarga inti, hanya ibu yang paling legowo. Dan itu membuat saya terus berpikir hingga pagi hari.  Rasa cemas, takut, semakin menjadi jadi tanpa henti.

Saat saya melihat ibu, bangun pagi. Dengan senyuman yang penuh kesabaran. Dalam hati saya berbicara.

“Bu sepurane mawon, saya lagi bingung mau berbuat apa. Dereng saget ngasih uang belanja.” Hati saya tercabik-cabik dengan raut ekpresi wajah yang menahan malunya setengah mati.

Sebagaimana seorang ibu, ia begitu peka dengan keadaan anaknya ini. Yang belum tahu jundrungannya ke mana.

Ibu  paham dengan kondisi saya, tanpa perlu saya jelaskan terlebih dahulu. Hal ini,  menjadi salah satu kehebatan ibu yang patut saya syukuri sebagai anaknya.

Dengan menahan rasa remuk di dada. Sepertinya saya perlu untuk sebat sebentar, agar pikiran saya top cer, ketika mencari ide menulis lagi.

Sebelum sebat saya selesai, sambil mencari ide menulis.

Ibu memanggil dari dapur.

Sebagai anak yang patuh,nurut, dan berbakti. Saya langsung menghentikan aktivitas sebat. Dan berjalan menuju ibu.

“Dalem bu,” ucap saya dengan suara rendah.

“Beras, LPG, sayur, ikan, habis semua. Ada uang untuk belanja ?” Dengan raut wajah yang sedikit marah, namun dengan nada rendah.

Saya tidak berkutik untuk menjawab secara spontan. Suara ibu dengan nada rendahnya seperti tembakan sniper yang menyasar tepat kepala saya “headshot”.

“Enggeh bu, tak ambilkan dulu,” berlagak punya uang.

Saya pergi ke ruang tamu dan berpikir harus menjawab apa. Agar ibu tidak meminta uang belanja kepada saya saat ini.

Saya memasang wajah pasrah, polos. Memelas dan menjawab.

“Iya bu, ternyata uangnya belum ada. pakai uang sisa kemarin aja, ya.” Mulut saya komat kamit agar ibu tidak marah.

Saya percaya ibu adalah orang yang punya banyak stok kesabaran untuk tidak marah.

Namun, hari ini semua telah berubah. Ibu  yang saya percayai, sabarnya kelewat batas. Tidak punya hobi marah, kemudian menjawab.

“Lah, terus. Ndak masak, ndak makan. Puasa Ramadhan masih lama. Ini kok mau mbok percepat. Sana cari uang.” Dengan Ekspresi layaknya wajah“Misae Nohara ibunya Shin-chan.”

Ternyata, alamak. Kepercayaan saya sudah raib. Melihat ibu marah karena uang belanja. Membuat saya semakin takut untuk tidak menulis. Saya harus menulis lebih giat, dan berpikir bagaimana cara mencari uang dari menulis. Segala pekerjaan yang berhubungan dengan kepenulisan.

Nampaknya saya harus cepat mendapatkan uang. Agar tidak berada pada kondisi yang lebih gawat.

Saya takut, ibu saya tiba-tiba akan lebih marah, menjadi “Misae Nohara ibu Shin-chan ditambah versi super saiyan.”

Kamehameha....

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...