Jumat, 26 Maret 2021

Kenangan Sungguh Sederhana, yang Luar Biasa Bapernya 😞 😁


Sumber gambar: https://riaupos.jawapos.com/begini-ceritanya/25/09/2020/238780/jas-hujan.htm

Oleh: Udin Msu

Mulanya saya pikir hujan siang ini terasa aneh. Air yang mengguyur basah pakaian saya sangat terasa dingin sekali. Lebih dingin dari es batu yang baru saja keluar dari kulkas Sanyo. *Berrr*

Seolah-olah saya  seperti tidak menggunakan pakaian. Kulit saya terasa membeku, kathuken. Udaranya terasa semriwing sekali. Udara dri kutub selatan sampai di sekitar saya.

Saya berupaya mencari sebab musabab dari keanehan ini.

Semakin saya penasaran berpikir sembari mengendari motor supra kesayangan. Saya baru sadar. Ternyata, saya dilanda kenangan stadium kronis.

Saya terbayang-bayang kenangan bersama seorang perempuan. kami berponcengan sore hari di kala hujan deras. Saya tak kuasa melihat perempuan tersebut  menahan dingin.

“Dingin sekali ya?” Tanya saya kepadanya.

“iya dingin ndak seperti biasanya,” dengan ekspresi menggigil.

“mungkin saya agak ndak enak badan hari ini,” ucapnya.

Mendengar ucapannya, saya merasa seolah-olah tersengat lebah betina. Dengan sigap, saya melepas jaket di tubuh saya, untuk digunakan olehnya. Agar dapat mengurangi rasa dingin, apalagi saya sangat khawatir kalau nanti ia jatuh sakit. Tapi semoga saja, ia tidak jatuh sakit melainkan jatuh hati. Hmm.....

Kemudian, saya berinisiatif mencari tempat berteduh. Dengan sikap yang seperti biasanya, lelaki yang hanya bicara seperlunya kepada lawan jenis. Kecuali jika perempuan tersebut telah menjalin hubungan dengan saya.

Tanpa disadari saya terbawa suasana semacam pasangan yang sedang berperan dalam adengan sinetron ftv.

Perempuan yang ramah, sopan, dan cerdas itu, saya ajak untuk makan dan minum agar dapat membuat tubuhnya terasa lebih hangat.

Nampaknya ia mulai paham dengan cara saya mendekati perasaanya.

Kami saling memandang, mengamati secara diam-diam. Nampaknya saya dibuat kikuk olehnya. 

Maklum, saya bukan lelaki yang pandai untuk mencari-cari ruang kosong , agar dapat masuk ke hatinya. Terlebih dengan cara yang cepat dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ia adalah perempuan yang kemudian hari membuat saya terus berpikir dan menganggu hari-hari saya.

Jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya, pikiran saya berkerja sangat cepat. Bahkan saya selalu bisa merasakan kehadiranya kapanpun dan dimanapun. (Perempuan apa hantu gentanyangan)

Namun waktu terus berjalan, hari demi hari. Saya mulai berpikir untuk mengakhiri semua ini. Merayakan kesedihan. Mengambil keputusan yang amat bertentangan dengan perasaan.

Saya merasa perlu pergi tanpa kabar. (Tapi bukan ghosting, lo ya) Biar jarak diantara kita menjadi penguji. Apakah masing-masing dari kita sama-sama punya hati yang berharap untuk kembali lagi. Tapi bukan hanya bertemu. Melainkan untuk sama-sama mengakui perasaan, menunaikan kewajiban.

Bukan perkara mudah tentunya. Sampai saat ini, saya merasa kenangan itu selalu hidup. Ia enggan pergi. Selalu singgah di pikiran dan perasaan. Menyala terang tak pernah redup sedikitpun, lebih terang dari lampu Philips dan lama. Betapa tersiksanya saya. Memang betul pepatah lama “sepandai-pandai seseorang melompati perasaan, ia akan jatuh hati nyatanya, sejatuh jatuhnya.” (Angel-angel)

Ya, bayangkan saja. saya seperti sedang menjalani perang maha dahsyat yang tak kunjung usai. Berperang dengan bagian saya yang lain.

Apalagi ketika hujan seperti saat ini, saya mencium harum minyak wangi perempuan tersebut. Harumnya membuat saya larut terbawa kenangan. Terbayang-bayang tanpa henti. Ambyar wes rasane.

Setelah sekian tahun berlalu. Waktu enggan berpihak kepada saya. Nyatanya, perempuan itu telah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang tak saya ingin tahu tentangnya.

Rasanya cekit-cekit mengelayut di dada. Seperti ngilu yang berkepanjangan dari gusi ke ulu hati membuat saya tak enak makan, mual-mual. Mumet pokoke slurd.

Hujan yang masih lebat memaksa saya untuk berhenti sejenak. Menuju Giras sekedar meneguk kopi hitam dengan sruputan yang khusyuk. Menghisap tingwe dengan tenang, sambil memutar lagunya Ayah Pidi Baiq “The Panas Dalam.”

Tenang Saja, Perpisahan  tak menyakitkan.

Yang menyakitkan adalah bila habis ini saling lupa.

Tenang Saja, Perpisahan  tak menyakitkan.

Yang menyakitkan adalah bila habis ini saling benci.

Biar kenangan tetaplah menjadi kenangan. Kenangan sungguh sederhana, yang luar biasa bapernya.

Pesan moralnya:  Awas hujan dapat menyebabkan sesak karena serangan kenangan yang datang tiba-tiba di dada tanpa disengaja.  (Uajor jum) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...