Sumber gambar: https://riaupos.jawapos.com/begini-ceritanya/25/09/2020/238780/jas-hujan.htm
Oleh: Udin Msu
Mulanya
saya pikir hujan siang ini terasa aneh. Air yang mengguyur basah pakaian saya
sangat terasa dingin sekali. Lebih dingin dari es batu yang baru saja keluar
dari kulkas Sanyo. *Berrr*
Seolah-olah
saya seperti tidak menggunakan pakaian. Kulit
saya terasa membeku, kathuken. Udaranya terasa semriwing sekali. Udara
dri kutub selatan sampai di sekitar saya.
Saya
berupaya mencari sebab musabab dari keanehan ini.
Semakin
saya penasaran berpikir sembari mengendari motor supra kesayangan. Saya baru
sadar. Ternyata, saya dilanda kenangan stadium kronis.
Saya
terbayang-bayang kenangan bersama seorang perempuan. kami berponcengan sore
hari di kala hujan deras. Saya tak kuasa melihat perempuan tersebut menahan dingin.
“Dingin
sekali ya?” Tanya saya kepadanya.
“iya
dingin ndak seperti biasanya,” dengan ekspresi menggigil.
“mungkin
saya agak ndak enak badan hari ini,” ucapnya.
Mendengar
ucapannya, saya merasa seolah-olah tersengat lebah betina. Dengan sigap, saya melepas
jaket di tubuh saya, untuk digunakan olehnya. Agar dapat mengurangi rasa dingin,
apalagi saya sangat khawatir kalau nanti ia jatuh sakit. Tapi semoga saja, ia tidak
jatuh sakit melainkan jatuh hati. Hmm.....
Kemudian,
saya berinisiatif mencari tempat berteduh. Dengan sikap yang seperti biasanya,
lelaki yang hanya bicara seperlunya kepada lawan jenis. Kecuali jika perempuan
tersebut telah menjalin hubungan dengan saya.
Tanpa
disadari saya terbawa suasana semacam pasangan yang sedang berperan dalam
adengan sinetron ftv.
Perempuan
yang ramah, sopan, dan cerdas itu, saya ajak untuk makan dan minum agar dapat
membuat tubuhnya terasa lebih hangat.
Nampaknya
ia mulai paham dengan cara saya mendekati perasaanya.
Kami
saling memandang, mengamati secara diam-diam. Nampaknya saya dibuat kikuk
olehnya.
Maklum,
saya bukan lelaki yang pandai untuk mencari-cari ruang kosong , agar dapat
masuk ke hatinya. Terlebih dengan cara yang cepat dengan tempo yang
sesingkat-singkatnya.
Ia
adalah perempuan yang kemudian hari membuat saya terus berpikir dan menganggu
hari-hari saya.
Jantung
saya berdetak lebih kencang dari biasanya, pikiran saya berkerja sangat cepat.
Bahkan saya selalu bisa merasakan kehadiranya kapanpun dan dimanapun. (Perempuan
apa hantu gentanyangan)
Namun
waktu terus berjalan, hari demi hari. Saya mulai berpikir untuk mengakhiri
semua ini. Merayakan kesedihan. Mengambil keputusan yang amat bertentangan
dengan perasaan.
Saya
merasa perlu pergi tanpa kabar. (Tapi bukan ghosting, lo ya) Biar jarak
diantara kita menjadi penguji. Apakah masing-masing dari kita sama-sama punya
hati yang berharap untuk kembali lagi. Tapi bukan hanya bertemu. Melainkan untuk
sama-sama mengakui perasaan, menunaikan kewajiban.
Bukan
perkara mudah tentunya. Sampai saat ini, saya merasa kenangan itu selalu hidup.
Ia enggan pergi. Selalu singgah di pikiran dan perasaan. Menyala terang tak
pernah redup sedikitpun, lebih terang dari lampu Philips dan lama. Betapa
tersiksanya saya. Memang betul pepatah lama “sepandai-pandai seseorang
melompati perasaan, ia akan jatuh hati nyatanya, sejatuh jatuhnya.”
(Angel-angel)
Ya,
bayangkan saja. saya seperti sedang menjalani perang maha dahsyat yang tak
kunjung usai. Berperang dengan bagian saya yang lain.
Apalagi
ketika hujan seperti saat ini, saya mencium harum minyak wangi perempuan
tersebut. Harumnya membuat saya larut terbawa kenangan. Terbayang-bayang tanpa
henti. Ambyar wes rasane.
Setelah
sekian tahun berlalu. Waktu enggan berpihak kepada saya. Nyatanya, perempuan
itu telah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang tak saya ingin tahu
tentangnya.
Rasanya
cekit-cekit mengelayut di dada. Seperti ngilu yang berkepanjangan dari gusi ke
ulu hati membuat saya tak enak makan, mual-mual. Mumet pokoke slurd.
Hujan
yang masih lebat memaksa saya untuk berhenti sejenak. Menuju Giras sekedar meneguk kopi hitam dengan sruputan yang khusyuk. Menghisap tingwe
dengan tenang, sambil memutar lagunya Ayah Pidi Baiq “The Panas Dalam.”
Tenang
Saja, Perpisahan tak menyakitkan.
Yang
menyakitkan adalah bila habis ini saling lupa.
Tenang
Saja, Perpisahan tak menyakitkan.
Yang
menyakitkan adalah bila habis ini saling benci.
Biar
kenangan tetaplah menjadi kenangan. Kenangan sungguh sederhana, yang luar biasa
bapernya.
Pesan moralnya: Awas hujan dapat menyebabkan sesak karena serangan kenangan yang datang tiba-tiba di dada tanpa disengaja. (Uajor jum)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar