Jumat, 26 Maret 2021

Saya, Gus Mul dan Raditya Dika

 

Sumber Gambar: http://kowpk.blogspot.com/2012/07/tugas-op-ngapain-aja-sih.html

Oleh: Udin Msu

Operator warnet dan mahasiswa jurusan politik adalah status yang pernah saya jalani. Dengan aneka pengalaman dan kegetiran hidup yang menyertai.

Banyak dukanya, sedikit bahagianya. Duka karena jarang sekali punya uang dan jarang sekali makan. Bahkan tidak ada waktu ketika menjalani hubungan dengan perempuan. Bahagia karena saya sadar tidak semua duka itu selalu menyedihkan. Nyatanya duka bisa ditertawakan juga pada akhirnya.

Selagi tertawa itu gratis, tertawalah. Apalagi membuat orang tertawa menjadi ladang pahala. Asalkan kita tidak menertawakan Tuhan, nabi, agama, ibu, guru, mantan,dan  perempuan. Malati, serius.

Saya, Gus Mul dan Raditya Dika punya kesamaan dalam perjalanan hidup. Gus Mul pernah menjadi operator warnet bertahun-tahun. Operator warnet yang telah malang melintang dari Magelang hingga ke Yogyakarta. Sedangkan, Raditya Dika pernah menjadi mahasiswa jurusan politik di kampus UI, dengan trak record panjang karena sebelumnya pernah kuliah di Australia.  

Jika Gusmul hanya seorang operator warnet. Dan Raditya Dika sebagai mahasiswa jurusan politik semata. Saya adalah fusion selayaknya kartun Dragonball  Son Goku dan Vegeta. Saya adalah fusion dari Operator warnet sekaligus mahasiswa jurusan politik. Untuk itu saya perlu berbangga.  

Walaupun pada akhirnya kebanggan saya pupus. Karena Gus Mul dan Raditya Dika sudah berjalan lebih cepat dari pada saya. Mereka telah menemukan jalan ninjanya masing-masing. Kita semua bertemu dalam hobi yang sama menulis, membaca, mungkin juga menertawakan dunia. Hahaha...

Gus Mul terkenal sebagai penulis, pembicara, dan orang ternama di Mojok.Co (situs yang eksis serta kritis). Sedangkan Raditya Dika, menjadi penulis, sutradara, pelawak, seorang yang punya andil besar dalam stand up comedy Indonesia.

Saya tidak iri ya, dengan keduanya. Baik Gus Mul dan Raditya Dika. Tiap orang punya jalan ninjanya masing-masing

Hanya saja saya berpikir, ada apa gerangan? *Mikir Serius Tingkat Dewa*

Apa yang menyebabkan saya tertinggal jauh dalam hobi ini. Ternyata saya kurang telaten, prigel, agar terus bertahan pada hobi yang saya sukai.

Sebenarnya, saya bukan orang yang mampu menjaga komitmen. Selalu berpindah-pindah dari satu hobi ke hobi lainnya. Dan kurang pandai menerapkan hobi saya dalam kehidupan. Terlebih memikiran agar hobi saya terus berkembang.

Nah, dalam hobi menulis dan membaca, banyak profesi yang dibutuhkan. Mulai dari penulis, penerjemah, editor, copy writer, ghost writer, conten writer, conten creator, analisis data, peneliti, dan hal lain sejenisnya.

Saya baru merasakan hal ini, setelah lulus dari perguruan tinggi. Saya terlalu terobsesi dengan segala aktivitas di luar, berkecimpung di organisasi, belajar menjadi aktivis, suka berdiskusi, dan melakukan aktivitas sosial. Saya tidak memungkirinya, namun dalam lubuk hati saya yang terdalam. saya lebih suka berdiam diri di rumah, membaca, menulis, berjam-jam, berhari-hari, atau bisa jadi seminggu. Saya bisa jamin itu.

Apalagi pas ngelamunin kamu.... Bisa sampai berabad-abad lamanya. (Ngelamun apa dikutuk jati batu Maling Kundang)

Raditya Dika sama halnya dengan Gus Mul. Mereka berdua setia kepada dunia menulis dan membaca.

Gus Mul selalu tampil trenginas di setiap tulisan-tulisanya yang banyak dibaca, dibagikan, berjibun-jibun orang di jagad media. Dari tulisannya yang ringan, jenaka, tapi menohok, sudah ada 5 lebih karya buku yang lahir darinya.

Raditya Dika juga sudah banyak menghasilkan karya: buku komedi, film, stand up comedy. Sudah lebih lima buku Radiya hasilkan. Semua karyanya hampir menghipnotis pembacanya, larut dalam canda tawa.

Perbedaan diantara kita semua. Ada pada cara masing-masing untuk menjalani hobi. Gus Mul terus menekuni dunia bloger hingga menapaki singasana Mojok.co. Website yang sekarang banyak digandrungi oleh masyarakat khususnya kaum muda. Sedangkan Raditya Dika terus bermetamorfosis  dari penulis blog, buku, sutradara, pemain film, stand up comedi. Namun semua masih berhubungan dengan dunia menulis-membaca.

Jika dalam pikiran anda, ada pertanyaan kenapa saya memilih Gus Mul dan Raditya Dika. Karena akhir-akhir ini, saya banyak menghabiskan waktu membaca karya mereka. Dan mendalami karakter mereka, untuk dapat merasakan sentuhan emosional dibalik karya-karyanya.

Selain itu, Gus Mul mewakili dari kelas ekonomi menengah ke bawah sedangkan Raditya Dika dari kelas ekonomi berada. Tidak peduli dari kelas ekonomi manapun, Tuhan boten sare. Terpenting, dalam dunia menulis dan membaca, faktor keseriusan, keuletan dan keyakinan sangat menentukan. Semua orang punya jalan cerita dan rasa deritanya masing-masing. Urip kui sawang –sinawang slurd.

Dari mereka berdua, saya mulai berani untuk kembali memilih menulis-membaca sebagai hobi. Bahkan lebih sekedar hobi, tapi juga kecintaan yang mendalam. Yang semoga nantinya dari dunia menulis-membaca saya akan terus menhgasilkan karya dengan cara dan sudut pandang saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...