Aprilia
Manganang kini adalah lelaki tulen.
Setelah melakukan operasi atas penyakit “hipospadia”. Penyakit kelainan pada titit. Ndak perlu lagi
ada tanya dan ragu kepada Aprilia Manganang (Aprilia ancene cah lanang). Dengan kondisi fisiknya yang
gagah, kekar, berisi, perut yang six-pack seperti roti sobek.
Aprilia
Manganang telah melalui perjalanan panjang berliku penuh duri. Sejak kecil Aprilia
Manganang acap kali mendapatkan bully-an dari orang-orang di lingkungan
sekitarnya. karena kondisi fisiknya yang berbeda. Seorang perempuan dengan cita
rasa keperkasaan lelaki. Menanggung semuanya lebih dari seperempat abad hidupnya.
Saat
Aprilia Manganang masih berlaga dalam bola voli. Fisik Aprilia Manganang kerap menjadi
persoalan dan mengundang protes dari tim lawan. Menyebabkan Aprilia Manganang perlu melakukan
uji feminitas. Hasil tes saat itu, menyatakan Aprilia Manganang memanglah
perempuan.
Orang
tua Aprilia Manganang mendidik dirinya dengan keras sejak kecil. Pekerjaan yang
dipersepsikan kepada lelaki, mencangkul dan memanjat pohon sudah menjadi
pekerjaannya. Aprilia Manganang pantang membedakan pekerjaan perempuan dan
lelaki. Tanpa disadari Aprilia Manganang telah bersiap menjadi lelaki
dikemudian hari.
Aprilia
Manganang mampu merubah berbagai bully-an dan ujian hidup. Semua
itu, menjadi pemicu dan pemacu, yang
mengantarkan Aprilia Manganang pada pencapaian yang tak terbantahkan saat ini.
Aprilia
Mangganang merupakan seorang yang tergolong “anti sambat-sambat club”.
Mental baja dan daya juang yang sudah teruji. Aprilia Manganang, menjebol anggapan bias gender, ketika
perempuan tidak bisa berlaku seperti lelaki pada umumnya. Hal itu tidak bagi
Aprilia Manganang.
Aprilia
Manganang telah menjadi idola perempuan
yang dielu-elukan. Bahkan bagi para lelaki sedikit-banyak akan merasa iri dengan
segenap apa yang dipunyai Aprilia Manganang. Harta benda, prestasi, tubuh
atletis, karir yang aduhai. Bak buah matang yang banyak dilirik ingin dipetik.
Jika
beberapa lelaki merasa iri melihat seorang Aprilia Manganang yang banyak di
puji oleh para perempuan saat ini. Apakah mereka yang iri pernah tergelitik
membayangkan. Seberapa mampukah jika mereka menjadi Aprilia Manganang ?
Menjadi
Aprilia Manganang itu berat, biar ia saja. Sebab orang lain belum tentu kuat.
Mula-mula
bayangkan, jika mereka yang iri dengan Aprilia Manganang. Berada pada posisi Aprilia
Manganang yang belum menjadi seseorang lelaki tulen. Jangan-jangan ada akal nakal yang menggelitik
dan ide-ide yang menggusik.
Ketika
Aprilia Manganang masih menjadi perempuan.
Banyak perempuan yang menjadi temannya. Siapapun bisa membayangkan berada di
kamar ganti perempuan, di toilet perempuan. Merasakan hal yang nyeleneh ganti
baju bersama atau membicarakan hal-hal tentang perempuan secara luar dalam.
Imajinasi mereka yang membayangkan sebagai Aprilia Manganang mulai bergerak
liar dan susah dikendalikan.
Ditambah
lagi, belum tentu ketika orang lain menjadi Aprilia Manganang mampu melakukan
perjuangan dan meraih pencapaian seperti Aprilia Manganang. Hal ini bukan bermaksud
membandingkan orang lain dengan Aprilia
Manganang. Hanya saja, bila ada seseorang yang melihat peristiwa Aprilia
Manganang sebagai bias gender, atau setengah lelaki dan setengah perempuan. Dan
menekankan hanya masalah sebatas “titit” hal itu, salah alamat, slurd.
Aprilia
Manganang mampu mendobrak penjara-penjara psikologis yang diciptakan oleh cara
pandang orang disekitarnya. Sebelum banyak orang belajar berjubal-jubal buku
teori gender. Aprilia Manganang telah melampauinya tanpa mempersoalkan dan
memedulikan peran lelaki atau perempuan.
Hal
semacam ini menjadi keuntungan bagi Aprilia Manganang. ketika Aprilia Manganang
menjadi suami. Aprilia Manganang sudah mampu mandiri menjalani hidupnya tanpa
banyak merepotkan istri. Masak-masak sendiri namun tidur tak sendiri.
Apabila
perempuan masih meragu akan kenjantan
seorang Aprilia Manganang, karena masa lalunya. Lebih baik pikir-pikir lebih
dahulu. Sebab Aprilia Manganang tidak melakukan operasi pergantian kelamin. Melainkan
hanya menyembuhkan penyakit kelainan “titit” yang dialami.
Dari
Aprilia Manganang ada hal yang berkesan dan menjadi pelajaran. Tidak peduli perempuan atau lelaki. Kehidupan tidak pernah
berkompromi, memilah serta memilih dalam memberikan ujian. Semua mempunyai
posisi, porsi yang sama untuk menghadapi, tantangan kehidupan.
Aprilia
Manganang sebagai catatan yang hidup. Aprilia Manganang bukan hanya sebatas
soal “titit”. Tapi perjuangan panjang mencari jati dirinya sebagai lelaki
seratus persen. Dengan rasa syukur Aprilia Manganang mengucap “Ini momen yang sangat saya tunggu,
bahagia banget. Puji Tuhan Yesus saya bisa lewati ini dan saya bersyukur Tuhan
pakai bapak dan ibu untuk pertemukan saya”.
Gerbang
kehidupan baru bagi Aprilia telah terbuka. Aprilia Manganang sebagai seorang
lelaki tulen, sebagai prajurit, sebagai pejuang
dan tentunya sebagai abdi negara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar