Oleh: Udin Msu
Bagi saya, menulis tentang Stigma bukan lah perkara mudah. Stigma
banyak ditafsirkan dengan berbagai macam bentuk. Tapi belum menentukan mana
bentuk yang paling dekat dengannya. Mulai dari sebuah organisasi, komunitas
filsafat, pemikiran, kebudayaan, keilmuan, ataupun bahkan hanya sebatas
paguyuban dan perkumpulan di Surabaya. Oh, Rumitnya.
Ketidakmudahan saya menuliskan tentang stigma. Bisa jadi, karena
saya terlalu dekat denganya. Seolah-olah
antara saya dan stigma tidak ada jarak. Begitu intim sekali. Namun
diam-diam, saya banyak menyimpan rasa yang tidak mudah dijelaskan.
Terkadang saya merasa bangga, sedih, senang, bahagia, sering juga
malu terhadap semua teman yang telah saya
anggap lebih dari teman. Melainkan, sudah seperti keluarga. Ya, Keluarga dengan
arti yang tidak umum keluarga senyawa, sepemikiran, seperjuangan. Malah, melebihi
itu semua, sampai-sampai saya tidak mampu mengartikannya dalam bentuk lisan,
maupun tulisan.
Terkadang jarak amat diperlukan dalam sebuah proses kepenulisan.
Agar seorang penulis dapat berikap objektif. Namun jika itu saya amini dan
imani, saya tidak akan sanggup menulis tentang Stgima. Sejak dulu, kini dan
nanti.
Saya menyadari, Stigma bukan barang mewah yang dapat dijual ke sana-sini,
selayaknya komunitas atau organisasi yang punya harga jual tinggi karena basis
massa yang membludak atau punya eksistensi dan menjadi trendi di jagad media.
Stigma hanya barang remeh temeh yang teramat receh. Tapi justru
dari sanalah saya menyadari, karena yang terlihat receh temeh, sekecil upil
Twinki, Dipsi, Lala, dan Po. Banyak menyimpan harapan dan cita-cita besar, kaum
jomblo reformis dan bucin filosofis.
Bukanhkah, harapan dan cita-cita merupakan imun dan vaksin bagi
manusia yang mampu menyembuhkan dan menyelamatkan dari rasa cemas, takut
berlebihan, akan hidup yang penuh ketidakpastian ini. Apalagi saat seseorang
tepuruk, terjungkal, kemudian jatuh serendah-rendahnya. Dengan harapan dan cita-cita, orang tetap
meyakini, bahwa apapun yang terjadi pasti akan terlewati. Daya ledak harapan
dan cita-cita lebih dahsyat daripada bom atom yang membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki.
Atas dasar itu semua, saya terus bertahan di stigma dengan segala
kekurangan yang ada pada diri saya. Kekurangan yang saban hari, mesti dibenahi,
bergelut dengan diri sendiri
Diumur stigma yang masih balita. Stigma hidup di negeri yang serba
susah di ajak maju. karena kekurangan gizi kesadaran dan nutrisi kedewasaan,
yang sukanya selalu berkelahi ini. Sungguh, sialnya nasib Stigma ini.
Hanya orang-orang tertentulah yang masih mau setia merawat,
memberikan makan, memperhatikan perkembangan. selayakanya anak darah dagingya
sendiri. anak yang dilahirkan tanpa kawin. Semacam kelahiran Isa Al Masih yang
dilahirkan Ibunda Maryam tanpa sentuhan seorang laki-laki. Begitupun dengan
Stigma yang lahir tanpa sentuhan dan persetubuhan politis ala-ala kampus.
Yah, Stigma merupakan anak dari zaman yang serba kekurangan.
Mencoba bertahan dengan keadaan yang masih terseok-seok. Terus bergerak dengan
beragam upaya yang sederhana: Membaca, menulis, berdiskusi, berdagang, terus
melakukan dialektika, berhadap-hadapan melawan keadaan. Berusaha melawan
dirinya sendiri. Melawan rasa malas, ogah-ogahan, karena terjangkit virus
rebahan yang bikin PW (posisi wuenak).
Stigma yang diisi lumayan banyak orang di dalamnya, telah mengalami
pasang surut. Ada yang memilih pergi sejauh mungkin ndak ngasih kabar. Ada yang
tetap bertahan setia menjalani hubungan apa adanya.
Beberapa teman yang tetap bertahan setia dan percaya, ia mesti
melewati aneka keadaan yang tidak mudah: terhalang oleh ruang dan waktu. Seperti,
Mas Irfan pernah menjalani hubungan LDR dengan stigma. Karena terpisah jarak,
antara Surabaya dan Yogya . Ada yang putus nyambung karena kewajiban tertentu
yang tidak bisa ditinggalkan di keluarga.
Saya juga merasakan hal itu. Tapi saya yakin bagi siapapun yang
pergi, memilih setia, menjalani kisah LDR, dan putus nyambung. Stigma adalah
cerita hidup yang sangat bernilai, sehingga tidak mudah dilupakan. Stigma punya
satu ladang petak di lubuk hati yang sudah terpatri dan sulit begitu saja
dihapuskan.
Bisa jadi, melupakan stigma sama halnya dengan memaksakan diri
untuk melupakan kenangan terindah bersama mantan. Sayangnya, hal itu akan
membuat seorang tersiksa. Meredam rindu dan cinta terhadap stigma, sama halnya
dengan meredam kangen dengan mantan. Dampaknya sama dengan bom waktu, cinta dan
rindu yang diredam akan menjarah pikiran serta perasaan dengan kejam. Ferguso Tenan
ra ngapusi.
Saya sendiri tidak berharap terlalu besar kepada Stigma. Harapan
yang nantinya sulit untuk dilakukan dan malah membebani. Walaupun dalam
beberapa kurun waktu ada hal semacam itu yang terus menagih, merintih, untuk
disimpan.
Tapi saya pun perlu melihat kadar kemampuan dan titik mula kita
beranjak, dan terus berjalan. Harapan saya sangat sederhana, minimal kelak “mertua
saya menerima saya sebagai menantu idaman ~~uhuk-uhuk, bangga, karena saya
bagian dari Stigma. Terlebih, anak saya pun sangat bahagia, sampai menceritakan
kisah bapaknya kepada siapa pun yang ia kenal mengenai Stigma. Terutama jika
anak itu dari kamu. Iya kamuuuuu. Kamuuuuu~~. Sudahlah tunggu waktu saya
melamar nanti.

Mantappppš„
BalasHapus