Kamis, 01 April 2021

Beberapa Hal yang Membuat Saya Memilih Setia dan Tetap Bertahan di Stigma

 


Oleh: Udin Msu

Bagi saya, menulis tentang Stigma bukan lah perkara mudah. Stigma banyak ditafsirkan dengan berbagai macam bentuk. Tapi belum menentukan mana bentuk yang paling dekat dengannya. Mulai dari sebuah organisasi, komunitas filsafat, pemikiran, kebudayaan, keilmuan, ataupun bahkan hanya sebatas paguyuban dan perkumpulan di Surabaya. Oh, Rumitnya.

Ketidakmudahan saya menuliskan tentang stigma. Bisa jadi, karena saya terlalu dekat denganya. Seolah-olah  antara saya dan stigma tidak ada jarak. Begitu intim sekali. Namun diam-diam, saya banyak menyimpan rasa yang tidak mudah dijelaskan.

Terkadang saya merasa bangga, sedih, senang, bahagia, sering juga malu terhadap semua teman yang  telah saya anggap lebih dari teman. Melainkan, sudah seperti keluarga. Ya, Keluarga dengan arti yang tidak umum keluarga senyawa, sepemikiran, seperjuangan. Malah, melebihi itu semua, sampai-sampai saya tidak mampu mengartikannya dalam bentuk lisan, maupun tulisan.

Terkadang jarak amat diperlukan dalam sebuah proses kepenulisan. Agar seorang penulis dapat berikap objektif. Namun jika itu saya amini dan imani, saya tidak akan sanggup menulis tentang Stgima. Sejak dulu, kini dan nanti.

Saya menyadari, Stigma bukan barang mewah yang dapat dijual ke sana-sini, selayaknya komunitas atau organisasi yang punya harga jual tinggi karena basis massa yang membludak atau punya eksistensi dan menjadi trendi di jagad media.

Stigma hanya barang remeh temeh yang teramat receh. Tapi justru dari sanalah saya menyadari, karena yang terlihat receh temeh, sekecil upil Twinki, Dipsi, Lala, dan Po. Banyak menyimpan harapan dan cita-cita besar, kaum jomblo reformis dan bucin filosofis.

Bukanhkah, harapan dan cita-cita merupakan imun dan vaksin bagi manusia yang mampu menyembuhkan dan menyelamatkan dari rasa cemas, takut berlebihan, akan hidup yang penuh ketidakpastian ini. Apalagi saat seseorang tepuruk, terjungkal, kemudian jatuh serendah-rendahnya.  Dengan harapan dan cita-cita, orang tetap meyakini, bahwa apapun yang terjadi pasti akan terlewati. Daya ledak harapan dan cita-cita lebih dahsyat daripada bom  atom yang membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Atas dasar itu semua, saya terus bertahan di stigma dengan segala kekurangan yang ada pada diri saya. Kekurangan yang saban hari, mesti dibenahi, bergelut dengan diri sendiri

Diumur stigma yang masih balita. Stigma hidup di negeri yang serba susah di ajak maju. karena kekurangan gizi kesadaran dan nutrisi kedewasaan, yang sukanya selalu berkelahi ini. Sungguh, sialnya nasib Stigma ini.

Hanya orang-orang tertentulah yang masih mau setia merawat, memberikan makan, memperhatikan perkembangan. selayakanya anak darah dagingya sendiri. anak yang dilahirkan tanpa kawin. Semacam kelahiran Isa Al Masih yang dilahirkan Ibunda Maryam tanpa sentuhan seorang laki-laki. Begitupun dengan Stigma yang lahir tanpa sentuhan dan persetubuhan politis ala-ala kampus.

Yah, Stigma merupakan anak dari zaman yang serba kekurangan. Mencoba bertahan dengan keadaan yang masih terseok-seok. Terus bergerak dengan beragam upaya yang sederhana: Membaca, menulis, berdiskusi, berdagang, terus melakukan dialektika, berhadap-hadapan melawan keadaan. Berusaha melawan dirinya sendiri. Melawan rasa malas, ogah-ogahan, karena terjangkit virus rebahan yang bikin PW (posisi wuenak).

Stigma yang diisi lumayan banyak orang di dalamnya, telah mengalami pasang surut. Ada yang memilih pergi sejauh mungkin ndak ngasih kabar. Ada yang tetap bertahan setia menjalani hubungan apa adanya.

Beberapa teman yang tetap bertahan setia dan percaya, ia mesti melewati aneka keadaan yang tidak mudah: terhalang oleh ruang dan waktu. Seperti, Mas Irfan pernah menjalani hubungan LDR dengan stigma. Karena terpisah jarak, antara Surabaya dan Yogya . Ada yang putus nyambung karena kewajiban tertentu yang tidak bisa ditinggalkan di keluarga.

Saya juga merasakan hal itu. Tapi saya yakin bagi siapapun yang pergi, memilih setia, menjalani kisah LDR, dan putus nyambung. Stigma adalah cerita hidup yang sangat bernilai, sehingga tidak mudah dilupakan. Stigma punya satu ladang petak di lubuk hati yang sudah terpatri dan sulit begitu saja dihapuskan.

Bisa jadi, melupakan stigma sama halnya dengan memaksakan diri untuk melupakan kenangan terindah bersama mantan. Sayangnya, hal itu akan membuat seorang tersiksa. Meredam rindu dan cinta terhadap stigma, sama halnya dengan meredam kangen dengan mantan. Dampaknya sama dengan bom waktu, cinta dan rindu yang diredam akan menjarah pikiran serta perasaan dengan kejam. Ferguso Tenan ra ngapusi.

Saya sendiri tidak berharap terlalu besar kepada Stigma. Harapan yang nantinya sulit untuk dilakukan dan malah membebani. Walaupun dalam beberapa kurun waktu ada hal semacam itu yang terus menagih, merintih, untuk disimpan.

Tapi saya pun perlu melihat kadar kemampuan dan titik mula kita beranjak, dan terus berjalan. Harapan saya sangat sederhana, minimal kelak “mertua saya menerima saya sebagai menantu idaman ~~uhuk-uhuk, bangga, karena saya bagian dari Stigma. Terlebih, anak saya pun sangat bahagia, sampai menceritakan kisah bapaknya kepada siapa pun yang ia kenal mengenai Stigma. Terutama jika anak itu dari kamu. Iya kamuuuuu. Kamuuuuu~~. Sudahlah tunggu waktu saya melamar nanti.


1 komentar:

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...