Oleh: Udin Msu
Nduk, kamu lahir di dunia
yang sudah berbeda dengan bapak dan ibumu. Kamu lahir di dunia yang lajunya
begitu cepat. lebih cepat dari mobil balap F1 yang di kendarai Michael Schumacher.
Dunia yang saat ini banyak
mengerus tatanan moral anak-anak kecil dan pemuda-pemudi. Dunia yang dieluh-eluhkan, bahwa materi, popularitas
adalah hal yang utama. Dunia yang membuat orang lupa, jika prinsip utama hidup
adalah menjadi manusia sejak ia lahir di bumi, sampai kelak ia pergi meninggalkan
bumi, hanya menanggalkan nama dan kenangan.
Namamu bukanlah sekedar
rangkaian kata tanpa makna. Bukan juga nama yang ikut-ikutan, asal comot
sana-sini. Apalagi nama kaleng-kaleng. Bukan pula, nama yang agak kebarat-baratan,
kekorea-koreaan ataupun ke arab-araban seperti orang masa kini.
Walaupun bapakmu dan ibumu
sangat memuja sinteron “Ikatan Cinta.” Sinteron yang kini banyak diminati
banyak ibu-ibu di seluruh penjuru Indonesia. Sinteron yang menjadi tontonan,
bagi bangsa dan umat. Namun belum tentu dapat menjadi tuntunan. Hmm, sayangnya.
Namamu menunjukan bahwa,
kamu adalah anak zaman yang lahir dari kesadaran akan dunia yang sedang tidak
baik-baik saja. kamu lahir di tengah keadaan, bahwa banyak orang yang seolah-olah
tertawa bahagia, tapi hatinya menangis berdarah-darah. Aduh, malangnya nasib
mereka.
Ya, kamu lahir di tengah
gelombang kebudayaan yang membuat orang-orang yang lebih tua darimu sering kali
membohongi pikiran, perasaan, dan bahkan tujuan hidupnya. Ngenes e slurd.
Begitu menyedihkan bukan ?
begitu pilunya keadaan.
Untuk itu nduk, ada hal yang
perlu kamu tahu. Dan akhirnya ada hal yang perlu aku tulis untukmu. Sebab
akulah orang yang memberimu nama. Nama yang menjadi doa bagi siapapun orang di
sekitarmu.
Namamu adalah doa. Doa yang
menjadi penyambung antara kamu dan orang di sekelilingmu kepada Tuhan.
Namamu punya arti yang ku ambil
dari rujukan beberapa buku, kitab, kisah suri tauladan yang pernah ku baca. Nama yang lahir dari perenungan realitas dan
sentuhan sakralitas .
Ya, sebelum aku memberi
namamu, aku membuka Al-Quran sebagai pedoman. Aku sangat tertarik, takjub
dengan Surah Asy Syams. Surah yang menganjurkan
agar orang-orang mau berupaya berjuang untuk membersihkan jiwanya. Dan itu pekerjaan
teramat berat bagi siapapun, tanpa terkecuali.
Aku menjadikanya sebagai
sumber inspirasi, kemudian kusempatkan Kata “Tazkiyah.” Kata yang muaranya
tidak jauh dari Al-Quran, dan berhubungan erat dari anjuran para ahli ilmu yang
juga ahli akhlak yang terus memelihara jiwa dan imannya.
Namamu mengisyaratkan
kewajiban padamu nduk, agar engkau berjuang untuk terus melatih dirimu menjadi
manusia seutuhnya. Manusia yang banting tulang menjaga akal sehat, kesadaran,
kewarasan, di tengah zaman Edan.
Manusia yang sekarang dapat
dihitung jumlahnya dari sekian milyaran juta manusia atau bahkan lebih dari
itu. Manusia yang bukan hanya tersusun dari tulang, daging, darah. Yang
menghendaki kehidupan untuk lahir, menikah, menua, dan mati. Hidup tak ubahnya
seperti hewan-hewan yang berdasi, berpakaian rapi, atau mereka yang berangkat
pagi pulang petang menua bersama polusi kehidupan menua di Surabaya seperti
sajak Pak De Seno Gumira Ajidarma. Anjir Udin Msu Ndawuh Cuk.
Namamu Andira aku sempatkan
sebagai satu harapan bapakmu yang memuja sinteron ikatan cinta, yang sangat
terkagum-kagum kepada Andin. Andin yang cantiknya bukan main. Kecantikan yang
membuat para jomblo karatan, dan para duda kesepian: pagi,siang,malam
memikirkannya tanpa henti.
Tapi kamu tak perlu khawatir
jika cantiknya Andin bukan main, maka cantikmu lebih dari itu, dan jauh lebih
bermakna. Cantik luar dalam. cantik sejak dalam pikiran dan perasaan, juga
cantik dari perkataan dan tindakan.
Andira adalah nama dari
pertarungan kebudaayan pop cultur yang mesti kamu ingat. Agar hidupmu tidak
terlalu mendramatisir seperti sinetron di tv, lagu, dan life style yang
serba kekinian.
Nduk, bertumbuhlah dewasa
bersama apapun yang membahagiakanmu. Jadilah manusia, perempuan yang tahu
asal-usulmu. Tahu ke mana kamu harus pergi menuju, menahan rindu dan sesekali
pulang untuk melepas rindu.
Hidup hanya sekali,
jalanilah dengan penuh arti. Jangan terlalu bermimpi untuk menjadi manusia yang
wah. Tetap jadilah manusia sederhana, menjadi manusia, menjadi perempuan dengan
sifat keibuan, yang merawat dan perhatian, dan membuat orang tenang serta
nyaman. Jadilah manusia seperti rumah tempat semua orang berpulang karena sudah
muak dengan kehidupan “dunia penuh tipu-tipu.”
Apapun yang terjadi di
kemudian hari kamu harus belajar untuk selalu tersenyum, tertawa dan bahagia.
Boleh sedih, menangis, tapi hanya sesekali, lo ya. Yang terpenting jangan lupa
makan ben gelis gede.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar