Kamis, 01 April 2021

Andira Tazkiah Lebih Bermakna daripada “Andin” Ikatan Cinta




Oleh: Udin Msu

Nduk, kamu lahir di dunia yang sudah berbeda dengan bapak dan ibumu. Kamu lahir di dunia yang lajunya begitu cepat. lebih cepat dari mobil balap F1 yang di kendarai  Michael Schumacher.

Dunia yang saat ini banyak mengerus tatanan moral anak-anak kecil dan pemuda-pemudi.  Dunia yang dieluh-eluhkan, bahwa materi, popularitas adalah hal yang utama. Dunia yang membuat orang lupa, jika prinsip utama hidup adalah menjadi manusia sejak ia lahir di bumi, sampai kelak ia pergi meninggalkan bumi, hanya menanggalkan nama dan kenangan.

Namamu bukanlah sekedar rangkaian kata tanpa makna. Bukan juga nama yang ikut-ikutan, asal comot sana-sini. Apalagi nama kaleng-kaleng. Bukan pula, nama yang agak kebarat-baratan, kekorea-koreaan ataupun ke arab-araban seperti orang masa kini.

Walaupun bapakmu dan ibumu sangat memuja sinteron “Ikatan Cinta.” Sinteron yang kini banyak diminati banyak ibu-ibu di seluruh penjuru Indonesia. Sinteron yang menjadi tontonan, bagi bangsa dan umat. Namun belum tentu dapat menjadi tuntunan. Hmm, sayangnya.

Namamu menunjukan bahwa, kamu adalah anak zaman yang lahir dari kesadaran akan dunia yang sedang tidak baik-baik saja. kamu lahir di tengah keadaan, bahwa banyak orang yang seolah-olah tertawa bahagia, tapi hatinya menangis berdarah-darah. Aduh, malangnya nasib mereka.

Ya, kamu lahir di tengah gelombang kebudayaan yang membuat orang-orang yang lebih tua darimu sering kali membohongi pikiran, perasaan, dan bahkan tujuan hidupnya. Ngenes e slurd.

Begitu menyedihkan bukan ? begitu pilunya keadaan.

Untuk itu nduk, ada hal yang perlu kamu tahu. Dan akhirnya ada hal yang perlu aku tulis untukmu. Sebab akulah orang yang memberimu nama. Nama yang menjadi doa bagi siapapun orang di sekitarmu.

Namamu adalah doa. Doa yang menjadi penyambung antara kamu dan orang di sekelilingmu kepada Tuhan.

Namamu punya arti yang ku ambil dari rujukan beberapa buku, kitab, kisah suri tauladan yang pernah ku baca.  Nama yang lahir dari perenungan realitas dan sentuhan sakralitas .

Ya, sebelum aku memberi namamu, aku membuka Al-Quran sebagai pedoman. Aku sangat tertarik, takjub dengan Surah Asy Syams. Surah yang menganjurkan agar orang-orang mau berupaya berjuang untuk membersihkan jiwanya. Dan itu pekerjaan teramat berat bagi siapapun, tanpa terkecuali.

Aku menjadikanya sebagai sumber inspirasi, kemudian kusempatkan Kata “Tazkiyah.” Kata yang muaranya tidak jauh dari Al-Quran, dan berhubungan erat dari anjuran para ahli ilmu yang juga ahli akhlak yang terus memelihara jiwa dan imannya.

Namamu mengisyaratkan kewajiban padamu nduk, agar engkau berjuang untuk terus melatih dirimu menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang banting tulang menjaga akal sehat, kesadaran, kewarasan, di tengah zaman Edan.

Manusia yang sekarang dapat dihitung jumlahnya dari sekian milyaran juta manusia atau bahkan lebih dari itu. Manusia yang bukan hanya tersusun dari tulang, daging, darah. Yang menghendaki kehidupan untuk lahir, menikah, menua, dan mati. Hidup tak ubahnya seperti hewan-hewan yang berdasi, berpakaian rapi, atau mereka yang berangkat pagi pulang petang menua bersama polusi kehidupan menua di Surabaya seperti sajak Pak De Seno Gumira Ajidarma. Anjir Udin Msu Ndawuh Cuk.

Namamu Andira aku sempatkan sebagai satu harapan bapakmu yang memuja sinteron ikatan cinta, yang sangat terkagum-kagum kepada Andin. Andin yang cantiknya bukan main. Kecantikan yang membuat para jomblo karatan, dan para duda kesepian: pagi,siang,malam memikirkannya tanpa henti.

Tapi kamu tak perlu khawatir jika cantiknya Andin bukan main, maka cantikmu lebih dari itu, dan jauh lebih bermakna. Cantik luar dalam. cantik sejak dalam pikiran dan perasaan, juga cantik dari perkataan dan tindakan.

Andira adalah nama dari pertarungan kebudaayan pop cultur yang mesti kamu ingat. Agar hidupmu tidak terlalu mendramatisir seperti sinetron di tv, lagu, dan life style yang serba kekinian.

Nduk, bertumbuhlah dewasa bersama apapun yang membahagiakanmu. Jadilah manusia, perempuan yang tahu asal-usulmu. Tahu ke mana kamu harus pergi menuju, menahan rindu dan sesekali pulang untuk melepas rindu.

Hidup hanya sekali, jalanilah dengan penuh arti. Jangan terlalu bermimpi untuk menjadi manusia yang wah. Tetap jadilah manusia sederhana, menjadi manusia, menjadi perempuan dengan sifat keibuan, yang merawat dan perhatian, dan membuat orang tenang serta nyaman. Jadilah manusia seperti rumah tempat semua orang berpulang karena sudah muak dengan kehidupan “dunia penuh tipu-tipu.”

Apapun yang terjadi di kemudian hari kamu harus belajar untuk selalu tersenyum, tertawa dan bahagia. Boleh sedih, menangis, tapi hanya sesekali, lo ya. Yang terpenting jangan lupa makan ben gelis gede.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...