Oleh: Udin Msu
Operator warnet dan mahasiswa jurusan politik adalah status yang
pernah saya jalani. Dengan aneka pengalaman dan kegetiran hidup yang menyertai.
Banyak dukanya, sedikit bahagianya. Duka karena jarang sekali punya
uang dan jarang sekali makan. Bahkan tidak ada waktu ketika menjalani hubungan
dengan perempuan. Bahagia karena saya sadar tidak semua duka itu selalu menyedihkan.
Nyatanya duka bisa ditertawakan juga pada akhirnya.
Selagi tertawa itu gratis, tertawalah. Apalagi membuat orang
tertawa menjadi ladang pahala. Asalkan kita tidak menertawakan Tuhan, nabi,
agama, ibu, guru, mantan,dan perempuan. Malati,
serius.
Saya, Gus Mul dan Raditya Dika punya kesamaan dalam perjalanan
hidup. Gus Mul pernah menjadi operator warnet bertahun-tahun. Operator warnet
yang telah malang melintang dari Magelang hingga ke Yogyakarta. Sedangkan,
Raditya Dika pernah menjadi mahasiswa jurusan politik di kampus UI, dengan trak
record panjang karena sebelumnya pernah kuliah di Australia.
Jika Gusmul hanya seorang operator warnet. Dan Raditya Dika sebagai
mahasiswa jurusan politik semata. Saya adalah fusion selayaknya kartun
Dragonball Son Goku dan Vegeta. Saya
adalah fusion dari Operator warnet sekaligus mahasiswa jurusan politik. Untuk
itu saya perlu berbangga.
Walaupun pada akhirnya kebanggan saya pupus. Karena Gus Mul dan
Raditya Dika sudah berjalan lebih cepat dari pada saya. Mereka telah menemukan
jalan ninjanya masing-masing. Kita semua bertemu dalam hobi yang sama menulis,
membaca, mungkin juga menertawakan dunia. Hahaha...
Gus Mul terkenal sebagai penulis, pembicara, dan orang ternama di
Mojok.Co (situs yang eksis serta kritis). Sedangkan Raditya Dika, menjadi
penulis, sutradara, pelawak, seorang yang punya andil besar dalam stand up comedy
Indonesia.
Saya tidak iri ya, dengan keduanya. Baik Gus Mul dan Raditya Dika. Tiap
orang punya jalan ninjanya masing-masing
Hanya saja saya berpikir, ada apa gerangan? *Mikir Serius Tingkat Dewa*
Apa yang menyebabkan saya tertinggal jauh dalam hobi ini. Ternyata saya
kurang telaten, prigel, agar terus bertahan pada hobi yang saya sukai.
Sebenarnya, saya bukan orang yang mampu menjaga komitmen. Selalu
berpindah-pindah dari satu hobi ke hobi lainnya. Dan kurang pandai menerapkan
hobi saya dalam kehidupan. Terlebih memikiran agar hobi saya terus berkembang.
Nah, dalam hobi menulis dan membaca, banyak profesi yang dibutuhkan.
Mulai dari penulis, penerjemah, editor, copy writer, ghost writer, conten
writer, conten creator, analisis data, peneliti, dan hal lain sejenisnya.
Saya baru merasakan hal ini, setelah lulus dari perguruan tinggi.
Saya terlalu terobsesi dengan segala aktivitas di luar, berkecimpung di
organisasi, belajar menjadi aktivis, suka berdiskusi, dan melakukan aktivitas
sosial. Saya tidak memungkirinya, namun dalam lubuk hati saya yang terdalam.
saya lebih suka berdiam diri di rumah, membaca, menulis, berjam-jam,
berhari-hari, atau bisa jadi seminggu. Saya bisa jamin itu.
Apalagi pas ngelamunin kamu.... Bisa sampai berabad-abad lamanya. (Ngelamun
apa dikutuk jati batu Maling Kundang)
Raditya Dika sama halnya dengan Gus Mul. Mereka berdua setia kepada
dunia menulis dan membaca.
Gus Mul selalu tampil trenginas di setiap tulisan-tulisanya yang
banyak dibaca, dibagikan, berjibun-jibun orang di jagad media. Dari tulisannya
yang ringan, jenaka, tapi menohok, sudah ada 5 lebih karya buku yang lahir
darinya.
Raditya Dika juga sudah banyak menghasilkan karya: buku komedi,
film, stand up comedy. Sudah lebih lima buku Radiya hasilkan. Semua
karyanya hampir menghipnotis pembacanya, larut dalam canda tawa.
Perbedaan diantara kita semua. Ada pada cara masing-masing untuk
menjalani hobi. Gus Mul terus menekuni dunia bloger hingga menapaki singasana Mojok.co.
Website yang sekarang banyak digandrungi oleh masyarakat khususnya kaum muda.
Sedangkan Raditya Dika terus bermetamorfosis dari penulis blog, buku, sutradara, pemain
film, stand up comedi. Namun semua masih berhubungan dengan dunia
menulis-membaca.
Jika dalam pikiran anda, ada pertanyaan kenapa saya memilih Gus Mul
dan Raditya Dika. Karena akhir-akhir ini, saya banyak menghabiskan waktu
membaca karya mereka. Dan mendalami karakter mereka, untuk dapat merasakan sentuhan
emosional dibalik karya-karyanya.
Selain itu, Gus Mul mewakili dari kelas ekonomi menengah ke bawah
sedangkan Raditya Dika dari kelas ekonomi berada. Tidak peduli dari kelas
ekonomi manapun, Tuhan boten sare. Terpenting, dalam dunia menulis dan
membaca, faktor keseriusan, keuletan dan keyakinan sangat menentukan. Semua
orang punya jalan cerita dan rasa deritanya masing-masing. Urip kui sawang
–sinawang slurd.
Dari mereka berdua, saya mulai berani untuk kembali memilih
menulis-membaca sebagai hobi. Bahkan lebih sekedar hobi, tapi juga kecintaan
yang mendalam. Yang semoga nantinya dari dunia menulis-membaca saya akan terus
menhgasilkan karya dengan cara dan sudut pandang saya sendiri.




