Jumat, 26 Maret 2021

Saya, Gus Mul dan Raditya Dika

 

Sumber Gambar: http://kowpk.blogspot.com/2012/07/tugas-op-ngapain-aja-sih.html

Oleh: Udin Msu

Operator warnet dan mahasiswa jurusan politik adalah status yang pernah saya jalani. Dengan aneka pengalaman dan kegetiran hidup yang menyertai.

Banyak dukanya, sedikit bahagianya. Duka karena jarang sekali punya uang dan jarang sekali makan. Bahkan tidak ada waktu ketika menjalani hubungan dengan perempuan. Bahagia karena saya sadar tidak semua duka itu selalu menyedihkan. Nyatanya duka bisa ditertawakan juga pada akhirnya.

Selagi tertawa itu gratis, tertawalah. Apalagi membuat orang tertawa menjadi ladang pahala. Asalkan kita tidak menertawakan Tuhan, nabi, agama, ibu, guru, mantan,dan  perempuan. Malati, serius.

Saya, Gus Mul dan Raditya Dika punya kesamaan dalam perjalanan hidup. Gus Mul pernah menjadi operator warnet bertahun-tahun. Operator warnet yang telah malang melintang dari Magelang hingga ke Yogyakarta. Sedangkan, Raditya Dika pernah menjadi mahasiswa jurusan politik di kampus UI, dengan trak record panjang karena sebelumnya pernah kuliah di Australia.  

Jika Gusmul hanya seorang operator warnet. Dan Raditya Dika sebagai mahasiswa jurusan politik semata. Saya adalah fusion selayaknya kartun Dragonball  Son Goku dan Vegeta. Saya adalah fusion dari Operator warnet sekaligus mahasiswa jurusan politik. Untuk itu saya perlu berbangga.  

Walaupun pada akhirnya kebanggan saya pupus. Karena Gus Mul dan Raditya Dika sudah berjalan lebih cepat dari pada saya. Mereka telah menemukan jalan ninjanya masing-masing. Kita semua bertemu dalam hobi yang sama menulis, membaca, mungkin juga menertawakan dunia. Hahaha...

Gus Mul terkenal sebagai penulis, pembicara, dan orang ternama di Mojok.Co (situs yang eksis serta kritis). Sedangkan Raditya Dika, menjadi penulis, sutradara, pelawak, seorang yang punya andil besar dalam stand up comedy Indonesia.

Saya tidak iri ya, dengan keduanya. Baik Gus Mul dan Raditya Dika. Tiap orang punya jalan ninjanya masing-masing

Hanya saja saya berpikir, ada apa gerangan? *Mikir Serius Tingkat Dewa*

Apa yang menyebabkan saya tertinggal jauh dalam hobi ini. Ternyata saya kurang telaten, prigel, agar terus bertahan pada hobi yang saya sukai.

Sebenarnya, saya bukan orang yang mampu menjaga komitmen. Selalu berpindah-pindah dari satu hobi ke hobi lainnya. Dan kurang pandai menerapkan hobi saya dalam kehidupan. Terlebih memikiran agar hobi saya terus berkembang.

Nah, dalam hobi menulis dan membaca, banyak profesi yang dibutuhkan. Mulai dari penulis, penerjemah, editor, copy writer, ghost writer, conten writer, conten creator, analisis data, peneliti, dan hal lain sejenisnya.

Saya baru merasakan hal ini, setelah lulus dari perguruan tinggi. Saya terlalu terobsesi dengan segala aktivitas di luar, berkecimpung di organisasi, belajar menjadi aktivis, suka berdiskusi, dan melakukan aktivitas sosial. Saya tidak memungkirinya, namun dalam lubuk hati saya yang terdalam. saya lebih suka berdiam diri di rumah, membaca, menulis, berjam-jam, berhari-hari, atau bisa jadi seminggu. Saya bisa jamin itu.

Apalagi pas ngelamunin kamu.... Bisa sampai berabad-abad lamanya. (Ngelamun apa dikutuk jati batu Maling Kundang)

Raditya Dika sama halnya dengan Gus Mul. Mereka berdua setia kepada dunia menulis dan membaca.

Gus Mul selalu tampil trenginas di setiap tulisan-tulisanya yang banyak dibaca, dibagikan, berjibun-jibun orang di jagad media. Dari tulisannya yang ringan, jenaka, tapi menohok, sudah ada 5 lebih karya buku yang lahir darinya.

Raditya Dika juga sudah banyak menghasilkan karya: buku komedi, film, stand up comedy. Sudah lebih lima buku Radiya hasilkan. Semua karyanya hampir menghipnotis pembacanya, larut dalam canda tawa.

Perbedaan diantara kita semua. Ada pada cara masing-masing untuk menjalani hobi. Gus Mul terus menekuni dunia bloger hingga menapaki singasana Mojok.co. Website yang sekarang banyak digandrungi oleh masyarakat khususnya kaum muda. Sedangkan Raditya Dika terus bermetamorfosis  dari penulis blog, buku, sutradara, pemain film, stand up comedi. Namun semua masih berhubungan dengan dunia menulis-membaca.

Jika dalam pikiran anda, ada pertanyaan kenapa saya memilih Gus Mul dan Raditya Dika. Karena akhir-akhir ini, saya banyak menghabiskan waktu membaca karya mereka. Dan mendalami karakter mereka, untuk dapat merasakan sentuhan emosional dibalik karya-karyanya.

Selain itu, Gus Mul mewakili dari kelas ekonomi menengah ke bawah sedangkan Raditya Dika dari kelas ekonomi berada. Tidak peduli dari kelas ekonomi manapun, Tuhan boten sare. Terpenting, dalam dunia menulis dan membaca, faktor keseriusan, keuletan dan keyakinan sangat menentukan. Semua orang punya jalan cerita dan rasa deritanya masing-masing. Urip kui sawang –sinawang slurd.

Dari mereka berdua, saya mulai berani untuk kembali memilih menulis-membaca sebagai hobi. Bahkan lebih sekedar hobi, tapi juga kecintaan yang mendalam. Yang semoga nantinya dari dunia menulis-membaca saya akan terus menhgasilkan karya dengan cara dan sudut pandang saya sendiri.

Kenangan Sungguh Sederhana, yang Luar Biasa Bapernya 😞 😁


Sumber gambar: https://riaupos.jawapos.com/begini-ceritanya/25/09/2020/238780/jas-hujan.htm

Oleh: Udin Msu

Mulanya saya pikir hujan siang ini terasa aneh. Air yang mengguyur basah pakaian saya sangat terasa dingin sekali. Lebih dingin dari es batu yang baru saja keluar dari kulkas Sanyo. *Berrr*

Seolah-olah saya  seperti tidak menggunakan pakaian. Kulit saya terasa membeku, kathuken. Udaranya terasa semriwing sekali. Udara dri kutub selatan sampai di sekitar saya.

Saya berupaya mencari sebab musabab dari keanehan ini.

Semakin saya penasaran berpikir sembari mengendari motor supra kesayangan. Saya baru sadar. Ternyata, saya dilanda kenangan stadium kronis.

Saya terbayang-bayang kenangan bersama seorang perempuan. kami berponcengan sore hari di kala hujan deras. Saya tak kuasa melihat perempuan tersebut  menahan dingin.

“Dingin sekali ya?” Tanya saya kepadanya.

“iya dingin ndak seperti biasanya,” dengan ekspresi menggigil.

“mungkin saya agak ndak enak badan hari ini,” ucapnya.

Mendengar ucapannya, saya merasa seolah-olah tersengat lebah betina. Dengan sigap, saya melepas jaket di tubuh saya, untuk digunakan olehnya. Agar dapat mengurangi rasa dingin, apalagi saya sangat khawatir kalau nanti ia jatuh sakit. Tapi semoga saja, ia tidak jatuh sakit melainkan jatuh hati. Hmm.....

Kemudian, saya berinisiatif mencari tempat berteduh. Dengan sikap yang seperti biasanya, lelaki yang hanya bicara seperlunya kepada lawan jenis. Kecuali jika perempuan tersebut telah menjalin hubungan dengan saya.

Tanpa disadari saya terbawa suasana semacam pasangan yang sedang berperan dalam adengan sinetron ftv.

Perempuan yang ramah, sopan, dan cerdas itu, saya ajak untuk makan dan minum agar dapat membuat tubuhnya terasa lebih hangat.

Nampaknya ia mulai paham dengan cara saya mendekati perasaanya.

Kami saling memandang, mengamati secara diam-diam. Nampaknya saya dibuat kikuk olehnya. 

Maklum, saya bukan lelaki yang pandai untuk mencari-cari ruang kosong , agar dapat masuk ke hatinya. Terlebih dengan cara yang cepat dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ia adalah perempuan yang kemudian hari membuat saya terus berpikir dan menganggu hari-hari saya.

Jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya, pikiran saya berkerja sangat cepat. Bahkan saya selalu bisa merasakan kehadiranya kapanpun dan dimanapun. (Perempuan apa hantu gentanyangan)

Namun waktu terus berjalan, hari demi hari. Saya mulai berpikir untuk mengakhiri semua ini. Merayakan kesedihan. Mengambil keputusan yang amat bertentangan dengan perasaan.

Saya merasa perlu pergi tanpa kabar. (Tapi bukan ghosting, lo ya) Biar jarak diantara kita menjadi penguji. Apakah masing-masing dari kita sama-sama punya hati yang berharap untuk kembali lagi. Tapi bukan hanya bertemu. Melainkan untuk sama-sama mengakui perasaan, menunaikan kewajiban.

Bukan perkara mudah tentunya. Sampai saat ini, saya merasa kenangan itu selalu hidup. Ia enggan pergi. Selalu singgah di pikiran dan perasaan. Menyala terang tak pernah redup sedikitpun, lebih terang dari lampu Philips dan lama. Betapa tersiksanya saya. Memang betul pepatah lama “sepandai-pandai seseorang melompati perasaan, ia akan jatuh hati nyatanya, sejatuh jatuhnya.” (Angel-angel)

Ya, bayangkan saja. saya seperti sedang menjalani perang maha dahsyat yang tak kunjung usai. Berperang dengan bagian saya yang lain.

Apalagi ketika hujan seperti saat ini, saya mencium harum minyak wangi perempuan tersebut. Harumnya membuat saya larut terbawa kenangan. Terbayang-bayang tanpa henti. Ambyar wes rasane.

Setelah sekian tahun berlalu. Waktu enggan berpihak kepada saya. Nyatanya, perempuan itu telah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang tak saya ingin tahu tentangnya.

Rasanya cekit-cekit mengelayut di dada. Seperti ngilu yang berkepanjangan dari gusi ke ulu hati membuat saya tak enak makan, mual-mual. Mumet pokoke slurd.

Hujan yang masih lebat memaksa saya untuk berhenti sejenak. Menuju Giras sekedar meneguk kopi hitam dengan sruputan yang khusyuk. Menghisap tingwe dengan tenang, sambil memutar lagunya Ayah Pidi Baiq “The Panas Dalam.”

Tenang Saja, Perpisahan  tak menyakitkan.

Yang menyakitkan adalah bila habis ini saling lupa.

Tenang Saja, Perpisahan  tak menyakitkan.

Yang menyakitkan adalah bila habis ini saling benci.

Biar kenangan tetaplah menjadi kenangan. Kenangan sungguh sederhana, yang luar biasa bapernya.

Pesan moralnya:  Awas hujan dapat menyebabkan sesak karena serangan kenangan yang datang tiba-tiba di dada tanpa disengaja.  (Uajor jum) 

Senin, 22 Maret 2021

Saya Menulis Karena Misae Nohara Versi Super Saiyan

https://www.deviantart.com/ssjgarfield/art/Super-Saiyan-Mitsy-Nohara-17118814

Sumber gambar: Devianart

Oleh: Udin Msu

Saban malam saya merenung. Apa kiranya yang mendorong saya untuk terus menulis? saya berusaha berpikir berulang kali. Sampai-sampai saya menemukan banyak hal. Yang mungkin membuat saya sedih, senang, marah, cemberut, tertawa sendiri, atau bahkan takut setengah mati.

Dalam perenungan saya dikala malam tiba. Pikiran saya mengalir dengan lancar. Saya menulis karena belum punya pekerjaan. Belum ada pasangan alias menjomblokan diri secara tulen. Saya menulis karena hanya itu yang saya bisa. Tidak kurang dan lebih.

Beberapa alasan itu belum lah kuat, untuk mendorong saya lebih giat menulis. Saat saya bangun tengah malam. Melamun sendu meratapi nasib yang amat miris (Ratapan jomblo pengangguran tapi harus produktif).

Saya melihat ibu tertidur pulas. Rambutnya sudah memutih, usianya semakin menua. Membuat mata saya berkaca-kaca. Sudah banyak kesalahan yang saya perbuat. Sudah banyak dosa, beban, dan kerepotan hidup yang saya berikan padanya.

Saya larut dalam lamunan dan terus berpikir. Seperti petasan yang meledak *diarrrr, duorrr.* Makjleb rasanya. Saya takut akan kematian yang tidak saya tahu kapan tibanya. Saat saya mati, mungkin saya akan gentayangan, ndak tenang, sebab merasa sangat bersalah kepada ibu. Karena belum membuatnya bahagia.

Ibu adalah orang yang paling mendukung segala keputusan hidup saya, sampai saat ini. Kehidupan yang penuh atraksi. Kehidupan yang jungkel-jungkel. Kehidupan yang berani mengambil resiko, berjalan di atas ketidakpastian. Mulai dari nekat kuliah tanpa biaya, terjun ke komunitas, hingga menekuni dunia kepenulisaan sampai saat ini.

Dari seluruh anggota keluarga inti, hanya ibu yang paling legowo. Dan itu membuat saya terus berpikir hingga pagi hari.  Rasa cemas, takut, semakin menjadi jadi tanpa henti.

Saat saya melihat ibu, bangun pagi. Dengan senyuman yang penuh kesabaran. Dalam hati saya berbicara.

“Bu sepurane mawon, saya lagi bingung mau berbuat apa. Dereng saget ngasih uang belanja.” Hati saya tercabik-cabik dengan raut ekpresi wajah yang menahan malunya setengah mati.

Sebagaimana seorang ibu, ia begitu peka dengan keadaan anaknya ini. Yang belum tahu jundrungannya ke mana.

Ibu  paham dengan kondisi saya, tanpa perlu saya jelaskan terlebih dahulu. Hal ini,  menjadi salah satu kehebatan ibu yang patut saya syukuri sebagai anaknya.

Dengan menahan rasa remuk di dada. Sepertinya saya perlu untuk sebat sebentar, agar pikiran saya top cer, ketika mencari ide menulis lagi.

Sebelum sebat saya selesai, sambil mencari ide menulis.

Ibu memanggil dari dapur.

Sebagai anak yang patuh,nurut, dan berbakti. Saya langsung menghentikan aktivitas sebat. Dan berjalan menuju ibu.

“Dalem bu,” ucap saya dengan suara rendah.

“Beras, LPG, sayur, ikan, habis semua. Ada uang untuk belanja ?” Dengan raut wajah yang sedikit marah, namun dengan nada rendah.

Saya tidak berkutik untuk menjawab secara spontan. Suara ibu dengan nada rendahnya seperti tembakan sniper yang menyasar tepat kepala saya “headshot”.

“Enggeh bu, tak ambilkan dulu,” berlagak punya uang.

Saya pergi ke ruang tamu dan berpikir harus menjawab apa. Agar ibu tidak meminta uang belanja kepada saya saat ini.

Saya memasang wajah pasrah, polos. Memelas dan menjawab.

“Iya bu, ternyata uangnya belum ada. pakai uang sisa kemarin aja, ya.” Mulut saya komat kamit agar ibu tidak marah.

Saya percaya ibu adalah orang yang punya banyak stok kesabaran untuk tidak marah.

Namun, hari ini semua telah berubah. Ibu  yang saya percayai, sabarnya kelewat batas. Tidak punya hobi marah, kemudian menjawab.

“Lah, terus. Ndak masak, ndak makan. Puasa Ramadhan masih lama. Ini kok mau mbok percepat. Sana cari uang.” Dengan Ekspresi layaknya wajah“Misae Nohara ibunya Shin-chan.”

Ternyata, alamak. Kepercayaan saya sudah raib. Melihat ibu marah karena uang belanja. Membuat saya semakin takut untuk tidak menulis. Saya harus menulis lebih giat, dan berpikir bagaimana cara mencari uang dari menulis. Segala pekerjaan yang berhubungan dengan kepenulisan.

Nampaknya saya harus cepat mendapatkan uang. Agar tidak berada pada kondisi yang lebih gawat.

Saya takut, ibu saya tiba-tiba akan lebih marah, menjadi “Misae Nohara ibu Shin-chan ditambah versi super saiyan.”

Kamehameha....

 

Kamis, 18 Maret 2021

Sarapan Kenangan, Varian Menu Mantan, dan Penyakit Khayal

Sumber gambar: https://gambarkartunlucuterbaru.blogspot.com/1978/04/gambar-kartun-lucu-lagi-makan.html

Oleh: Udin Msu

Pagi ini saya bangun paling awal, dari pada orang seisi rumah. Betapa rajinya saya, seorang lelaki muda di zaman yang penuh kemicin-micinan, masih menjaga tradisi bangun pagi (memuji diri sendiri yang sadar, kalau tradisi bangun pagi itu kebiasaan pak kebon di sekolah, kali).

Ada rasa stres yang menghampiri, jika saya bangun kelewat siang. Seolah-olah seharian, saya seperti dikejar-kejar mbak kunti, ndak tenang, galau, pikiran kemana-mana. Karena banyak kerjaan bertimbun-timbun di rumah.

Pekerjaan yang belum menghasilkan uang *ngenes banget dah.* Mulai dari mandi, subuh’an, ngaji, menata jadwal seharian, masak, bersih-bersih, makan, sebat. Kemudian, menulis, bertemu mentor kepenulisan (alamat, nuntun kalau bensin ndak cukup), mencuci motor, pulang nyusun jadwal tidur bentar, bangun lagi.

Ketika membuka laptop, saya mengawalinya dengan membaca catatan masa lalu dan melihat foto kenangan. Buat bahan intropeksi diri, bahasa umatnya (muhasabah) bahasa ndakiknya (kontemplasi). Dan secara ndak sengaja, melihat foto mantan-mantan *anjir bikin nyesek di hidung, kebelet pup jadinya*.

Tapi sebagai lelaki yang memaksa diri untuk produktif. Semua kenangan, catatan, dan bahkan foto-foto mantan. Saya abaikan berlagak acuh, tegar, walaupun ada rasa dilema yang merambat kuat, mengikat melekat di pikiran *berusaha move on*.

Maklum saya punya kebiasaan untuk mendoakan para mantan agar bahagia di sana (di alam kubur maksudnya, dendam kesumat tapi cuma bercanda kok). Wokokokokok....

Ya, mendoakan mantan itu menjadi keharusan. Mendoakan yang baik-baik lah pokoknya. Biar ndak ada dendam antara saya dan para mantan. Betapa pentingnya silaturahmi, kata orang-orang saleh bisa “memperluas pintu rezeki.”

Dalam doa, hati saya bersuara lirih, dan tangan mengadah ke atas (apaan sih, mau muntah kutu kupret dah). Berharap biar tidak ada kisah suram lagi di antara saya dan para mantan. Biar masing-masing menemukan cinta sejatinya. Cinta terakhir untuk melabuhkan hati. Cie, cie, cie... (tapi ndak ngarep balikan lo).

Stop, sarapan pagi dengan kenangan dan varian mantan!!! (memang mengingat kenangan dan mantan membuat saya kalap, ling-lung dilahap masa lalu).

Kembali ke catatan setelah saya bangun.

Pagi ini saya mesti menulis karena semalamam melakukan intropeksi diri. Pikiran saya agaknya sudah geser ke kanan dan ke kiri, ndak beres. Beberapa rencana di dalam catatan saya hanya menjadi sebuah rencana, tanpa tindakan. Membuat saya merasa bersalah pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Rencana saya itu terdiri :

1.      Membuat konten dan bisnis tingwe (linting dewe)

2.      Membuat konten logika (kewajiban marbot di komunitas “stigma”)

3.      Membuat blog sendiri dan blog komunitas “stigma”

4.      Rajin belajar bahasa inggris (metode krebs)

5.  Menulis terus tanpa henti kecuali mau pup, keinget mantan, dan mau sholat (maklum saya punya segudang dosa yang mesti dibakar dalam diri saya, dijual g laku).

Ada 5 rencana yang sampai saat tulisan ini dibuat belum berjalan lancar.

Pertama rencana membuat konten dan bisnis tingwe di media sosial. Saya mengalami hambatan karena belum bisa mengelola waktu. Dan sumber informasi yang mesti saya kumpulkan terlebih dahulu, untuk saya pelajari dan rangkai. Maklum saya masih awam dibidang tingwe (linting dewe)[1].

Kedua membuat konten logika di kanal stigma (komunitas yang saat ini menerima saya apa adanya yang juga sama seperti saya, komunitas yang ndak ada apa-apanya wokowokow, maaf slurd). Tantangan membuat logika itu terletak pada upaya pembuatan video. rencana saya memberikan ulasan logika sederhana tapi agak slengekan. Biar logika ndak dikenal angker seperti suasana di kuburan malam jum’at. Saya belum menemukan rumusan itu.

Ketiga, membuat blog sendiri dan sekarang sudah saya mulai. Tapi dilala asem, wifi di rumah lagi eror (Jian tenan). Ada-ada saja hambatan yang terjadi. Untuk blog komunitas bentar gantian y slurd.

Keempat, rajin belajar bahasa inggris dari metode krebs yang terdiri dari 40 part (buju buset, kalah serial Tersanjung dan Cinta fitri)[2]. Sudah saya jalani dan baru sampai bagian 3. Terus mesti saya ulangi sampai benar—benar paham. Jadi ndak boleh grusa grusu. Tapi saya juga dikejar target belajar bahasa inggris bulanan, *anjritt, sambil nepok jidad*.

Kelima, nah ini, yang saya lakukan sekarang. Terus menulis, tanpa henti. Di sinilah perjuangan saya paling banyak. Melepas pekerjaan. Seolah-olah berani terjun bebas. Padahal hati menangis, berdarah, bernana, lihat ibu yang uang belanjanya ndak lancar karena kondisi saya saat ini. Tapi dengan itu saya ndak boleh menyerah untuk terus menulis. Never give up pokoke...

Setelah saya pikir-pikir lagi. Ternyata pokok masalahnya ada di jalur lintas pikiran saya yang terlalu ramai. Banyak gagasan muncul lebih dari 6 rencana yang saya sebutin di atas, seperti berjualan buku, belajar mendalami blog, mengulas ilmu politik yang pernah saya pelajari, belajar instagram, dan semacanmya, lah.

Apalagi kemarin, saya belum bisa mengerjakan saat kondisinya ramai ketika berada di bascamp. Sebelum masalah ini semakin parah. Menjadi penyakit. Penyakit khayal semacam penyakit pikiran banyak rencana tapi ndak terlaksana.

Saya perlu pulang ke rumah untuk memeriksa dan berbenah dahulu. Semoga setelah proses pembenahan diri, saya semakin produktif, terutama ada progres dalam bidang kepenulisan. Tentunya harapan saya dapat uang (asoy dah semangat terus)

Sudah sampai sini dulu ya slurd, hari ini.

 

 



[1] Tembakau yang digulung dengan kertas atau alat bantu secara manual.

[2]  Sinetron yang tayang di Indosiar dan Sctv dengan episode panjang berhaun-tahun.

Rabu, 17 Maret 2021

Menulis Sebagai Upaya Meneliti Diri


Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/U1tXojg2jrmT28T76

Oleh: Udin Msu

Bagi saya menulis hanyalah salah satu aktivitas kecil, yang dapat dilakukan dalam kehidupan yang singkat ini. Saya berpikir ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dasar seseorang untuk berpikir dan bertindak termasuk menulis. Terserah apapun  nilai yang diyakininya.  Pertimbangan mendasar yang bila perlu dipertanyakan kembali.

Dari segala pertimbangan beberapa orang lebih menekankan hasil, keuntungan, kenikmatan, dan kenyamanan. Namun dalam aktivitas menulis, hal semacam  itu susah ditemui. Mungkin itu bukanlah  hal yang salah.  Sebab saya-pun tidak hendak menuliskan catatan ini dari kaca mata salah-benar, pro-kontra. Melainkan, menggunakan cara pandang yang lebih luwas-luwes.

Selain itu, saya mesti sadar. Saya merupakan orang yang serba kekurangan dari segi wawasan, filsafat, agama, budaya, ideologi, dan teologi. Banyak hal dalam kehidupan ini yang belum saya ketahui. Terlebih pengetahuan akan diri saya “sendiri”. Memahami potensi, memahami posisi, memahami kondisi, memahami orientasi atas segala hal yang sudah mengalir di dalam diri.

Sehingga kesadaran saya akan tulisan ini berangkat dari upaya untuk meneliti diri. saya menulis bukan karena ingin menjadi penulis. Saya menulis bukan karena ngeshok intelek. Bukan karena berharap banyak di kenali, agar dapat go public.  Atau pun Bahkan bukan karena saya punya warisan kebiasaan menulis yang turun menurun di keluarga.

Saya memaknai menulis sebagai proses untuk berusaha jujur pada diri sendiri. saya menulis karena ada kewajiban yang mesti saya tulis. Agar terus terjaga dan terikat pada falsafah dan tidak melanggar batas-batas pagar moral. Dengan menulis saya mengerti ada perubahan yang terus menerus bagi diri saya setiap waktu.  Menulis adalah tradisi saya menyikapi aneka kenyataan, kepahitan, kepiluan, kelucuan, kekonyolan hidup. Menulis dapat membuat saya bersilaturahmi dan bertemu dari satu gagasan ke gagasan lainnya. semacam kepuasan batin yang ngeh rasanya.

Dari beragam tema yang ada seperti budaya, sosial-politik, filsafat ataupun hal-hal kecil yang ada di depan mata. Saya lebih memilih untuk menulis segala hal yang bersumber dari dalam diri. memulainya dari yang tersirat. Saya merasakan ada dialektika yang terus berlangsung dalam diri saya.  Diakletika itula yang memacu saya untuk terus meneliti diri dengan khusyuk.

Tatkala nanti jika saya mulai menulis dengan tema yang lain. Terlebih politik, sebenarnya politik yang keluar dari dalam diri saya. Bukanlah murni politik yang marak dipelajari di perguruan tinggi. Bukan juga politik yang banyak disuguhkan media. Atau seperti politik  yang banyak diamini para pejabat dan penguasa. Saya tidak akan mengatakan bagaimana dan apa politik yang saya maksud. Tiap orang pasti mengerti sedikit banyak politik tersebut. Dan saya tidak berniatan untuk membahasnya di sini.

Oleh karenanya, tulisan  politik yang bersumber  dari dalam diri saya merupakan potret batin manusia. Politik yang bernuansa lelaku prihatin. Politik yang terus berjuang dan bertahan  hidup berposes menjadi manusia.  Di tengah gempuran budaya pemujaan materi  yang melanda nilai-nilai kemanusiaan.

Apabila ketika tulisan dan tindakan saya menyentuh wilayah politik praktis. saya tidak akan rela dan mau terikat dengan kekuasaan buatan. Kekuasaan yang bukan-bukan. Kekuasaan yang menjadikan seseorang malah dikuasai oleh kediktatoran yang menjelma pada dirinya sendiri. orang yang semacam itu tidak akan merasakan kedamaian dalam hidupnya. Karena ia digerakaan oleh kekuatan yang mestinya ia kendalikan.

Mungkin tulisan ini memperlihatkan saya sebagai seorang idealis. Tapi sejujurnya tidak. Saya hanya berusaha sebisa mungkin melakoni hidup yang penuh sandirawa ini. Dengan santuy, senda gurau, dan tetap menginsyafi  kehidupan yang sederhana “urip mung mampir ngombe” agar dapat selaras dengan Sang Maha Sutradara.

Dimulai dari sekarang ketika saya kembali menata niat untuk menulis. Saya akan berupaya untuk terus menulis. Menulis dimanapun. Menulis kapanpun. Menulis apapun. Menulis dengan ikhtiar untuk melakukan penelitian diri.

Dengan menulis saya dapat mengerti diri saya. Mengerti apa yang mestinya saya lakukan. Ketika pikiran saya terus bekerja tanpa libur. Dan hati saya terus terasah agar tidak tumpul.  Melihat, merasakan, membaca, memahami, mengerti, menjadikannya kreasi gagasan dalam bentuk tulisan dengan sudut pandang seorang yang terus berjuang menjadi manusia. Sehingga nilai dasar yang menjadi pertimbangan saya dalam berpikir dan bertindak untuk menulis. Hanya semata-mata kembali berproses menjadi manusia.     

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...