![]() |
| Sumber gambar: Lensa Purbalingga |
Oleh: Udin Msu
Padamnya
listrik dan gerimis yang tak kunjung reda. Membuat mas berteriak meronta-ronta.
Menduga-duga mencari apa yang sebenarnya terjadi.
Ia begitu geram
nan amat kesal, apa sebab?
Sebabnya,
ia urung menonton pertandingan sepak bola di televisi, yang sudah dinanti-nanti
beberapa hari.
Ia sangat
menunggu tim sepak bola kesayangan yang juga teramat dicintainya berlaga. Ya,
Pertandingan antara Persebaya dan PSS Sleman, dalam Liga Menpora yang sedang
berlangsung.
Pertandingan
yang sebenarnya, ndak penting-penting amat. Kalau dipikir-pikir. Menang atau
pun kalah, Persebaya tetap lolos ke babak selanjutnya. Karena Persebaya berada
di puncak klasemen grup c.
Namun
pertimbangan semacam itu, ndak berlaku baginya. Seseorang yang sangat meyakini
slogan NKRI Persebaya harga mati.
Ia sangat
mencintai Persebaya sejak remaja hingga dirinya mulai menua. Tidak sedikitpun
terbesit dalam benaknya ada tim lain yang membuatnya kepincut.
Walaupun ia
menyadari, dahulu Persebaya pernah memasuki masa kegelapan: merosotnya prestasi
Persebaya, dualisme internal, parahnya intrik politik sepak bola Indonesia yang
selalu mempermainkan Persebaya.
Semua itu
hanya ujian sejarah yang tak sedikitpun mengendurkan dukungannya kepada
Persebaya. Kesetiaan yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.
Ia adalah
bonek yang sangat setia. Kesetiaan yang tak perlu diragukan lagi. Kesetiaan
yang sudah teruji berpuluh-puluh tahun lamanya. Hampir setiap pertandingan Persebaya,
ia tak pernah absen. Mulai dari pertandingan di Surabaya bahkan terkadang nekat
gembel untuk sekedar melihat pertandingan ke luar kota.
Kini hanya
karena, urung menonton pertandingan di televisi saja. Ia sangat kecewa dengan
keadaan yang terjadi. Segala ragam umpatan ala Suroboyo-an keluar merdu dari
mulutnya dengan nada syahdu: Cok, Gateli, dan sebangsanya, disertai makhorjiul
huruf dan tajwid yang benar nan begitu fasih.
Seolah-olah,
ia merasa tersiksa, terjajah, tertindas. Lebih dari itu, ia seperti merasakan
panasnya api neraka yang sungguh teramat nyata. Karena pertandingan sepak bola
yang ditunggu-tunggu, terganggu, urung ia tonton.
Mungkin,
ini sebuah gambaran nyata. Yang tak bisa dielakkan, juga tak etis bila diperdebatkan.
Cinta yang
teramat dalam terhadap apapun tanpa terkecuali, membuat orang susah
mengendalikan diri. Kadang Ia merasa kelewat bahagia. Kadang pula ia merasa
Sedih bukan kepalang.
Benar atau
salahkah, hal yang demikian? Itu bukan hal penting.
Tapi yang
pasti menyadur Panglima Tieng Feng alias Chu Pat Kai, "cinta deritanya
tiada akhir." Derita semacam itulah yang kini dirasakan. Derita yang tak
mampu ditangguhkan.
Jika hanya,
urung menonton pertandingan saja ia
sudah sangat kecewa, banyak mengeluarkan umpatan. Apalagi nanti, jika tahu tim
sepak bola kesayangannya itu kalah.
Bisa jadi,
bukan hanya umpatan ala Suroboyo-an yang keluar. Melainkan, segala nama hewan
di kebun binatang akan diperdendangkan.
Namun,
dibalik kekecewaan yang dirasakan. Ia ujug-ujug mendadak menjadi insan kritis .
Berupaya melakukan analisis. Mencari hubungan sebab-akibat. Untuk mengetahui
sebab musabab yang muskil terjadi.
Tak
ubahnya, ia mengamalkan ajaran Francis bacon, filsuf mashyur dari Inggris. Ia
memakai metode induksi untuk mengaitkan satu faktor dengan faktor lainnya.
Namun ilmu yang belum dipahami secara utuh. Malah membuatnya, berada pada
kesimpulan sesat dan cenderung mengatuk-gatukan semata. Lebih parahnya.
Ia berasumsi dengan ngawur untuk membentuk suatu hipotesis.
Listrik
padam, gerimis tak kunjung reda, menyebabkan
pertandingan Persebaya urung ditonton. Setelah diusut, ternyata ada
penyebab lain: ada tiang listrik yang
sedang diperbaiki petugas PLN.
"Petugas
PLN nya iku Arema mungkin, mangkanya lama sekali melakukan perbaikannya,"
Sembari memasang raut masam penuh curiga dan kecewa.
"Ndak
lah mas, ndak ada hubungannya itu."
"Lebih
baik smean berdoa, supaya Persebaya menang. Daripada nonton tapi kalah,
malah nesu smean nanti," Jawabku berupaya menenangkan
kebingungannya.
Namun, ia
terus menunggu, sembari ngedumel tiada henti"
Ia
berupaya keras menahan pemberontakan batin di dalam dirinya.
Terus
berharap agar listrik kembali nyala. Agar sesegera mungkin dapat menonton
pertandingan Persebaya melawan PSS Sleman Kembali.
Selang
beberapa waktu lisitrik telah kembali menyala. Ndilala, ia bablas dari
kamar ke ruang tamu, langsung menyalakan televisi.
Ternyata
yang terjadi, sungguh mama sayange. Pertandingan sudah memasuki babak ke
2 dan kurang 10 menit akan selesai. Persebaya kalah 1-0 dengan PSS Sleman.
Ia semakin
jatuh dalam jurang kekecewaan, terjerumus sesal teramat dalam.
Mungkin, Inilah
hikmah dibalik padamnya listrik.
Selain ujug-ujug
menjadi insan kritis. Ia terselamatkan dari gol menyakitkan PSS sleman, yang
hanya akan menambah luka hati, rasa sesal nan kecewa jika ditontonnya (sakit
hati yang teramat). Slurd
Pertandingan
yang menurutnya sangat penting menyangkut harga diri. kini membuatnya, ngedumel
sepanjang hari, lalu dihimpit oleh rasa khawatir dengan harapan yang sia-sia.
Dan
ternyata, Jian tenan. Segala nama hewan kebun binatang keluar
didendangkan.
Mas,
kuatno atimu wes ambyar sek amblas pisan. Hahahahaha

Tidak ada komentar:
Posting Komentar