Rabu, 14 April 2021

Hikmah di Balik Padamnya Listrik dan Kalahnya Persebaya

Sumber gambar: Lensa Purbalingga

Oleh: Udin Msu

Padamnya listrik dan gerimis yang tak kunjung reda. Membuat mas berteriak meronta-ronta. Menduga-duga mencari apa yang sebenarnya terjadi.

Ia begitu geram nan amat kesal, apa sebab?

Sebabnya, ia urung menonton pertandingan sepak bola di televisi, yang sudah dinanti-nanti beberapa hari.

Ia sangat menunggu tim sepak bola kesayangan yang juga teramat dicintainya berlaga. Ya, Pertandingan antara Persebaya dan PSS Sleman, dalam Liga Menpora yang sedang berlangsung.

Pertandingan yang sebenarnya, ndak penting-penting amat. Kalau dipikir-pikir. Menang atau pun kalah, Persebaya tetap lolos ke babak selanjutnya. Karena Persebaya berada di puncak klasemen grup c.

Namun pertimbangan semacam itu, ndak berlaku baginya. Seseorang yang sangat meyakini slogan NKRI Persebaya harga mati.

Ia sangat mencintai Persebaya sejak remaja hingga dirinya mulai menua. Tidak sedikitpun terbesit dalam benaknya ada tim lain yang membuatnya kepincut.

Walaupun ia menyadari, dahulu Persebaya pernah memasuki masa kegelapan: merosotnya prestasi Persebaya, dualisme internal, parahnya intrik politik sepak bola Indonesia yang selalu mempermainkan Persebaya.

Semua itu hanya ujian sejarah yang tak sedikitpun mengendurkan dukungannya kepada Persebaya. Kesetiaan yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas.

Ia adalah bonek yang sangat setia. Kesetiaan yang tak perlu diragukan lagi. Kesetiaan yang sudah teruji berpuluh-puluh tahun lamanya. Hampir setiap pertandingan Persebaya, ia tak pernah absen. Mulai dari pertandingan di Surabaya bahkan terkadang nekat gembel untuk sekedar melihat pertandingan ke luar kota.

Kini hanya karena, urung menonton pertandingan di televisi saja. Ia sangat kecewa dengan keadaan yang terjadi. Segala ragam umpatan ala Suroboyo-an keluar merdu dari mulutnya dengan nada syahdu: Cok, Gateli, dan sebangsanya, disertai makhorjiul huruf dan tajwid yang benar nan begitu fasih.

Seolah-olah, ia merasa tersiksa, terjajah, tertindas. Lebih dari itu, ia seperti merasakan panasnya api neraka yang sungguh teramat nyata. Karena pertandingan sepak bola yang ditunggu-tunggu, terganggu, urung ia tonton.

Mungkin, ini sebuah gambaran nyata. Yang tak bisa dielakkan, juga tak etis bila diperdebatkan.

Cinta yang teramat dalam terhadap apapun tanpa terkecuali, membuat orang susah mengendalikan diri. Kadang Ia merasa kelewat bahagia. Kadang pula ia merasa Sedih bukan kepalang.

Benar atau salahkah, hal yang demikian? Itu bukan hal penting.

Tapi yang pasti menyadur Panglima Tieng Feng alias Chu Pat Kai, "cinta deritanya tiada akhir." Derita semacam itulah yang kini dirasakan. Derita yang tak mampu ditangguhkan.

Jika hanya, urung  menonton pertandingan saja ia sudah sangat kecewa, banyak mengeluarkan umpatan. Apalagi nanti, jika tahu tim sepak bola kesayangannya itu kalah.

Bisa jadi, bukan hanya umpatan ala Suroboyo-an yang keluar. Melainkan, segala nama hewan di kebun binatang akan diperdendangkan.

Namun, dibalik kekecewaan yang dirasakan. Ia ujug-ujug mendadak menjadi insan kritis . Berupaya melakukan analisis. Mencari hubungan sebab-akibat. Untuk mengetahui sebab musabab yang muskil terjadi.

Tak ubahnya, ia mengamalkan ajaran Francis bacon, filsuf mashyur dari Inggris. Ia memakai metode induksi untuk mengaitkan satu faktor dengan faktor lainnya. Namun ilmu yang belum dipahami secara utuh. Malah membuatnya, berada pada kesimpulan sesat dan cenderung mengatuk-gatukan semata. Lebih parahnya. Ia berasumsi dengan ngawur untuk membentuk suatu hipotesis.  

Listrik padam, gerimis tak kunjung reda,  menyebabkan pertandingan Persebaya urung ditonton. Setelah diusut, ternyata ada penyebab  lain: ada tiang listrik yang sedang diperbaiki petugas PLN.

"Petugas PLN nya iku Arema mungkin, mangkanya lama sekali melakukan perbaikannya," Sembari memasang raut masam penuh curiga dan kecewa.

"Ndak lah mas, ndak ada hubungannya itu."

"Lebih baik smean berdoa, supaya Persebaya menang. Daripada nonton tapi kalah, malah nesu smean nanti," Jawabku berupaya menenangkan kebingungannya.

Namun, ia terus menunggu, sembari ngedumel tiada henti"

Ia berupaya keras menahan pemberontakan batin di dalam dirinya.

Terus berharap agar listrik kembali nyala. Agar sesegera mungkin dapat menonton pertandingan Persebaya melawan PSS Sleman Kembali.

Selang beberapa waktu lisitrik telah kembali menyala. Ndilala, ia bablas dari kamar ke ruang tamu, langsung menyalakan televisi.

Ternyata yang terjadi, sungguh mama sayange. Pertandingan sudah memasuki babak ke 2 dan kurang 10 menit akan selesai. Persebaya kalah 1-0 dengan PSS Sleman.

Ia semakin jatuh dalam jurang kekecewaan, terjerumus sesal teramat dalam.

Mungkin, Inilah hikmah dibalik padamnya listrik.

Selain ujug-ujug menjadi insan kritis. Ia terselamatkan dari gol menyakitkan PSS sleman, yang hanya akan menambah luka hati, rasa sesal nan kecewa jika ditontonnya (sakit hati yang teramat). Slurd

Pertandingan yang menurutnya sangat penting menyangkut harga diri. kini membuatnya, ngedumel sepanjang hari, lalu dihimpit oleh rasa khawatir dengan harapan yang sia-sia.

Dan ternyata, Jian tenan. Segala nama hewan kebun binatang keluar didendangkan.

Mas, kuatno atimu wes ambyar sek amblas pisan. Hahahahaha


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...