Oleh : Udin Msu
Hubungan kata dengan logika begitu erat, berjalan berkelindan beriringan, dan saling mengisi. Logika memberi makna kepada kata. Sedangkan kata membantu logika menyampaikan makna. Logika tanpa kata hanya sebatas makna di dalam kepala. Kata tanpa logika hanya sekedar bualan tanpa makna.
Misalnya, seorang politisi yang mengumbar janji pada saat kampanye, perempuan yang berbicara kepada pasangannya, terkadang kata-kata yang diucapkan tidak punya makna, bahkan sering kali kata-kata yang tanpa makna itu juga mengingkari ucapannya sendiri. Dan membuat pasanganya terluka. Agar mudah memahami hubungan kata dan logika terkait contoh sebelumnya, lirik lagu “Relung Hati,” di bawah ini dapat memberikan kemudahan untuk memahaminya.
Perlu kita renungkan arti
kesetiaan
Mungkinkah kau resapi dengan kejujuran
Karena semestinya kata kata cerminkan jiwa
Jangan coba engkau katakan lagi
Janji janji yang kadang kau ingkari
Sekarang saatnya engkau berhenti
Melukai relung hati
Lirik lagu relung hati “kata-kata semesitnya cerminkan jiwa” adalah salah satu contoh yang mengharuskan adanya makna pada suatu kata. Namun jika tidak, kata-kata itu hanya akan membuat luka pada beberapa orang yang mendengarnya terlebih orang yang pernah berharap dan mendengarkan janji tertentu. Contoh hubungan kata dan logika dapat ditemukan dalam banyak hal di dalam kehidupan personal dan sosial.
Kata mempunyai peranan penting bagi logika. Sebab unsur terkecil dalam logika “proposisi” yaitu kata. Logika berupaya mencari pengertian kata. Dan bertujuan menggunakan kata yang paling tepat untuk menyatakan argumentasi dan membuat definisi. Logika mengkaji kata berdasarkan tujuan dari logika itu sendiri. logika tidak mengulas kata lebih jauh seperti halnya dengan ilmu bahasa mengkaji kata dari segi yang lebih luas dan dalam.
Permasalahan yang kerap kali terjadi di ranah sosial, disebabkan karena adanya pengunaan kata yang kurang tepat saat seseorang berpendapat. Sehingga terkadang membuat beberapa orang berdebat kusir ataupun bahkan memancing keributan baik di dunia nyata dan dunia maya. Misalnya, di era banjir bandang informasi, ketika semua orang bebas berpendapat. Orang berpendapat tanpa mempertimbangkan kata-kata yang di lontarkan ke media. Terkhusus perkara politik. beberapa orang menolak demokrasi, tapi secara tanpa sadar dan diam-diam, malu-malu kucing menerima demokrasi dan mengikuti sistemnya.
Agar keributan tersebut tidak berumur panjang, dan terus lestari. Diperlukannya pemahaman dasar untuk berkata-kata berdasarkan logika. logika membagi tiga pembahasan yakni, berbagai macam pengertian kata, kata sebagai subjek atau predikat “term”, serta batas konotasi dan denotasi.
A. Berbagai macam kata
Kata mempunyai beragam pengertian. Tujuan adanya berbagai macam pengertian kata, agar kata dapat digunakan secara tepat. Berbagai macam pengertian kata ada 5:
1. Kata positif, negatif, privatif
Kata positif menunjukkan adanya keberadaan sesuatu atau adanya penegasan eksistensi. Contohnya, kaya artinya adanya harta, gemuk adanya daging, pintar adanya ilmu, pacaran adanya pasangan (bisa juga selingkuhan).
Kata negatif menunjukkan penegasian seperti kata: tidak, non, atau bukan. Contohnya, tidak gemuk, tak kurus, bukan pandai, bukan pacar (bisa juga teman tapi mesara)
Kata privatif menunjukkan tidak adanya sesuatu, bisa juga dipahami sebagai lawan dari kata positif. Contohnya, miskin tidak adanya harta, kurus tidak adanya daging, bodoh tidak adanya ilmu, jomblo tidak adanya pasangan atau pacar.
Namun, terkadang dalam pembicaraan masyarakat ada sebuah kesalahpahaman. Seperti tidak gemuk terkadang dipahami kurus, padahal tidak gemuk belum tentu kurus. Tidak gemuk bisa diartikan punya daging tapi tidak gemuk dan belum tentu kurus, tidak pandai belum tentu bodoh.
Dalam beberapa kata tertentu dapat diartikan kata negatif yang juga tergolong privatif Tidak kaya bukan berarti miskin, melainkan punya harta secukupnya belum pada tahap miskin. Sedangkan yang mutlak ialah jomblo pasti tidak punya pasangan dan mati pasti tidak hidup.
2. Universal, partikular, singular, kolektif
Kata yang mempunyai makna universal bersifat mengikat keseluruhan kata yang terkait di bawahnya tanpa terkecuali. Seperti, masjid, mobil, rumah, manusia, dan lain-lain. di maksud masjid adalah keseluruhan masjid tanpa terkecuali: Masjid Akbar, Masjid Ampel, Masjid Cengho, Masjid Serang, termasuk semua jenis masjid.
Kata yang mempunyai makna partikular bersifat mengikat bawahan, namun tidak mencakup keseluruhan bawahan atau anggota yang diikat. kata yang bermakna partikular juga bersifat membatasi. Seperti kata perempuan jika dibatasi dalam makna partikular menjadi: sebagian perempuan, beberapa perempuan, ada perempuan, tidak semua perempuan, sebagian kecil perempuan.
Kata yang mempunyai makna singular adalah lawan dari kata yang mempunyai makna universal. Jika dalam universal semua kata yang di bawahnya bersifat terikat tanpa terkecuali. Maka, kata singular hanya mengikat satu bawahan saja. kata yang mencakup singular dapat dipahami dari nama unik dan nama diri.
nama unik maksudnya nama yang mengacu pada identitas tertentu suatu objek. Misalnya, Presiden Pusat Stigma, Pelatih tim Persebaya, Wali Kota Surabaya, dan lain sejenisnya. Selain itu, kata yang mendapati keterangan ini atau itu. Contohnya, sepeda motor itu dan mobil ini. Walaupun sepeda motor dan mobil termasuk kata universal yang dapat mengikat bawahan yang sama, namun ketika mempunyai keterangan ini dan itu menunjukan satu sepeda motor dan mobil yang diacu.
Nama diri maksudnya nama seseorang atau tempat yang menjadi identitas. seperti, Dina, Erna, Rina, Irfan, Romi, Roni, Surabaya, Jombang dan Yogyakarta.
Kata yang mengandung pengertian kolektif mengacu pada suatu kelompok yang terikat berdasarkan tujuan,fungsi, kesepakatan tertentu. Seperti Pusat Stigma sebuah komunitas pemikiran dan kebudayaan mengikat sebagai suatu kelompok, namun tidak mengikat setiap individunya seperti makna kata universal.
3. Konkret dan abstrak
Kata yang mengandung makna konkret menunjukkan suatu benda atau objek yang kasat mata. Misalnya, pacar, mantan, selingkuhan, istri, buku, kitab, masjid, gereja, dan lain sejeninsya.
Kata yang mengandung makna abstrak mengacu pada kata sifat, keadaan, atau kegiatan yang terlepas dari objeknya. Misalnya, cemburu, patah hati, pandai, alim, kesetiaan, kejujuran, dan kebahagiaan.
Namun ada beberapa kata yang dapat dipahami secara konkret dan abstrak pada saat tertentu. Misalnya Jawa mengacu pada wilayah Jawa, namun jika dipahami Jawa sebagai lelaku ilmu, nilai filosofis, maka dapat digolongkan sebagai kata abstrak.
4. Mutlak dan relatif
kata yang mengandung makna mutlak apabila ia dapat dipahami dengan sendirinya tanpa membutuhkan bantuan keterangan atau hubungan terhadap kata tertentu untuk menjelaskan. Misalnya, bunga, foto, rumah, dan lain-lain.
kata yang mengandung makna relatif lawan dari kata yang mengandung makna mutlak. Ia baru dapat dipahami apabila membutuhkan kata tertentu untuk menjelaskan, misalnya, pacar, istri, ibu, dan lain sejensinya.
5. Univok, equivok, analog, dan ambigu
Kata yang mengandung satu makna disebut univok. kata yang tidak menyebabkan pembaca atau pendengar bingung. Misalnya, baju, celana, bola, kamar, dan sejenisnya.
Kata yang mengandung dua makna atau lebih dari satu makna disebut equivok. Misalnya, bisa, bunga, bulan, buku. Contoh kalimatnya Spongebob bisa mengalahkan Patrick dalam lomba memasak. Ular Kobra mempunyai bisa yang sangat beracun. Bukuku sedang dipinjam temanku. Temanku memberikan aku tebu satu buku. Bisa dan buku dalam dua kalimat tersebut dimaknai secara berbeda.
Kata yang mengandung makna kiasan atau kata yang berbeda dengan makna aslinya disebut makna analogi, namun mempunyai keterkaitan untuk menjelaskan dengan cara mengandaikan. Misalnya, banyak anggota DPR yang tertangkap basah melakukan korupsi, perempuan itu adalah bunga desa pada masanya. Kata basah dan bunga berbeda dengan makna aslinya. Namun mempunyai persamaan dalam pemahaman kata tersebut.
Kata yang mengandung makna lebih dari satu bahkan sering menyebabkan pendendgar atau pembaca mempunyai tafsir beragam untuk memahami kata yang ditujukan disebut ambigu. Sama halnya dengan kata demokrasi menurut Amerika berbeda dengan Indonesia, kata kebebasan bagi orang New York berbeda dengan orang Indonesia. Karena kata yang bermakna ambigu menyebabkan multi tafisr. Sehingga ketika menjelasakan diperlukan pemaparan lebih panjang dan jelas sesuai maksud pembicara ataupun penulis.
6. Bermakna dan tak bermakna
Kata dikatakan bermakna apabila mempunyai konotasi dan denotasi. Konotasi adalah sifat tertentu pada sebuah objek yang sudah dihadirkan jenis dan pembedanya, kemudian mengerti spesia (kelas, nau’). sedangkan denotasi berarti cakupan terhadap suatu objek yang didefinisikan. Misalnya, manusia genusnya (jenis, jins) termasuk hewan, manusia differentialnya (sifat pembeda, fasl) ialah keberpikirannya, maka manusia adalah hewan yang berpikir. Sehingga spesianya (kelas, nau’) termasuk manusia, bukan sapi, monyet, bebek, dan lain sejenisnya. Cakupan dari manusia, misalnya, Andi, Toriq, Yasin, dan lain sebagainya. Setiap kata mesti mempunyai konotasi dan denotasi, sehingg dapat menghasilkan yang bermakna. Kata yang tidak mempunyai salah satunya akan menghmbat kehamilan. Misalnya, kuda lumping walaupun pemahamannya dapat diketahui, namun denotasi atau cakupannya tidak ada.
B.B. Term: Kata Sebagai Predikat atau Subyek
Salah satu tujuan dari memplejari logika adalah untuk membuat definisi. Namun Sebelum membuat definisi ada beberapa pemahaman dasar yang mesti dipahami. Yakni, Selain pemahaman berbagai macam pengertian kata seperti yang dijelaskan di atas. Kata yang berfungsi sebagai predikat atau subjek dalam logika disebut term. Term berfungsi mengantarkan pemahaman seseorang pada sebuah cara membuat definisi.
Dalam logika ada lima term yang biasanya juga dikenal dengan sebutan al-Kulliyah al-Khamsah yaitu kelima term universal. Pembahasan term sangat membantu seseorang untuk membuat definisi.
1. Genus (jenis, jins)
Term Genus (jenis, jins) mempunyai bawahan yang berbeda-beda, namun terikat dalam satu kesamaan jenis atau sifat. Misalnya kambing, sapi, kera, manusia yang termasuk dalam satu jenis binatang karena mempunyai sifat kebinatangan. Jadi kata binatang adalah genus-nya. Jenis hanya memberikan sebagian penjelasan definisi yang belum sempurna.
Para ahli logika kuno membagi kenyataan dalam tiga jenis, yaitu jenis tinggi, jenis menengah, dan jenis rendah. Jenis tinggi adalah jenis yang paling tinggi mencakup segala jenis, tidak mempunyai jenis di atasnya, namun mempunyai tingkatan jenis di bawahnya. Jenis tinggi seperti substansi yang terbagi mahkluk berbentuk dan tidak berbentuk. Sedangkan jenis rendah adalah jenis yang mempunyai jenis di atasnya, namun tidak mempunyai jenis lain di bawahnya. Jenis rendah seperti hewan yang terbagi hewan berakal atau tida berakal, yakni manusia. Dan jenis menengah berada di antara jenis tinggi dan jenis rendah. Jenis yang mempunyai tingkatan jenis di atasnya dan tingkatan jenis di bawahnya. Seperti, benda berbentuk yang hidup dan tidak hidup, benda berbentuk yang hidup berindra dan tidak berindra.
2. Differential (sifat pembeda, fasl)
Differential (sifat pembeda, fasl) mempunyai peran penting sebagai term. Term ini, mencari perbedaan satu subjek dengan subjek lainnya. Subjek yang sebenarnya masih terikat pada satu jenis. Perbedaan antara manusia, sapi, kambing, dan kera terletak pada kemampuan berpikir. Sehingga manusia adalah hewan yang berpikir. Sifat berpikir inilah yang kemudian menjadi pembeda dari objek lainnya seperti sapi, kambing, dan kera.
3. Spesia (Kelas, Nau’)
Spesia (kelas, Nau’) term yang bertujuan untuk menggolongkan atau memasukkan obyek tertentu pada satu kelas yang berbeda. Spesia adalah akibat jenis yang sudah dihadirkan pembedanya. Maka, ketika kambing, sapi, kera, dan manusia termasuk jenis binatang. Tapi manusia mempunyai perbedaan karena kemampuan berpikirnya. Spesia dari kambing, sapi, kera, dan manusia bergantung perbedaan yang ditarik dari jenisnya. Contoh lain untuk memudahkan Spongebob, Patrick, Tuan Krab, Sandy sama-sama binatang yang hidup di laut. Jenisnya adalah binatang, dan differential dari spongebob adalah spon, sandy adalah tupai wanita, patrik adalah bintang laut, dan tuan krab adalah kepiting. Maka spesianya adalah spongebob, patrick, sandy, dan tuan krab.
4. Propria (sifat khusus, Al-khassah)
Propria (sifat Khusus, Al-Khassah) adalah term yang mengacu pada spesia yang disebabkan oleh jenis yang dihadirkan pembedanya atau bisa dikatakan sebagai sifat dekat. Manusia adalah spesia. Sifat kebinatangan dari manusia adalah jenis. Dan kemampuan berpikir manusia adalah pembeda. Karena manusia adalah binatang berpikir. ia dapat beragama, berkeluarga, berbudaya. Semua itu termasuk sifat khusus dari manusia.
5. Accidentia (sifat umum, al-a’rad)
Accidentia (sifat umum, al-a’rad) merupakan term kebalikan dari Propria yang diartikan sebagai sifat khusus atau dekat. Sedangkan Accidentia merupakan sifat umum atau jauh. Sifat yang tidak bernilai penting bagi subjek tertentu seperti manusia, yakni, makan, belanja, gemuk, tidur, selingkuh, dan nikung.
C. C. Konotasi dan Denotasi serta
batas-batasnya
Agar setiap kata mempunyai makna, maka ia mesti mempunyai konotasi dan denotasi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Konotasi dan Denotasi mempunyai batasan. Batasan tersebut saling terkait. Batasan antara konotasi dan denotasi terletak pada spesia, dan mempunyai hukum tertentu. Lebih jelasnya maksud batasan antara konotasi dan denotasi, berikut penjelasan:
1. Batas Konotasi
Batas konotasi berada pada spesia atau kelas yang mengacu pada jenis yang dihadirkan pembedanya. Sehingga dengan batas konotasi ada perbedaan antara satu subjek dengan subjek yang lainnya. seperti sapi, kambing, kera, manusia, mantan, pacar, sahabat, saudara.
Konotasi atau yang disebut mahfum hanya mengantarkan seseorang pada pengertian suatu objek tertentu.
2. Batas Denotasi
Batas denotasi sama halnya dengan batas konotasi, keduanya mengacu pada spesia. Jika batas konotasi mengantarkan pada pemahaman tertentu pada suatu objek. Maka batas denotasi mengantarkan pemahaman pada cakupan objek tertentu. Seperti manusia yang batas konotasinya adalah binatang yang berpikir, pada batas denotasinya manusia yang mencakup atau masodak objek tertentu seperti Dina, Erna, Rina, Irfan, Romy dan Romy.
Batas konotasi dan denotasi mempunyai hukum perbandingan. Jika semakin bertambah konotasi atau pemahaman pada objek tertentu maka semakin sempit batas denotasi yang mencakup suatu objek. Sedangkan jika berkurang batas konotasi pada ojek tertentu maka semakin luas batas denotasi yang mencakup suatu objek.
Hukum perbandingan itu terjadi apabila, term yang mengacu pada batas konotasi, bukan term khusus atau unik atau kata yang mengacu pada identitas tertentu. Seperti Jembatan Merah di Surabaya, Semeru yang meskipun jika konotasinya bertambah Semeru gunung tertinggi di jawa timur tidak akan merubah batas denotasi. Selain itu, tambahan pada term tidak boleh bersifat khusus. Contohnya, manusia sebagai binatang yang berpikir mempunyai kemampuan untuk merekayasa kebudayaan. Hal semacam itu tidak akan dapat mengakibatkan perubahan. Hukuman perbandinga terbalik hanya mengacu pada konotasi saja, bukan pada denotasi. Konotasi sebagai variabel independen, sedangkan denotasi sebagai varibel dependen. Terkahir, perbandingan hanya bisa terjadi jika term universal dibagi secara menurun
D. D. Kesimpulan
Memahami hubungan kata dengan logika sangat membantu untuk membuat argumentasi dan definisi. Terutama dalam menyusun definisi ada beberapa syarat tertentu yang mesti dijadikan prinsip dasar. Dan ada beberapa pengertian mendasar yang harus dipahami sebelum mendefinisikan. Pengertian dasar itu berupa berbagai macam pengertian kata, yang terdiri dari 5 pengertian kata sesuai pembagian yang dijelaskan di atas. Selain itu prinsip dasar yang diacu untuk mendefiniskan yakni, al-kulliyah al-Khamsah atau kelima term universal dan juga harus mengikuti batas-batas konotasi serta denotasi.
Tanpa ada pemahaman mendasar dan prinsip yang menjadi syarat tertentu. Definisi tidak akan tersusun sesuai dengan kaidah logika yang benar. Sebagaimana halnya tujuan definisi ialah pengertian suatu objek atau subjek tertentu dengan benar, jelas, tepat, dan singkat, yang dapat membedakan suatu objek atau subjek dengan obbjek atau subjek lainnya.
Refrensi:
Mundiri. 2011. Logika. Rajawali Pers: Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar