Oleh: Udin Msu
Mojok kini, telah berhasil menjadi salah
satu media yang digandrungi banyak kawula muda. Dari Media yang lahir pada 28
Agustus 2014 dengan tujuan senang-senang belaka. Media yang dikira abal-abal.
Telah melesat jauh tanpa disangka, bahkan oleh para krunya sendiri. Menjelma
menjadi media profesional, mampu sejajar dengan media besar yang lebih bermodal
dan beranggotakan banyak. Sesuatu, ujar Syahrini.
Keberhasilan Mojok tidak lain, disebabkan
karena Mojok memiliki ciri khas tersendiri. Saban hari, Mojok mampu menghadirkan
tulisan-tulisan yang dapat menyegarkan sidang pembaca. Bukan tanpa sebab
tentunya, Mojok dikenal dengan tulisan yang satire, lucu, menohok, dan
punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan media mainstream lainnya.
Buku berjudul “Mojok Tentang Bagaimana
Media Kecil Lahir, Tumbuh, Dan Mencoba Bertahan,” berisikan ulasan dapur media
Mojok dengan seluk beluk dan rekam jejak yang penuh akrobat. Pernah membuat
para pembacanya patah hati karena pamit tutup, undur diri 28 Maret 2017, vakum
selama 2 bulan. Dan kemudian lahir kembali, berkat sokongan dari Tirto.id
karena kekerabatan.
Buku ini, berisikan rampai tulisan dari 12
kru Mojok.co yang tediri dari: Puthut Ea selaku Kepala Suku, Arlian Buana, Edward
S. Kennedy (Panjul), Agus Mulyadi (Gus Mul), selaku Mantan Pimred. Ahmad
Khadafi, Aprilia Kumalasari sebagai redaktur, Ega Fansuri, Rean Aqila sebagai
ilustrator, Doni Isywara sebagai admin medsos, Muhamad Ali Ma’ruf sebagai videografer,
Aditya Rizki sebagai web master, dan terakhir Nia Liviana sebagai sekred.
Lahirnya buku ini menyambut usia Mojok.co
ke 5 th pada 28 Agustus 2019. Buku setebal XVI+136 halaman dan diterbitkan Buku Mojok sendiri, banyak mengulas
tentang Mojok: mulai dari segi kepenulisan, ilustrator, media sosial, web
site, dan runtutan kisah Mojok.co sedari awal hingga saat ini.
Pengalaman Kru Mojok
Puthut Ea memulai buku ini dengan kata
pengantar yang jujur. Di balik perjalanan Mojok yang terlihat senang-senang
semata, sebenarnya para kru mempunyai tantangan melawan kebosanan. “Tulisan ini
semoga bisa sampai kepada pembaca bahwa mengelola sebuah media yang sepertinya
disukai banyak orang, di baliknya ada para kru yang manusia biasa, yang bisa
bosan, bisa letih, dan bisa tak tahu sampai dimana ini semua akan berakhir”
(hal xi). Selain itu, Puthut Ea juga mendaku, tujuan media Mojok.co sampai saat
ini terus dalam proses pencarian. Bergelut dengan rasa bosan dalam sebuah
pencarian panjang di atas kapal kecil bernama Mojok, yang belum tahu tujuanya.
Berlanjut tulisan Bagian I yang berisikan
pengalaman para pimpinan redaksi Mojok dengan judul “Kata Pimred Mojok.”
Ditulis oleh, Arlian Buana, Edward S.Kennedy (Panjul), dan Agus Mulyadi (Gus
Mul).
Arlian Buana menuturkan tulisannya
berdasarkan pengalaman dan, ia banyak berterimakasih terutama kepada Puthut Ea
dan terkhusus kepada Mojok. sebelum akhirnya harus hijrah ke Jakarta meninggalkan
Mojok. Dan bergabung dengan Tirto.Id. Sedangkan, Edward. S. Kennedy (Panjul) sama
halnya dengan Arlian Buana yang pada akhirnya juga hijrah ke Jakarta, untuk
bergabung dengan Kumparan .
Jika mereka berdua pergi, Agus Mulyadi (Gus
Mul) tetap setia singgah di Mojok. Persimpangannya dengan Mojok membuat
dunianya beranjak membaik. Ia yang mulanya madesu (masa depan suram), jomblo
kadaluarsa, berbalik menjadi lelaki mapan, masa depan cerah, penuh harapan. Ia
mendapatkan banyak hal: ketenaran, uang, hingga pasangan. Semuanya di dapatkan
dari Mojok. Kurang apa coba? Cuok bejo tenan Gus Mul, ancene.
Pada bagian II “Dapur Redaksi Mojok”
berisikan tulisan pengalaman para redaktur: Ahmad Khadafi dan Aprilia Kumala.
Ahmad Khadafi dalam tulisannya menjelaskan,
teori kepenulisan Mojok generasi pertama, yang baru saja ia sadari setelah 4
kali tulisannya ditolak. Membuatnya menemukan teori dalam menulis, “Kamu harus
menulis ide yang keluar sekali tebas,” (hlm 40). Tulisan yang harus selesai
tanpa ditunda-tunda yang dapat menjadi pertimbangan bagi siapa saja yang hendak
mengirimkan tulisannya ke Mojok.
Aprilia Kumala beranggapan Mojok bukan
sekedar tempat kerja pada lazimnya. Lebih dari itu, Mojok selayaknya keluarga, apalagi
saat Aprilia Kumala yang mengisahkan, ia diberi izin satu minggu karena patah
hati. Ia merasa, Mojok mampu membuatnya untuk terus berkembang menjadi lebih
baik.
Pada bagian III dan IV mempunyai hubungan
yang saling mengisi. Jika di bagian III mengulas “Ramuan Visual Mojok, maka di
bagian IV membahas “Eksistensi Mojok di Media Sosial.” keterhubungan tertelak
di balik kekompakan dan kerja sama antar kru yang mengisi tim medsos.
Ega Fansuri dan Rean Aqila di bagian III menjelaskan
Ilustrator dengan karakter gambar yang berbeda satu sama lain, saling
melengkapi. Sedangkan di bagian IV membahas eksistensi mojok di medsos. Berkat
Doni Iswara yang telaten dan kompeten, Medsos Mojok seperti Twitter, Instagram,
dan Facebook, semakin berkembang pesat. Ditambah Muhammad Ali Ma’ruf sebagai
videografer dengan segala keterbatasan fasilitas yang mampu melihat relevansi dan
kemungkinan untuk terus menyelesaikan tugasnya di Mojok, menghasilkan banyak
video di Youtube.
Dalam Bagian V “Di Balik Keredaksian
Mojok dan Redaktur Mojok” yang ditulis Rizky Aditya dan Nia Liviana menuturkan
beberapa hal penting yang patut untuk dipahami Jama’ah Mojok’iyah, selain dari
beberapa bagian di atas tadi.
Rizky Aditya sebagai web master
memberikan penjelasan dibalik pergantian logo yang dulu berwarna-warni menjadi
berwarna kuning emas. Warna dengan visi Mojok ke depan agar semakin mengilap,
semakin dikenal, dan semakin dicintai, oleh para pembacanya (hlm 119).
Nia Lavinia sebagai garda terdepan yang
punya andil besar untuk menerima atau menolak suatu tulisan. Memberikan ulasan kepada
para calon kontributor Mojok. Pertama, meskipun berjibun-jibun tulisan di kirim,
jika tidak memenuhi standar Mojok atau mengalami perkembangan yang membaik,
tulisan tersebut tidak akan diterima. Kedua, tulisan tidak perlu ndakik,
terlalu filosofis, bersandarkan pada refrensi berat dengan gaya yang teramat
serius, ketiga tulisan yang lahir dari pengalaman sendiri akan sangat dihargai
karena nilainya yang otentik. Terakhir agar tidak selalu dipahami, tulisan
tidak Mojok tidak harus lucu.
Mojok: Sedikit Kurangnya Banyak Lebihnya
Dari ulasan singkat sebelumnya. Buku ini
mempunyai kelebihan, karena di tulis oleh para awak Mojok Sendiri. Dengan
pengalaman yang didapatkan, kemudian dituliskan. Kita dapat mengerti perubahan,
perkembangan, perjalanan Mojok. Terlebih bagi pembaca setia yang ingin menjadi
kontributor, bahkan jika memendam harapan menjadi kru Mojok. Huhuhuhu (ngarep).
Kelemahan buku tersebut, tidak memberikan
penjelasan mendalam yang runtut, dari sisi bidang yang diampuh oleh para kru. Terlebih
buku ini, hanya memberikan penjelasan berdasarkan pengalaman semata. Bukan
berdasarkan keilmuan mendalam yang pasti dimiliki para kru.
Namun, hal itu bukan menjadi permasalahan
penting. Karena Puthut Ea sudah menjelaskan pada kata pengantar, buku tipis
yang ditulis para kru masih ada ruang kosong dan bolong, selain itu Arlian
Buana, juga memberikan tawaran bagi siapapun yang ingin menulis Mojok dalam
satu buku utuh. Hematnya, Mojok adalah media yang sedikit kurangnya banyak
lebihnya.
Buku ini sangat layak bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang sangat
penasaran dan ingin tahu mengenai Mojok. Sama halnya dengan mereka yang tidak
mampu menahan rasa penasaran, kepada pasangan tapi juga kepada ilmu
pengetahuan. Buku yang memberikan penjelasan tentang Mojok. Sedari awal,
berdinamika, terus berkembang, mampu bertahan.
Semoga Mojok, semakin berdaulat, setia menjaga akal sehat jama'ah mojok'iyah.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus🔥🔥🔥
BalasHapus