Selasa, 06 April 2021

Perjalanan Mojok Sedari Awal dan Seluk Beluknya

 

Sumber Gambar: https://bukumojok.com/product/mojok-tentang-bagaimana-media-kecil-lahir-tumbuh-dan-mencoba-bertahan/

Oleh: Udin Msu

Mojok kini, telah berhasil menjadi salah satu media yang digandrungi banyak kawula muda. Dari Media yang lahir pada 28 Agustus 2014 dengan tujuan senang-senang belaka. Media yang dikira abal-abal. Telah melesat jauh tanpa disangka, bahkan oleh para krunya sendiri. Menjelma menjadi media profesional, mampu sejajar dengan media besar yang lebih bermodal dan beranggotakan banyak. Sesuatu, ujar Syahrini.

Keberhasilan Mojok tidak lain, disebabkan karena Mojok memiliki ciri khas tersendiri. Saban hari, Mojok mampu menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat menyegarkan sidang pembaca. Bukan tanpa sebab tentunya, Mojok dikenal dengan tulisan yang satire, lucu, menohok, dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan media mainstream lainnya.

Buku berjudul “Mojok Tentang Bagaimana Media Kecil Lahir, Tumbuh, Dan Mencoba Bertahan,” berisikan ulasan dapur media Mojok dengan seluk beluk dan rekam jejak yang penuh akrobat. Pernah membuat para pembacanya patah hati karena pamit tutup, undur diri 28 Maret 2017, vakum selama 2 bulan. Dan kemudian lahir kembali, berkat sokongan dari Tirto.id karena kekerabatan.

Buku ini, berisikan rampai tulisan dari 12 kru Mojok.co yang tediri dari: Puthut Ea selaku Kepala Suku, Arlian Buana, Edward S. Kennedy (Panjul), Agus Mulyadi (Gus Mul), selaku Mantan Pimred. Ahmad Khadafi, Aprilia Kumalasari sebagai redaktur, Ega Fansuri, Rean Aqila sebagai ilustrator, Doni Isywara sebagai admin medsos, Muhamad Ali Ma’ruf sebagai videografer, Aditya Rizki sebagai web master, dan terakhir Nia Liviana sebagai sekred.

Lahirnya buku ini menyambut usia Mojok.co ke 5 th pada 28 Agustus 2019. Buku setebal XVI+136 halaman dan diterbitkan Buku Mojok sendiri, banyak mengulas tentang Mojok: mulai dari segi kepenulisan, ilustrator, media sosial, web site, dan runtutan kisah Mojok.co sedari awal hingga saat ini.

Pengalaman Kru Mojok

Puthut Ea memulai buku ini dengan kata pengantar yang jujur. Di balik perjalanan Mojok yang terlihat senang-senang semata, sebenarnya para kru mempunyai tantangan melawan kebosanan. “Tulisan ini semoga bisa sampai kepada pembaca bahwa mengelola sebuah media yang sepertinya disukai banyak orang, di baliknya ada para kru yang manusia biasa, yang bisa bosan, bisa letih, dan bisa tak tahu sampai dimana ini semua akan berakhir” (hal xi). Selain itu, Puthut Ea juga mendaku, tujuan media Mojok.co sampai saat ini terus dalam proses pencarian. Bergelut dengan rasa bosan dalam sebuah pencarian panjang di atas kapal kecil bernama Mojok, yang belum tahu tujuanya.

Berlanjut tulisan Bagian I yang berisikan pengalaman para pimpinan redaksi Mojok dengan judul “Kata Pimred Mojok.” Ditulis oleh, Arlian Buana, Edward S.Kennedy (Panjul), dan Agus Mulyadi (Gus Mul).

Arlian Buana menuturkan tulisannya berdasarkan pengalaman dan, ia banyak berterimakasih terutama kepada Puthut Ea dan terkhusus kepada Mojok. sebelum akhirnya harus hijrah ke Jakarta meninggalkan Mojok. Dan bergabung dengan Tirto.Id. Sedangkan, Edward. S. Kennedy (Panjul) sama halnya dengan Arlian Buana yang pada akhirnya juga hijrah ke Jakarta, untuk bergabung dengan Kumparan .

Jika mereka berdua pergi, Agus Mulyadi (Gus Mul) tetap setia singgah di Mojok. Persimpangannya dengan Mojok membuat dunianya beranjak membaik. Ia yang mulanya madesu (masa depan suram), jomblo kadaluarsa, berbalik menjadi lelaki mapan, masa depan cerah, penuh harapan. Ia mendapatkan banyak hal: ketenaran, uang, hingga pasangan. Semuanya di dapatkan dari Mojok. Kurang apa coba? Cuok bejo tenan Gus Mul, ancene.

Pada bagian II “Dapur Redaksi Mojok” berisikan tulisan pengalaman para redaktur: Ahmad Khadafi dan Aprilia Kumala.

Ahmad Khadafi dalam tulisannya menjelaskan, teori kepenulisan Mojok generasi pertama, yang baru saja ia sadari setelah 4 kali tulisannya ditolak. Membuatnya menemukan teori dalam menulis, “Kamu harus menulis ide yang keluar sekali tebas,” (hlm 40). Tulisan yang harus selesai tanpa ditunda-tunda yang dapat menjadi pertimbangan bagi siapa saja yang hendak mengirimkan tulisannya ke Mojok.

Aprilia Kumala beranggapan Mojok bukan sekedar tempat kerja pada lazimnya. Lebih dari itu, Mojok selayaknya keluarga, apalagi saat Aprilia Kumala yang mengisahkan, ia diberi izin satu minggu karena patah hati. Ia merasa, Mojok mampu membuatnya untuk terus berkembang menjadi lebih baik.

Pada bagian III dan IV mempunyai hubungan yang saling mengisi. Jika di bagian III mengulas “Ramuan Visual Mojok, maka di bagian IV membahas “Eksistensi Mojok di Media Sosial.” keterhubungan tertelak di balik kekompakan dan kerja sama antar kru yang mengisi tim medsos.

Ega Fansuri dan Rean Aqila di bagian III menjelaskan Ilustrator dengan karakter gambar yang berbeda satu sama lain, saling melengkapi. Sedangkan di bagian IV membahas eksistensi mojok di medsos. Berkat Doni Iswara yang telaten dan kompeten, Medsos Mojok seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, semakin berkembang pesat. Ditambah Muhammad Ali Ma’ruf sebagai videografer dengan segala keterbatasan fasilitas yang mampu melihat relevansi dan kemungkinan untuk terus menyelesaikan tugasnya di Mojok, menghasilkan banyak video di Youtube.

Dalam Bagian V “Di Balik Keredaksian Mojok dan Redaktur Mojok” yang ditulis Rizky Aditya dan Nia Liviana menuturkan beberapa hal penting yang patut untuk dipahami Jama’ah Mojok’iyah, selain dari beberapa bagian di atas tadi.

Rizky Aditya sebagai web master memberikan penjelasan dibalik pergantian logo yang dulu berwarna-warni menjadi berwarna kuning emas. Warna dengan visi Mojok ke depan agar semakin mengilap, semakin dikenal, dan semakin dicintai, oleh para pembacanya (hlm 119).

Nia Lavinia sebagai garda terdepan yang punya andil besar untuk menerima atau menolak suatu tulisan. Memberikan ulasan kepada para calon kontributor Mojok. Pertama, meskipun berjibun-jibun tulisan di kirim, jika tidak memenuhi standar Mojok atau mengalami perkembangan yang membaik, tulisan tersebut tidak akan diterima. Kedua, tulisan tidak perlu ndakik, terlalu filosofis, bersandarkan pada refrensi berat dengan gaya yang teramat serius, ketiga tulisan yang lahir dari pengalaman sendiri akan sangat dihargai karena nilainya yang otentik. Terakhir agar tidak selalu dipahami, tulisan tidak Mojok tidak harus lucu.

Mojok: Sedikit Kurangnya Banyak Lebihnya

Dari ulasan singkat sebelumnya. Buku ini mempunyai kelebihan, karena di tulis oleh para awak Mojok Sendiri. Dengan pengalaman yang didapatkan, kemudian dituliskan. Kita dapat mengerti perubahan, perkembangan, perjalanan Mojok. Terlebih bagi pembaca setia yang ingin menjadi kontributor, bahkan jika memendam harapan menjadi kru Mojok. Huhuhuhu (ngarep).

Kelemahan buku tersebut, tidak memberikan penjelasan mendalam yang runtut, dari sisi bidang yang diampuh oleh para kru. Terlebih buku ini, hanya memberikan penjelasan berdasarkan pengalaman semata. Bukan berdasarkan keilmuan mendalam yang pasti dimiliki para kru.

Namun, hal itu bukan menjadi permasalahan penting. Karena Puthut Ea sudah menjelaskan pada kata pengantar, buku tipis yang ditulis para kru masih ada ruang kosong dan bolong, selain itu Arlian Buana, juga memberikan tawaran bagi siapapun yang ingin menulis Mojok dalam satu buku utuh. Hematnya, Mojok adalah media yang sedikit kurangnya banyak lebihnya.

Buku ini sangat layak bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang sangat penasaran dan ingin tahu mengenai Mojok. Sama halnya dengan mereka yang tidak mampu menahan rasa penasaran, kepada pasangan tapi juga kepada ilmu pengetahuan. Buku yang memberikan penjelasan tentang Mojok. Sedari awal, berdinamika, terus berkembang, mampu bertahan.

Semoga Mojok, semakin berdaulat, setia menjaga akal sehat jama'ah mojok'iyah.


 

2 komentar:

Stigma

Sejarah Hadirnya Ilmu Logika: Dari Yunani, Islam, Hingga Eropa

Oleh: Udin Msu A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani Kehadiran ilmu mantiq berawal dari sikap para bijak-bestari di Yunani. Sang Syahid Soc...